WartaKita.org – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Wonosari, Cabang Klaten menjalin kerjasama dengan Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Klaten untuk melindung para pesilatnya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan atau risiko saat mereka berlatih atau bertanding.
Tercatat, ada sebanyak 360 pesilat PSHT Ranting Wonosari yang didaftarkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Penyerahan kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan ini dilakukan di sela kegiatan tes kenaikan tingkat dari sabuk jambon ke sabuk hijau siswa PSHT Ranting Wonosari di Lapangan Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten pada Minggu (25/2/2024).
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Klaten Heru Siswanto melalui Account Refresentatif Khusus, Sony Ahmad Wardani menyampaikan, kerjasama antara PSHT Ranting Wonosari dengan Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Klaten ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Pengurus Pusat PSHT dengan BPJS Ketenagakerjaan Pusat yang dilakukan mulai tahun 2023 lalu.
“Hanya saja, untuk di tingkat daerah, ada rangkaian-rangkaian yang mana kita harus sowan ke Ketua Cabang (Kabupaten) Klaten, ke Ketua Ranting, dan sebagainya. Akhirnya, sebagai pilot project-nya di Kabupaten Klaten yaitu Ranting Wonosari,” katanya.
Sony Ahmad Wardani menjelaskan, ada sebanyak 360 pesilat PSHT Ranting Wonosari yang didaftarkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan perlindungan atas minat bakat keatlitan mereka.
“Yang dilindung dalam kontek minat bakat kealtitan itu sendiri. Jadi kalau terjadi risiko saat latih tanding, latihan, atau ujian seperti sekarang ini, selama satu bulan kedepan, maka mereka akan tercover BPJS Ketenagakerjaan. Misalnya, terjadi cidera, patah tulang, atau yang lainnya. Mereka akan tercover BPJS Ketenagakerjaan ketika melakukan latih tanding, latihan, atau ujian tersebut,” ujarnya.

Sony menyatakan, para pesilat PSHT Ranting Wonosari ini diikutkan dalam dua program, yaitu jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM). Dengan demikian, mereka cukup membayar iuran Rp16.800 setiap bulannya.
“Kalau kemarin hanya sebatas event-event (pertandingan) tingkat kabupaten. Tetapi kalau perlindungan sampai kegiatan latihan di Ranting, ya di Ranting Wonosari ini. Jadi kita ambil langsung ke tingkat paling bawah,” terangnya.
Ia berharap, seluruh Ranting PSHT di Kabupaten Klaten bisa mendaftarkan juga ke BPJS Ketenagakerjaan. Untuk perlindungan saat para pesilat PSHT berlatih, berlatih tanding, atau ujian.
“Infonya tadi, dari Ranting Delanggu juga ingin mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan,” ucapnya.
Sementara itu Ketua PSHT Ranting Wonosari Haffy Dudyn Widyatmoko menyambut baik kerjasama antara PSHT Ranting Wonosari dengan Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Klaten dalam melindungi para pesilatnya.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi karena BPJS Ketenagakerjaan sudah mau bekerjasama dengan kami. Ini sesuai dengan instruksi Pengurus Pusat (PSHT) kami. Bahwasannya saat Pengurus Pusat kami mengadakan Rakernas (Rapat Kerja Nasional), Pengurus Pusat PSHT mengadakan kerjasama dengan BPJS ketenagakerjaan. Maka dari itu, kami mengikuti instruksi dari Pengurus Pusat untuk bersinergi atau bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan. Dan alhamdulillah, kerjasama ini sudah terlaksana, dan berharap, ini bisa berkelanjutan,” ungkapnya.

Haffy Dudyn Widyatmoko berharap, dari kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan ini, semua kecelakaan yang dialami pesilat PSHT yang diakibatkan karena latihan atau latihan tanding sudah tercover BPJS Ketenagakerjaan.
“Maka saya berharap kepada adik-adik kami yang kami daftarkan BPJS Ketenagakerjaan ini lebih serius lagi, lebih giat lagi, lebih memaksimalkan lagi, dalam kegiatannya. Karena semua risiko-risikonya sudah tercover BPJS Ketenagakerjaan. Meskipun itu tidak diharapkan. Dan jangan sampai ada kecelakaan,” harapnya.
Haffy mengatakan, perkembangan PSHT di Ranting Wonosari ini sangat baik. Dari 18 desa di Kecamatan Wonosari, semua ada Rayon-nya.
“Semua desa di Kecamatan Wonosari itu ada Rayonnya. Bahkan di bawah Rayon masih ada Sub Rayon. Di Wonosari ini ada 34 tempat latihan. Padahal jumlah desanya hanya ada 18. Makanya, di satu desa, ada tiga atau empat latihan,” paparnya.









