Wedi Jadi Pilot Project Program Genting, Siap Bergotong Royong Entaskan 12 Baduta Stunting

Camat Wedi Widaya

WartaKita.org – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten meluncurkan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan menggelar Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Grha Bung Karno (GBK) Klaten pada Selasa (17/12/2024).

Program Genting ini merupakan salah satu cara untuk mencegah atau menurunkan stunting di Kabupaten Klaten.

Bacaan Lainnya

Camat Wedi Widaya saat ditemui usai acara peluncuran Program Genting menyampaikan, dalam program ini, Kecamatan Wedi ditunjuk sebagai salah satu pilot project Program Genting tersebut.

Terkait dengan hal itu, maka Kecamatan Wedi mendapat donasi dari DPC IpeKB Indonesia Kabupaten Klaten berupa paket nutrisi Genting senilai Rp32.400.000 yang diberikan kepada 12 sasaran baduta (bayi dibawah dua tahun) selama 6 bulan atau (dengan anggaran) Rp15 ribu per hari.

“Sebagai pilot project-nya ditunjuk di Kecamatan Wedi. Sedang sumber dananya iuran dari para penyuluh KB (se Kabupaten Klaten). Jadi, ini adalah program cegah stunting yang mana mencari orang tua asuh untuk berperan aktif dalam mengentaskan stunting bagi anak asuh yang menjasi sasaran,” katanya.

Widaya menyatakan, di Kecamatan Wedi ada 12 baduta yang menjadi sasaran Program Genting.

“12 Anak ini tersebar di delapan desa. Jadi, satu desa ada yang dua anak. Ini sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh Dinas. Program ini akan dimulai di bulan Januari 2025. Dan sebagai penyedia makanannya adalah babby cafe,” ujarnya.

Camat Wedi menjelaskan, dalam Program Genting ini, baduta yang menjadi sasaran program akan menerima makanan tambahan setiap hari senilai Rp15 ribu selama enam bulan sesuai dengan paketnya. Untuk Kecamatan Wedi, paket yang diberikan adalah nutrisi.

“Kami berharap, Program Genting ini didukung oleh masyarakat. Karena Pemerintah Kecamatan sifatnya hanya sebagai koordinator dan fasilitator. Sehingga yang proaktif adalah masyarakat yang di desa. Karena itu, Pemerintah Desa diharapkan mampu menggandeng orangtua asuh. Sebab, program ini memang tidak boleh dibiayai oleh anggaran pemerintah, baik dari pusat, daerah, atau dari desa. Sehingga ini harus pure (murni) dari dan berbasis masyarakat. Maka kita harus bergotong royong, mencarikan dana melalui CSR perusahan, paguyuban, komunitas dan sebagainya,” ucap camat.

Pos terkait