WartaKita.org – Sebagian besar petani padi di Indonesia belakangan ini bersedih karena berbagai permasalahan yang dialaminya.
Permasalahan itu menyangkut penggunaan (dan dampak dari) pupuk kimia, hama dan penyakit, produktifitas dan kualitas gabah yang menurun, panen tidak terbeli atau harga yang sangat murah, dan sebagainya.
Pernyataan ini disampaikan Peneliti Senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Ris. Dr. Ir. AYPBC Widyatmoko, M.Agr pada acara Gathering Pusdes (Puskestan Desa) dan calon Pusdes se Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten di Balai Desa Nglinggi, Sabtu (16/7/2022).
“Berbagai permasalahan itu membuat biaya produksi meningkat dan hasil pertanian tak bisa diharapkan. Sehingga ada istilah di kalangan petani, isoh bakbok wis beja (bisa kembali modal saja sudah bersyukur),” katanya.
Profesor Widyatmoko menyatakan, sebenarnya harapan petani itu sederhana, yaitu ora mumet entuk bathi (tidak pusing dapat untung). Karena itu, permasalahan utama yang dialami petani ini harus harus dicarikan solusinya.
Menurutnya, sebagian besar tanah (lahan pertanian) di Indonesia sekarang ini sudah tidak sehat. Filosofi Jawa dalam bertani yaitu siti (tanah), wiji (benih), wanci (musim tanam), dan pangrukti (merawat) sudah ditinggalkan petani. Akibatnya, tanah menjadi tidak sehat.
“Padahal, tanah itu harus dirawat agar tetap menghasilkan panenan yang baik, sehingga petani bisa sejahtera,” ujarnya.
Widyatmoko menyatakan, untuk mewujudkan harapan petani agar hidupnya kembali sejahtera, maka tanah yang ada harus disehatkan kembali.
“Dulu, ada kebiasaan yang baik yang dilakukan petani, yaitu memberikan dedaunan di lahan persawahan. Sawah diberi pupuk dari daun yang gogrok (jatuh) dengan sendirinya. Karena dari berbagai penelitian disebutkan bahwa pupuk terbaik di seluruh dunia adalah humus,” terangnya.
Berangkat dari berbagai keprihatinan yang dialami para petani ini, maka Profesor Widyatmoko bersama istri (drg Novi) dan anaknya (dr Philip Avianto) mendirikan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan). Puskestan ini hadir untuk memberi solusi atas berbagai permasalahan yang dialami petani.
Dan agar pendampingan kepada petani ini bisa menjangkau sampai akar rumput, maka dibentuklah Puskestan Tingkat Desa (PusDes). PusDes ini dikelola oleh petani itu sendiri.
Tugas Puskestan Tingkat Desa adalah pertama, memajukan pertanian desa dengan jangkauan petani-petani di desa tersebut. Kedua, mengadakan sosialisasi. Ketiga, bertanggung jawab terhadap distribusi pupuk Komsah (Pupuk Organik Berbasis Seresah) dan pembayaran oleh petani binaan. Keempat, melakukan pendampingan secara aktif dan sesuai SOP (standar operasional prosedur) kepada petani binaan sampai panen. Dan kelima, melaporkan perkembangan dan permasalahan petani binaan secara aktif melalui grup media sosial yang dibentuk.

Widyatmoko menambahkan, ada berbagai keuntungan yang diterima petani padi yang mau bergabung dengan Puskestan dan mau menggunakan pupuk Komsah. Keuntungannya yaitu satu, biaya yang dikeluarkan sampai panen lebih sedikit. Dua, hasil yang diperoleh lebih banyak. Tiga, tidak pusing pupuk kimia dan serangan hama atau penyakit. Empat, hasil panen mudah dijual. Dan lima, didampingi dari tanam hingga panen.
“Bagi anggota Puskestan, pembayaran paket pupuk Komsah ini dapat dilakukan secara cash (tunai), Yarnen (bayar setelah panen), dan Yarnen plus (yaitu dibayar setelah panen dan gabahnya dibeli),” tandasnya.
Widyatmoko mengemukakan, syarat utama menuju petani sejahtera adalah jika tanah pertanian itu sehat. Karenanya, untuk mengembalikan kesehatan tanah, petani bisa menggunakan pupuk Komsah, emas hitam pembenah tanah. Pupuk Komsah adalah solusi petani untuk hidup sejahtera.
“Pupuk Komsah bisa memperbaiki PH tanah, menurunkan penggunaan pupuk kimia, sehingga tanah menjadi sehat. Tak hanya itu, dengan bergabung di Puskestan, petani akan didampingi, diberikan solusi, sehingga hasil panenan akan lebih baik,” paparnya.
Kegiatan Gathering Pusdes dan calon Pusdes ini disambut baik oleh Kepala Desa (Kades) Nglinggi Sugeng Mulyadi.
“Saya menyambut baik dan berterima kasih kepada Prof Wiwid yang dengan akademisinya, ilmunya, apa yang telah dipelajari dan diteliti disumbangkan untuk bidang pertanian. Untuk meningkatkan ketahanan pangan, untuk keberlangsungan ketersediaan pangan, dan juga menumbuhkan semangat petani untuk melakukan produksi pertanian dengan upaya-upaya menyehatkan kondisi tanah, sehingga mengurangi pupuk kimia, dan hasilnya akan lebih baik karena dengan biaya operasional yang lebih sedikit,” ucapnya.
Sugeng Mulyadi berharap, dengan model bertani yang dikembangkan Prof Widyatmoko seperti ini diharapkan dunia pertanian di Indonesia kembali jaya seperti semula.
“Artinya, dengan hasil pertanian sekali panen, sudah bisa dirasakan untuk beberapa waktu. Maka saya mengapresiasi kepada Prof Wiwid yang punya kepedulian tinggi kepada petani. Terlebih di saat subsidi pupuk kimia yang semakin dikurangi dan munculnya berbagai masalah pertanian lainnya,” ucapnya.









