WartaKita.org – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bebas memilih bidang garapan atau produk yang akan dikembangkan sesuai dengan potensi yang ada.
Karena itu, BUMDes Lumintu Desa Pasung, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten memilih mengembangkan bidang agrowisata buah. Selain itu, BUMDes Pasung juga mengelola kolam pemancingan ikan dan warung makan Tirto Mili, Kafe Sor Tower, dan lainnya.
Kepala Desa (Kades) Pasung Sumarsono, Rabu (22/9/2021), menyampaikan, ada sejumlah pertimbangan mengapa BUMDes Lumintu Pasung memilih mengembangkan agrowisata buah.
”Kami menyadari bahwa potensi utama di Desa Pasung ini adalah pertanian. Nah, untuk menarik kaum milenial agar mau bertani, maka kami mengkonsep agrowisata. Yang ditanam adalah bermacam-macam buah,” katanya.
Kades Sumarsono menyatakan, penanaman aneka buah ini awalnya untuk penghijauan. Tetapi sekarang sudah ada hasilnya.
“Ada bermacam-macam buah (yang ditanam). Tetapi komoditas yang menjadi ikon kami adalah nangka. Ada lima nangka, yaitu nangkadak, nangka madu, nangka merah, nangka mini, dan cempedak. Jumlahnya lebih dari 1000 pohon. Untuk sementara, kami sudah menanam pohon sepanjang empat kilo meter,” ujarnya.
Kades yang akrab disapa Ambon ini mengatakan, kedepan, agrowisata buah ini bertujuan untuk menarik wisatawan datang ke Pasung.
“Konsepnya, pengunjung start dari rest area (sekitar kolam pemancingan Tirto Mili) dengan naik mobil listrik. Setelah berputar (di kawasan agrowisata), pengunjung bisa turun di sepanjang jalan itu. Pengunjung boleh memetik buah sendiri. Kalau pengunjung mau bawa pulang, kita siapkan buah di rest area,” paparnya.
Kades Pasung dua periode ini menjelaskan, mereka memilih menanam pohon nangka karena ada sejumlah kelebihan.
Pertama, pohon nangka itu dari berbunga sampai dipetik (panen), waktunya dari 5 sampai 7 bulan. Dengan waktu yang lumayan lama ini diharapkan pengunjung tidak kecewa. Karena terkadang, pengunjung itu sudah datang jauh-jauh ke wisata agro, tetapi ternyata buahnya sudah tidak ada.
Kedua, beberapa varietas nangka ini ada yang terus berbuah atau tidak mengenal musim. Nangka akan berbuah sepanjang tahun.
Dan ketiga, bila produk buah nangka ini mengalami over (kelebihan), maka bisa dibuat abon, keripik, atau jenis makanan yang lain.
“Selama ini, warga (Desa Pasung) boleh memetik (buah). Bebas. Asalkan dimakan. Tidak boleh dijual lagi. Pohon tidak boleh dirusak. Karena pohon ini milik BUMDes, milik Desa,” tandasnya.

Ambon menambahkan, kedepan, BUMDes akan membangun atau menyiapkan rest area di sekitar kolam pemancingan ikan Tirto Mili. Tempat ini akan digunakan untuk menjual produk UMKM dari warga Desa Pasung.
“Selain agrowisata buah, BUMDes Lumintu juga mengelola kolam pemancingan ikan Tirto Mili. Luas pemancingan sekitar 3000 meter. Sedang menu yang disediakan sekitar ikan air tawar,” terangnya.
Sekadar diketahui, BUMDes Lumintu ini berdiri sejak tiga tahun lalu. Direktur BUMDes Lumintu dijabat Tugino.









