Tantangan Dan Solusi Berkelanjutan Sanitasi Dan Higiene Dalam Perspektif Teknik Lingkungan

Trisno Fallo

SANITASI dan higiene merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya mewujudkan kesehatan masyarakat dan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.

Sanitasi mencakup penyediaan dan pengelolaan sarana untuk mengendalikan limbah domestik, air limbah dan sampah serta drainase agar tidak mencemari lingkungan. Adapun higiene berkaitan dengan perilaku individu maupun masyarakat dalam menjaga kebersihan diri, makanan, air dan lingkungan sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit.

Hal tersebut menjadi fondasi utama dalam konsep Water, Sanitation and Hygiene (WASH) yang telah diakui secara global sebagai salah satu indikator penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals atau SDG’s  khususnya terkait akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Indonesia telah menunjukkan berbagai kemajuan dalam pembangunan sektor sanitasi melalui pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan pembangunan sistem pengelolaan air limbah domestik serta peningkatan akses masyarakat terhadap jamban sehat. Meskipun demikian, berbagai permasalahan mendasar masih menjadi tantangan serius.

Praktik buang air besar sembarangan (Open Defecation), pengelolaan air limbah domestik yang belum memenuhi standar, pencemaran badan air oleh limbah rumah tangga, rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat, serta ketimpangan akses sanitasi antara wilayah perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa pembangunan sanitasi di Indonesia belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan persoalan kesehatan lingkungan.

Persoalan sanitasi di Indonesia menurut penulis tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembangunan infrastruktur. Permasalahan tersebut merupakan hasil interaksi antara aspek teknis, sosial, budaya, ekonomi, kelembagaan, dan kebijakan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan yang bersifat multidisiplin dan berorientasi pada keberlanjutan menjadi sangat penting agar pembangunan sanitasi mampu memberikan manfaat ekologis maupun sosial secara berkelanjutan.

Masalah Sanitasi dan Higiene di Indonesia

Dalam perspektif Teknik Lingkungan, sanitasi merupakan bagian dari sistem pengelolaan lingkungan yang bertujuan mencegah pencemaran sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. Namun demikian, hingga saat ini masih terdapat berbagai persoalan yang menunjukkan bahwa kualitas sanitasi di Indonesia belum optimal.

Salah satu persoalan yang masih banyak ditemukan adalah praktik Open Defecation (OD) atau buang air besar sembarangan. Praktik ini tidak hanya terjadi karena keterbatasan akses terhadap jamban, akan tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan yang telah berlangsung secara turun-temurun dan persepsi masyarakat mengenai sanitasi serta kondisi geografis tertentu.

Di berbagai wilayah pesisir, bantaran sungai, maupun daerah rawa, sebagian masyarakat masih memanfaatkan sungai sebagai tempat buang air besar karena dianggap lebih praktis dan mudah memperoleh air serta telah menjadi bagian dari budaya lokal.

Dari sudut pandang Teknik Lingkungan, praktik tersebut merupakan sumber pencemaran biologis yang sangat serius. Feses manusia mengandung berbagai mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp, Vibrio cholerae, virus hepatitis A, dan telur cacing usus yang dapat mencemari badan air maupun tanah. Pencemaran tersebut meningkatkan risiko terjadinya penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, tifoid, disentri, hepatitis A, dan infeksi cacing, terutama pada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lanjut usia.

Permasalahan lainnya adalah pengelolaan air limbah domestik yang belum memenuhi standar teknis. Sebagian besar rumah tangga masih menggunakan septic tank sederhana yang tidak kedap atau bahkan membuang limbah domestik secara langsung ke saluran drainase maupun badan air.

Hal tersebut berakibat kualitas air permukaan maupun air tanah mengalami penurunan yang ditandai dengan meningkatnya kandungan bahan organik, bakteri patogen, nitrogen, fosfor, serta berbagai zat pencemar lainnya.

Selain itu, pengelolaan sampah yang belum optimal turut memperburuk kondisi sanitasi lingkungan. Sampah yang dibuang secara sembarangan menyumbat sistem drainase, meningkatkan risiko banjir, menjadi tempat berkembang biaknya lalat dan tikus, serta menghasilkan pencemaran udara akibat pembakaran terbuka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sanitasi bukan hanya berkaitan dengan jamban, tetapi juga merupakan sistem pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.

Analisis Masalah Sanitasi Dalam Perspektif Teknik Lingkungan

Persoalan sanitasi di Indonesia menurut Penulis tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan teknologi saja. Mmelainkan oleh belum terintegrasinya sistem pengelolaan lingkungan dengan perilaku masyarakat. Selama ini keberhasilan program sanitasi sering kali diukur berdasarkan jumlah fasilitas yang dibangun bukan didasarkan pada tingkat pemanfaatan, keberlanjutan penggunaan, maupun dampaknya terhadap kualitas lingkungan.

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pembangunan jamban sehat belum tentu mengubah perilaku masyarakat. Pada beberapa komunitas, fasilitas sanitasi yang telah dibangun justru tidak dimanfaatkan karena dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan atau budaya setempat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan sanitasi memerlukan pendekatan sosial dan budaya yang berjalan beriringan dengan pendekatan teknis.

Dari perspektif rekayasa lingkungan, setiap teknologi sanitasi seharusnya dirancang sesuai dengan karakteristik wilayah. Daerah pesisir, kawasan rawa, daerah bantaran sungai, maupun wilayah perkotaan memiliki karakteristik hidrologi dan geologi yang berbeda sehingga memerlukan desain sistem sanitasi yang berbeda pula. Pendekatan yang bersifat seragam sering kali menyebabkan teknologi yang dibangun tidak dapat berfungsi secara optimal.

Selain faktor teknis, aspek perilaku juga menjadi tantangan utama. Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, pengelolaan makanan yang higienis, serta pemeliharaan fasilitas sanitasi menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses yang panjang.

Edukasi yang hanya bersifat informatif sering kali tidak cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku apabila tidak disertai dengan pemberdayaan masyarakat dan keteladanan dari para pemimpin lokal.

Dalam perspektif ilmu lingkungan, persoalan sanitasi juga berkaitan erat dengan degradasi kualitas ekosistem. Air limbah domestik yang tidak diolah dengan baik menyebabkan eutrofikasi pada badan air, menurunkan kadar oksigen terlarut, meningkatkan kandungan bakteri patogen, serta mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Pada akhirnya, kerusakan lingkungan tersebut kembali berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Pengelolaan Sanitasi Sebuah Tantangan

Tantangan utama yang dihadapi Indonesia dalam pembangunan sanitasi meliputi aspek geografis, sosial budaya, ekonomi, kelembagaan, serta perubahan iklim. Kondisi topografi yang sangat beragam dengan ribuan pulau, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam penyediaan infrastruktur sanitasi yang merata. Wilayah – wilayah terpencil masih sulit dijangkau sehingga pembangunan maupun pemeliharaan fasilitas sanitasi memerlukan biaya yang tinggi.

Di sisi lain, keberagaman budaya masyarakat Indonesia juga mempengaruhi penerimaan terhadap teknologi sanitasi. Beberapa kelompok masyarakat memiliki nilai dan kebiasaan yang telah berlangsung secara turun-temurun sehingga perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara instan. Pendekatan yang mengabaikan budaya lokal berpotensi menghasilkan fasilitas yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Perubahan iklim juga menjadi tantangan baru dalam pengelolaan sanitasi. Intensitas banjir yang meningkat menyebabkan septic tank mudah meluap sehingga mencemari lingkungan sekitar. Kenaikan muka air laut pada wilayah pesisir juga meningkatkan risiko intrusi air laut terhadap sistem sanitasi domestik. Oleh karena itu, pembangunan sanitasi di masa depan perlu mempertimbangkan aspek adaptasi terhadap perubahan iklim.

Solusi Berkelanjutan Berbasis Teknik Lingkungan

Beragam masalah sanitasi di Indonesia menurut Penulis memerlukan pendekatan yang bersifat sistemik, integratif, dan berkelanjutan.

Adapun beberapa langkah yaitu pertama, memperkuat pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Perubahan perilaku harus menjadi tujuan utama karena fasilitas sanitasi hanya akan memberikan manfaat apabila benar-benar digunakan dan dipelihara oleh masyarakat.

Kedua, teknologi sanitasi perlu disesuaikan dengan karakteristik geografis dan sosial budaya setiap daerah. Pendekatan Appropriate Technology menjadi sangat penting agar fasilitas yang dibangun mudah dioperasikan, mudah dipelihara, memiliki biaya yang terjangkau, serta diterima oleh masyarakat setempat. Daerah rawa atau pesisir misalnya sistem sanitasi harus dirancang dengan mempertimbangkan fluktuasi muka air dan kondisi tanah.

Ketiga, pengembangan sistem pengolahan air limbah domestik yang lebih ramah lingkungan melalui penerapan biofilter, biodigester, constructed wetlands, maupun instalasi pengolahan air limbah komunal. Teknologi tersebut tidak hanya mampu menurunkan beban pencemar, tetapi juga berpotensi menghasilkan energi terbarukan serta mendukung konsep ekonomi sirkular.

Keempat, pendidikan sanitasi harus dimulai sejak usia dini melalui integrasi materi sanitasi dan higiene dalam kurikulum sekolah. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kebiasaan hidup bersih serta peduli lingkungan.

Kelima, penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal menjadi faktor penting dalam mewujudkan sanitasi berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan inovasi teknologi, melakukan penelitian, serta memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian.

Keenam, pemanfaatan teknologi digital perlu diperluas dalam sistem monitoring sanitasi. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG), sensor kualitas air berbasis Internet of Things (IoT), serta sistem pemantauan berbasis data akan meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dan evaluasi program sanitasi.

Terakhir, pembangunan sanitasi perlu diintegrasikan dengan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pengelolaan limbah organik melalui biodigester, pemanfaatan lumpur tinja menjadi pupuk setelah proses pengolahan yang aman, serta penerapan infrastruktur hijau (green infrastructure) merupakan contoh pendekatan yang mendukung pembangunan rendah karbon sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

Trisno Fallo

(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan UNS dan Dosen Universitas Proklamasi 45)

Pos terkait