Dorong Pemuda Jadi “Job Creator”, Prodi Kewirausahaan UWM Yogyakarta Gelar Pelatihan Business Model Canvas Di Bantul

Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan di Dusun Gesikan, RT 04, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul pada Selasa (25/8/2026).

Warta Kita.org – Menghadapi tantangan pasar kerja yang kompetitif dan tingginya angka pengangguran, pergeseran pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) sangat dibutuhkan oleh generasi muda saat ini.

Mengakomodasi hal tersebut, Program Studi (Prodi) Kewirausahaan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan dengan tema “Muda Berkarya, Bisnis Terencana: Wujudkan Ide Kreatif dalam Satu Lembar Business Model Canvas” di Dusun Gesikan, RT 04, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul pada Selasa (25/8/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh 11 orang anggota organisasi pemuda setempat, dengan narasumber utama Ketua Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram Yogyakarta Utami Tunjung Sari, S.E., M.Sc.

Dalam pemaparannya, Utami menjelaskan bahwa masa muda merupakan waktu yang sangat ideal untuk melatih keterampilan kewirausahaan guna membangun kemandirian ekonomi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset) yang menuntut pemuda untuk kreatif, inovatif, dan berani mengambil risiko.

Untuk mewujudkan ide kreatif menjadi bisnis yang terencana dan konkret, peserta diperkenalkan pada konsep Business Model Canvas (BMC). BMC adalah alat visual strategis untuk merancang, menggambarkan, menganalisis, dan mengembangkan model bisnis yang diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur.

“Sederhananya, BMC adalah peta yang menggambarkan bagaimana sebuah bisnis bekerja,” jelas Utami.

Utami menambahkan, alat ini memetakan tiga alur utama bisnis, yakni menciptakan nilai manfaat bagi pelanggan (create value), menyampaikan produk/jasa kepada pelanggan (deliver value), dan menangkap nilai tersebut menjadi pendapatan (capture value).

Utami dalam pemaparan materinya juga menggunakan studi kasus “GreenBite”, sebuah bisnis makanan sehat, peserta diajarkan bagaimana menghubungkan masalah spesifik yang dialami pelanggan dengan solusi tepat sasaran.

Dalam kesempatan ini, peserta mempelajari langkah demi langkah, mulai dari menentukan segmen pelanggan, proporsi nilai, saluran distribusi (channels), hubungan pelanggan, arus pendapatan, sumber daya utama, aktivitas utama, kemitraan, hingga struktur biaya.

“Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan ini, diharapkan pemuda di wilayah Gesikan dapat mulai membangun kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan pada lapangan kerja formal, dan merintis usaha inovatif yang terencana dengan matang,” ucap Utami.

Pos terkait