WartaKita.org – Sekitar 45 perajin cangkul di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten mengeluh karena lesunya pemasaran produk dan naiknya harga bahan baku.
Karena itu, para perajin cangkul meminta kepada Pemerintah Daerah maupun Pusat untuk turun tangan membantu guna keberlangsungan usaha mereka.
Pemilik UD Arum Sari, Supriyanto (56) saat ditemui di rumahnya, Senin (7/2/2022), mengatakan, selama ini, kendala yang dialami para perajin adalah pemasaran produk.
“Kendalanya di fluktuasi pemasaran. Kadang naik, kadang turun. Maka kita harus berinovasi. Pas musim sepi kita bikin (produk) yang kira-kira bisa jalan. Kalau musim penghujan, permintaan cangkul merosot. Permintaan cangkul nggak begitu ramai. Kalau musim kemarau, kita main (buat cangkul) dari bekas per. Kita berharap pemerintah memihaki, membantu pemasaran produk kita,” katanya.
Sekretaris Koperasi Delapan Belas (Derap Laju Pande Besi dan Las) ini menyatakan, selain pemasaran produk, para anggota juga mengeluhkan naiknya harga bahan baku.
“Belakangan ini harga bahan baku naik sekitar 40 persen. Yang naik hampir semuanya. Baik bahan baku maupun penunjangnya,” ujarnya.
Supriyanto mengatakan, pemasaran produk dari Koperasi Delapan Belas ini sudah merambah ke seluruh Indonesia.
Sedang kalau produk dari UD Arum Sari sudah dipasarkan sampai ke Kabupaten Sragen, Pekalongan (Jawa Tengah), Ponorogo (Jawa Tirmur), dan paling jauh sampai ke Kalimantan Selatan. Sementara kalau di Klaten, pemasaran produknya sampai ke Wedi dan Bayat.

“Kita berharap, Pemerintah bisa membantu pemasaran. Paling tidak beli produk untuk masyarakat Indonesia. Karena tenaga-tenaga kita sudah dibina dan dilatih, baik dari Kemenperin RI maupun Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). YDBA sudah mendampingi kita selama 5 tahun berjalan. Baik itu pengelasan, penggerindaan, pemilahan bahan baku, pembukuan sederhana dan menghitung HPP (harga pokok penjualan), dan sebagainya,” terangnya.
Supriyanto menjelaskan, selama ini para perajin mengutamakan membuat cangkul. Kalau dulu, produksinya adalah cangkul sawah. Tetapi sekarang, produksi cangkulnya dua macam, yaitu cangkul untuk alat pembangunan (konstruksi) dan cangkul pertanian. Sedang untuk harga cangkul non baja sekitar Rp40 ribu, dan cangkul baja sekira Rp60 ribu.
Namun belakangan ini, para perajin mulai mengembangkan produknya. Mereka juga membuat cetakan batako, paving, sapit urang, teralis, dan lainnya.
“Pandemi Covid-19 ini benar-benar berdampak bagi kita. Pada Maret 2020, hampir 3 bulan, kita bisa produksi, namun tidak bisa memasarkan sama sekali. Maka, kita bikin untuk stok. Akhirnya ya monting sendiri. Sekarang, 2 sampai 3 bulan ini kita mulai berjalan dengan pelan-pelan. Tetapi masih sepi. Maka, kita perlu bantuan dalam hal pemasaran,” harapnya.

Hal yang sama juga dirasakan perajin cangkul Eko Raharjo (52). Eko memulai usaha membuat cangkul sejak tahun 1992. Dia memilih bekerja sebagai pembuat cangkul karena ingin menciptakan lapangan kerja untuk orang lain.
“Pandemi Covid-19 ini memang membuat kita susah. Pemasaran berkurang, perekonomian lemah. Kita hanya bertahan. Karena kita mempunyai tenaga kerja yang banyak, maka yang penting kita bertahan. Walau keadaan perekonomian agak gonjang-ganjing. Tetapi alhamdulilah, usaha kita masih bisa jalan,” terangnya.
Eko menambahkan, keunggulan cangkul produksi Dukuh Karangpoh ini adalah pembuatannya lebih bagus atau halus, mutunya juga bagus, dan sesuai standar yang ditentukan.
“Kalau harga, ya relatif,” ucapnya.
Sekadar diketahui, Sentra Pande Besi cangkul di Karangpoh ini mulai booming sejak berdirinya Koperasi pada 25 juni 1998. Saat itu, anggota koperasi ada 55 perajin. Tetapi sekarang tinggal 45 anggota karena sudah banyak yang meninggal.









