WartaKita.org – Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang, Jawa Tengah mengadakan sosialisasi kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pertanian tahun anggaran 2024 yang bersumber dari anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di aula kantor setempat, Selasa (26/3/2024).
Sosialisasi ini dihadiri sejumlah pejabat dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Koordinator Jabatan Fungsional, Koordinator BPP Kecamatan, dan Ketua Kelompok Tani di Kabupaten Batang.
Plt Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso dalam sambutan menyampaikan, kegiatan sosialisasi ini bersumber dari anggaran DBHCHT.
Menurutnya, kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pertanian tahun anggaran 2024 ini sudah melalui sejumlah rekomendasi dan pengajuan, baik itu dari mulai perencanaan, masukan, dan konsultasi dengan Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Batang dan Biro Infrastruktur Dan Sumber Daya Alam (ISDA) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah.
“Sehingga nantinya, program kerja yang akan dilaksanakan ini tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan, perencanaan, sampai ke calon petani, dan calon lokasi yang telah ditentukan,” katanya.
Wahyu Budi Santoso menyatakan, program kerja tahun 2024 ini menitikberatkan pada kegiatan peningkatan perekonomian, khususnya bagi petani tembakau.
“Di tahun 2023 lalu, kita telah menambah areal tanaman tembakau sekitar 20 hektar. Karena kita melihat, kalau pertanian tembakau ini ditekuni, maka tidak kalah dengan tanaman pertanian lainnya. Baik itu tanaman yang ditanam di sawah, jagung, dan lainnya. Tanaman tembakau ini sangat menjajikan kalau betul-betul ditangani dengan serius, dengan teknologi yang saat ini sudah diberikan oleh narasumber baik itu dari (Pemerintah) Provinsi, Kabupaten, para ahli, dan sebagainya,” ujarnya.
Wahyu Budi Santoso mengatakan, pada beberapa waktu lalu, petani sudah melakukan studi banding ke berbagai tempat, seperti di Klaten, Yogyakarta, dan Temanggung.
“Hal itu tentunya memberikan pengertian, pengetahuan, ketrampilan, yang mana seharusnya kita bisa lakukan. Tentunya kalau kita punya keinginan untuk bisa maju, untuk meningkatkan nilai tambah dari tembakau,” tandasnya.
Sedang Perwakilan dari Biro Infrastruktur Dan Sumber Daya Alam (ISDA) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Imanuel Dedik Krisnantiyo menjelaskan, sebagai Tim Sekretariat Pengelola DBHCHT Provinsi Jawa Tengah, pihaknya bertugas untuk memantau dan mengawasi kegiatan-kegiatan yang didanai dari DBHCHT.
“Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 215 Tahun 2021, DBHCHT dapat digunakan untuk mendanai program peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberantasan barang kena cukai ilegal,” terangnya.

Sementara itu narasumber sosialisasi dari Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah, Juwandi menjelaskan, cukai tembakau berkontribusi besar pada pendapatan negara. Berdasarkan data, penerimaan cukai hingga Desember 2023 tercatat sebesar Rp221,83 triliun. Dari pendapatan cukai tersebut, sebagian dikembalikan ke daerah penghasil tembakau dalam bentuk DBHCHT.
“Nah, DBHCHT ini dapat digunakan untuk mendanai program peningkatan kualitas bahan baku. Seperti pembelian bibit, pemberian pupuk, pengadaan alat-alat pertanian, dan sebagainya. Maka, saya mengajak para petani untuk tidak menyerah. Mari kita terus menanam tembakau. Karena petani tembakau adalah pahlawan cukai, pahlawan devisa negara,” ungkapnya.
Ketua Kelompok Tani Rukun Sata Kabupaten Klaten ini menerangkan, Indonesia adalah negara penghasil tembakau terbesar nomor 5 di dunia. Sementara itu, kebutuhan tembakau dunia hampir tak terbatas. Dan selama ini, petani Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan tembakau dunia itu, khususnya tembakau asepan atau DFC (Dark Fire-Cured).
“Untuk itu, mari kita membangun kemitraan, membuat jejaring. Karena kalau petani isoh nandur, ning ora ana sing nuku, ya susah. Maka harus ada simbiosis mutualisme. Kerjasama saling menguntungkan antara petani, pedagang, dan perusahaan. Isoh produksi (tembakau) sing apik, payu, sehingga penghasilan petani meningkat, dan masyarakat menjadi semakin sejahtera,” paparnya.
Juwandi menambahkan, selama ini, tembakau asepan, terutama dari Kabupaten Klaten dan Boyolali sangat terkenal dan digemari di negara-negara Uni Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
“Kebutuhan tembakau dunia itu banyak. Terutama tembakau asepan dan suncare. Tembakau asepan ini untuk filler, pengisi cerutu. Maka, saya mengajak petani-petani tembakau di Batang untuk melebarkan sayap. Kita mencoba menembus, masuk pasar tembakau ke Uni Eropa, Amerika, dan Timur Tengah lewat tangan-tangan terampil orang Klaten,” ajaknya.
Terkait, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejo, Desa Kalirejo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Mistur, menyambut baik kegiatan sosialisasi ini karena dapat meningkatkan produksi tembakau di Batang. Selain itu, juga meningkatkan semangat petani untuk menanam tembakau dan bisa meluaskan lahan serta pemasaran.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan Pak Juwandi di Batang ini. Terima kasih, karena petani tembakau menjadi lebih semangat. Karena potensi tembakau di Batang ini sangat bagus. Terutama untuk “wilayah atas” atau dataran tinggi, 800 (mdpl) meter ke atas. Semoga akan terjalin kemitraan di masa yang akan datang,” ucapnya.
Untuk diketahui, dalam sosialisasi tersebut disepakati, petani Kabupaten Batang siap melakukan uji coba menanam tembakau jenis Grompol Jatim seluas 10 hektar. Adapun benih tembakau diberikan secara gratis dari mitra (CV Rukun Sata). Mitra siap membeli hasil panen tembakau petani dengan harga sesuai kesepakatan.









