WartaKita.org – Anak-anak PIA (Pendampingan Iman Anak) Santo Kristoforus Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten beserta pendamping dan sejumlah umat melakukan kunjungan kasih ke Pura Sangga Buana yang berada di Desa Mutihan, Kecamatan Gantiwarno pada Minggu (16/2/2025).
Kunjungan kasih ini bertujuan untuk mempererat hubungan lintas agama, khususnya antara umat Katolik dan Hindu, serta menumbuhkan rasa persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan perjalanan dari areal parkiran depan Puskesmas Wedi menuju Pura Sangga Buana menggunakan kereta kelinci.
Setelah tiba di lokasi, acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) wilayah Kecamatan Gantiwarno dan Prambanan, Dhimas Sugandi.
Dalam sambutan, Dhimas Sugandi mengajak semua pihak untuk menjaga keharmonisan dan hubungan baik antar umat beragama.
“Kita punya prinsip: “berbeda jangan disamakan, yang sama jangan dibedakan”. Prinsip ini sebagai dasar kita untuk membangun persatuan dalam keragaman,” katanya.
Sedang Vikaris Parokial Paroki Wedi Rama Heribertus Warnata Natawardaya, Pr dalam sambutan menjelaskan mengenai PIA dan tujuan diadakannya kunjungan kasih ini.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari program utama Paroki Wedi yaitu “Mbalur” (ambyur mbangun sedulur) yang bertujuan untuk membina iman anak-anak serta memperkenalkan mereka pada nilai-nilai toleransi dan persaudaraan,” ujar rama.
Acara dilanjutkan dengan doa pembuka lintas iman yang dipimpin oleh pemuka agama Hindu Wasi Budiyanto dari Pura Sangga Buana Mutihan dan Rama Nata dari Paroki Wedi. Doa bersama ini menjadi simbol kerukunan dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai Pura Sangga Buana dan ajaran agama Hindu yang dipandu oleh Suratsih, umat Pura Sangga Buana.
Suratsih menjelaskan, pura ini didirikan pada tahun 1982 oleh almarhum Siswa Suryana dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Melalui sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah dan makna simbol-simbol dalam agama Hindu.
Acara semakin meriah dengan pentas seni yang ditampilkan oleh kedua belah pihak melalui anak-anak yang diadakan di Balai Desa Mutihan yang berada tepat di samping pura.
Dari pihak Pura Sangga Buana ditampilkan tari tradisional “Kodok Ngorek”. Sedang dari PIA Paroki Wedi menampilkan flashmob persahabatan serta gerak dan lagu “Kasih Yesus” dan “Nandur Rukun”. Pentas ini menjadi wujud nyata kebersamaan dan kegembiraan dalam perbedaan.
Sebagai penutup dilakukan penyerahan cinderamata sebagai tanda persahabatan antara Paroki Wedi dan Pura Sangga Buana.
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dan ditutup dengan ucapan sayonara (selamat tinggal) sebagai tanda berakhirnya kegiatan dengan penuh sukacita ini.
Melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda, khususnya anak-anak, dapat terbiasa dengan perbedaan dan mampu menjalin persaudaraan yang utuh. Kegiatan ini mungkin terlihat kecil, namun diyakini akan membawa pengaruh positif yang besar bagi lingkungan sekitar dan negara.









