Memetik Pembelajaran Dari Pandemi Tentang Kepemimpinan

Januari Ayu Fridayani

MASA PANDEMI Covid-19 senantiasa membawa pengalaman dan pembelajaran bagi setiap aspek kehidupan.

Perubahan yang begitu cepat mengenai arus informasi dari berbagai belahan dunia memaksa organisasi untuk menanggapinya dengan cepat tanggap pula.

Bacaan Lainnya

Peran pimpinan organisasi sangat penting dan krusial dalam masa krisis tersebut.

Kini, kondisi pandemi sudah berangsur pulih. Masyarakat dunia sudah mulai bangkit perlahan menuju masa endemi Covid-19.

Namun daya juang pimpinan pada saat krisis sangat baik untuk tetap dijaga, bahkan dilestarikan dalam mengelola organisasi. Karena sejatinya, tanpa pandemi, kita tengah berada di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity).

Kehadiran pandemi menjadi akselerasi untuk kita benar-benar bergerak dan menyadari hal tersebut.

Tulisan ini akan menyoroti tiga aspek penting yang dijiwai oleh pemimpin dalam masa pandemi dan sangat baik untuk terus diimplementasikan dalam masa transisi pandemi ke endemi, bahkan seterusnya.

Ketiga aspek tersebut yaitu kepemimpinan yang memiliki empati, kepemimpinan adaptif, dan kepemimpinan yang melibatkan digitalisasi.

Kepemimpinan yang memiliki empati (Emphatic Leadership)

Masa pandemi sungguh sangat menguras emosi bagi semua kalangan. Kehilangan orang terdekat dan kerabat dalam waktu singkat, kekhawatiran karena kesulitan untuk memprediksi masa depan (anticipatory grief) dan tingkat stress yang tinggi menyelimuti hari-hari, bahkan oleh seluruh penduduk dunia.

Pada saat krisis tersebut, pemimpin harus dapat menunjukkan empatinya dengan tetap menjamin jalannya produktivitas organisasi. Empati memberikan prototipe tentang bagaimana pemahaman dan dukungan pemimpin dalam meningkatkan perilaku pengikutnya. Banyak teori kepemimpinan yang mempertimbangkan kemampuan untuk memiliki dan menunjukkan empati sebagai fitur utama kepemimpinan, terutama bagi pemimpin transformasional yang otentik (Deliu, 2019).

Pemimpin yang task oriented tidak akan berjalan maksimal atau bahkan akan memberikan dampak negatif dari organisasi di masa pandemi. Pemimpin perlu menjadi bagian dari social support bagi para pengikutnya. Pemimpin perlu memilih cara dan metode yang sesuai untuk memutuskan kebijakan dan mengkomunikasikannya dengan tepat. Komunikasi menjadi aspek penting dalam hal ini.

Seperti halnya dilansir oleh McKinsey, 2021 yang menyatakan bahwa saat kondisi Covid-19, pemimpin terbaik berfokus secara intens untuk berkomunikasi dengan karyawan dalam berbagai cara dan seringkali dengan nada yang tidak digunakan untuk mempekerjakan. Melainkan dengan meyakinkan, mendengarkan, menghibur dan mencoba untuk meningkatkan harapan dan ketahanan dalam menghadapi situasi.

Memang dalam masa krisis, pemimpin memiliki tugas tambahan untuk menjaga stabilitas emosi para pengikutnya dengan tetap memperhatikan keberlanjutan organisasi.

Di sisi lain, pemimpin juga harus berhadapan dengan kondisi personal, keluarganya dan kekhawatirannya. Hal ini memberikan pelajaran yang berharga bagi pemimpin, bahwa mereka harus memastikan diri mereka aman terlebih dahulu, kemudian berempati pada pengikutnya dan membuat kebijakan relevan dengan kondisi.

Kepemimpinan Adaptif (Adaptive Leadership)

Terlepas dari ada atau tidaknya pandemi, seorang pemimpin akan menghadapi berbagai macam masalah yang dapat dikategorikan ke dalam dua tipologi, yaitu masalah teknis dan adaptif (Noer & Putra, 2021).

Oleh karena itu, memiliki sikap adaptif merupakan hal yang tidak bisa ditawar bagi seorang pemimpin yang berorientasi pada pengembangan dan keberlanjutan organisasi. Contoh nyatanya adalah ketika terjadi pandemi Covid-19. Pemimpin harus bisa beradaptasi secepat mungkin untuk mengambil langkah dan tindakan yang tepat.

Kepemimpinan Adaptif sangat relevan dalam menghadapi krisis, karena dalam kepemimpinan adaptif melibatkan empat aspek yang penting yaitu (1) Antisipasi kebutuhan, tren, dan pilihan masa depan. (2) Artikulasi, kebutuhan di masa mendatang untuk membangun pemahaman bersama dan dukungan untuk melaksanakan aksi. (3) Adaptasi mendorong pembelajaran berkelanjutan dan penyesuaian terhadap respon yang diperlukan. Dan (4) Akuntabilitas mencakup transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan keterbukaan terhadap tantangan dan umpan balik (Fridayani, 2021).

Berbeda dengan emphatic leadership yang merupakan kemampuan pimpinan secara personal, kepemimpinan yang adaptif tidak akan berjalan tanpa keterlibatan berbagai pihak. Kepemimpinan Adaptif harus mendapatkan dukungan dari semua stakeholders dan tidak dapat bertumpu pada satu orang saja.

Kepemimpinan Adaptif membutuhkan tim yang bersedia mendukung arah kepemimpinan tersebut. Karakteristik pemimpin adaptif yang didukung tim-tim yang gesit, maka akan tercipta budaya organisasi dan nilai organisasi yang selaras dengan perubahan zaman saat ini.

Kepemimpinan berbasis digital (Digital Leadership)

Pembatasan kegiatan dan larangan untuk berkumpul dalam jumlah banyak pada saat pandemi mengharuskan organisasi untuk menggunakan teknologi sebagai media komunikasi. Sekali lagi, pandemi mengakselerasi perubahan gaya hidup menjadi semakin digital oriented.

Dikatakan akselerasi karena seperti yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya, bahwa tanpa pandemi, dunia memang tengah berada dalam kondisi VUCA. Dalam era ini digitalisasi dan perkembangan teknologi mengarahkan bisnis untuk mengubah struktur organisasi, proses, model bisnis, dan strategi. Kepemimpinan digital sangat penting bagi organisasi untuk bertahan di era digital baru dengan mengadaptasi dan mengubah strategi bisnis.

Para pemimpin digital menggunakan dan meningkatkan aset digital perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis dan berhasil mendorong transformasi bisnis digital. Pemimpin digital memiliki kemampuan dan perspektif yang berbeda dibandingkan dengan pemimpin tradisional (Araujo, et al 2021). Pada masa krisis akibat pandemi Covid-19, menjadi pemimpin digital merupakan sebuah tantangan yang tak bisa ditawar.

Kini saat situasi krisis perlahan mulai melandai, implementasi kepemimpinan berbasis digital masih terus dapat dilaksanakan. Terlebih organisasi yang memang tengah berfokus untuk merubah strategi dalam pengelolaan organisasinya. Beberapa contoh adalah mulai bermunculan perusahaan yang akan menerapkan hybrid working atau remote working karena hasil evaluasi pelaksanaan model kerja seperti demikian dipandang lebih efisien dan efektif.

Kepemimpinan Ideal

Tiga aspek kepemimpinan yang telah dibahas merupakan kemampuan yang saling berkorelasi. Pada dasarnya, menjadi seorang manusia haruslah memiliki sikap untuk dapat memanusiakan manusia. Maka saat menjadi pimpinan secara naluriah akan memiliki sikap empati. Sikap ini tidak kemudian melemahkan, namun justru sebaliknya memberikan daya juang untuk senantiasa bertahan dan berkembang.

Naluri untuk bertahan dan bahkan dapat berkembang di tengah krisis harus diimbangi dengan sikap yang mudah beradaptasi dan didukung oleh lingkungan yang mudah beradaptasi pula. Hal ini untuk menjamin bahwa organisasi tersebut dapat survive di tengah krisis. Salah satu bentuk adaptasi yang paling nyata dalam era ini adalah kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menunjang pengelolaan organisasi.

Digitalisasi adalah adalah metode atau tools yang harus dikuasai pemimpin pada saat ini. Berbagai aplikasi berbasis teknologi informasi sebaiknya dikuasai dan dimanfaatkan dengan baik. Namun demikian, jangan sampai digitalisasi menghilangkan “roh” dari organisasi. Maka kembali pada point pertama tadi bahwa pastikan kita memiliki hati untuk menjalankan organisasi.

Pada akhirnya, aspek yang terdapat dalam kepemimpinan ideal yaitu emphatic, adaptive dan berbasis digital tidak hanya untuk mereka yang ada di posisi pimpinan. Namun lebih dari itu bagi kita semua agar senantiasa dapat berkembang dan memberi makna bagi dunia seturut panggilan kita masing-masing. Leadership is action, not a position!

 

Januari Ayu Fridayani

Dosen Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi

Universitas Sanata Dharma 

 

 

 

Pos terkait