Warta Kita.org – Hampir semua desa di Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten terserang hama tikus. Dari 16 desa yang ada di kecamatan tersebut, hanya Desa Kerten yang tidak terserang hama tikus.
Pernyataan ini disampaikan Camat Gantiwarno V Retno Setyaningsih saat ditemui di kantornya pada Kamis (14/8/2025).
“Tadinya, masyarakat mengeluh (serangan hama tikus) pada saat Musdes (Musyawarah Desa). Lalu kita tindaklanjuti, kita lakukan gropyokan tikus berkali-kali. Bahkan saya hadir di berbagai tempat, baik di Desa Jogoprayan, Kragilan, dan Mlese. Memang berhasil di awal, tapi karena itu tidak kontinyu. Wong tikus itu berkembang biaknya cepat sekali. Kemudian dengan PPL kita memberikan basmikus (pembasmi tikus), kita berikan umpan, tetapi juga tidak efektif,” katanya.
V Retno Setyaningsih menyatakan, merebaknya serangan hama tikus di wilayah Kecamatan Gantiwarno ini disebabkan sejumlah hal. Pertama, karena saluran irigasi yang ada tidak bersih. Masih ada banyak tanaman liar, bongkoran, dan lainnya. Kedua, pola tanam yang tidak serempak. Karena ada yang lagi tanam padi, tanam jagung, ada yang bero, dan sebagainya. Itu yang membuat terjadinya serangan tikus.
“Dan ketiga, kelompok tani tidak kompak. Ketika sudah melakukan gropyokan tikus sekali, ya tidak dilakukan lagi. Wis males lah. Ini yang membuat pembasmian hama tikus tidak bisa tuntas,” ujarnya.
Menurut Retno, cara yang paling efektif untuk membasmi hama tikus adalah dengan rumah burung hantu (rubuha). Hanya saja, ini tentu perlu penanganan tim teknis atau tim ahli tersendiri. Selain itu, perlu adanya alat emposan tikus.
“Untuk pengadaan alat emposan tikus ini, maka kelompok tani di Kecamatan Gantiwarno urunan (iuran). Selanjutnya, emposan tikus ini dipinjamkan ke sana sini,” paparnya.
Ia mengatakan, untuk mencegah hama tikus, maka yang perlu dilakukan adalah menyerempakkan pola tanam. Meskipun hal ini tidak bisa dilakukan serta merta. Karena ada petani yang lagi tanam, lagi panen, dan lainnya. Tetapi ini perlu komitmen dari seluruh kelompok tani. Karena jika melihat pengalaman di Kecamatan Juwiring dan Karangdowo, hama tikus ini bisa selesai dengan adanya pola tanam serempak. Seandainya pola tanam ini bisa diserentakkan, maka Gantiwarno itu bisa loh jinawi.
“Kemudian perlu adanya rubuha (rumah burung hantu). Karena dalam dua jam saja, sudah bisa menghabiskan banyak tikus,” tandasnya.
Camat Gantiwarno menambahkan, serangan hama tikus ini mengakibatkan penurunan hasil panen petani.
“Tidak hanya turun. Sangat menurun. Bahkan, ada yang tidak panen, karena serangan tikus ini luar biasa. Maka dampaknya juga di pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Para perangkat desa itu sering bilang: kon mbayar (PBB) piye, panen wae ora,” keluhnya.
Leptospirosis
Selain hama tikus, di Kecamatan Gantiwarno juga ditemukan banyak kasus leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.
Pada bulan Juli 2025 ini, penderita leptospirosis di Desa Mlese ada 4 orang, Jogoprayan 3 orang, Muruh 3 orang, Towangsan 3 orang, Gesikan 4 orang, Mutihan 5 orang, dan Jabung 3 orang.
“Penyakit ini disebabkan oleh tikus sawah. Dan rata rata penderitanya adalah petani. Puskesmas sudah bergerak, sudah mengadakan sosialisasi dan pengobatan. Tetapi memang tergantung dari penderita sendiri. Manakala ada gejala betisnya panas, keju kemeng di persendian, itu harus mulai waspada. Sebab kalau sudah terlambat, dan sudah menyerang ginjal, ya wallahualam,” ucap camat.









