WartaKita.org – Warga Dukuh Wiro, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten menggelar kegiatan Bersih Dusun (Rasulan) dari Sabtu sampai Minggu (28-29/9/2024).
Ketua panitia kegiatan, Purwono, Minggu (29/9/2024), menyampaikan, kegiatan rasulan ini sebagai wujud syukur masyarakat Dukuh Wiro dan sekitarnya atas berkah yang diberikan Tuhan kepada mereka.
“Ini sebagai wujud syukur dari masyarakat atas hasil bumi, hasil pertanian. (juga wujud syukur) Dari (warga) yang bekerja di luar daerah, dan (dari) seluruh unsur masyarakat. Kita bersama-sama mengadakan kegiatan rasulan ini,” katanya.
Purwono menjelaskan, kegiatan rasulan ini diadakan rutin setiap tahun, yaitu pada bulan Mulud. Jadi, kegiatan ini sekaligus Mulud Rasul, atau dalam rangka memperingati Maulud Nabi, dan juga sekalian rasulan atau bersih dusun.
“Rasulan ini diadakan pada hari pasaran Wage. Harinya biasanya Minggu atau Jumat. Yang penting dalam bulan Mulud dicarikan pasaran Wage. Karena leluhur kita dari dulu memakai hari pasaran Wage,” ujarnya.
Purwono menyatakan, ada serangkaian kegiatan dalam rasulan tahun ini.
“Kemarin malam (Sabtu, 27/9/2024) sudah ada doa bersama. Sebelumnya, diadakan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. Sedang hari ini (Minggu, 29/9/2024), diadakan Kirab Budaya dilanjutkan shodaqohan yang diadakan di Masjid Tiban (Masjid Al Islam Wiro) ini. Dan nanti malam, ada kegiatan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan Dalang Ki Jalu Tomo Pandoyo yang memainkan lakon Wahyu Senopati di halaman rumah Amin Sutikno di RT 14, RW 05 Dukuh Wiro,” paparnya.

Purwono mengatakan, start Kirab Budaya ini dari lokasi pagelaran wayang kulit. Peserta kirab menempuh jarak sekitar tiga kilo meter dengan mengitari Dukuh Wiro.
Total ada 10 gunungan atau jodhang yang dibawa dalam Kirab Budaya ini. Dari panitia menyiapkan tiga jodhang. Sedang dari masyarakat menyediakan tujuh jodhang.
“Ini wujud syukur dari masyararakat yang diwujudkan dalam bentuk hasil panen, hasil pertanian dari masyarakat. Sedang yang dari pegawai negeri dan lainnya dalam bentuk uang dan sebagainya. Masyarakat Dukuh Wiro bersyukur kepada Tuhan, karena diberikan keberkahan, hasil bumi, hasil panen yang baik. Yang bekerja di perantauan diberikan kesehatan, kelancaran, dan semuanya dalam lindungan Tuhan,” ucapnya.
Dalam Kirab Budaya ini juga dikirab “ingkung” kambing kendit utuh.
“Ini sebagai sarat sarana wajib yang harus dipenuhi oleh dari dulu. Kambing yang punya kendit sabuh putih, yang berarti kesucian. Yang itu merupakan wujud syukur kita kepada Tuhan. Nanti (ingkung) kambing itu akan disajikan dalam pagelaran wayang kulit. Kita bagikan kepada masyarakat untuk dimakan atau dikonsumsi bersama-sama,” ungkap Purwono.
Pada Kirab Budaya ini, warga juga membawa tenong. Dan jumlahnya diperkirakan lebih dari 300 tenong. Dalam tenong itu diisi aneka makanan, jajanan, lauk pauk, buah-buahan, dan sebagainya.
“Tenongan ini untuk umum. Semua boleh mengambil. Dan apabila tenong itu semakin habis atau kosong, itu semakin barokah. Masyarakat kalau membawa tenong, isinya habis, tenongnya dibawa pulang, malah merasa senang. Ini barokah,” tandas Purwono.

Diperkirakan ada seribuan warga yang menghadiri Kirab Budaya ini. Karena masyarakat umum sudah mengetahui kegiatan rasulan ini.
“Dan insyaallah, kedepan, tradisi rasulan sebagai upaya pelestarian budaya ini akan diangkat ke tingkat kabupaten. Dan semoga, dari Pemerintah Kabupaten Klaten bisa menyikapi. Ini akan menjadi agenda pariwisata, utamanya dalam hal pelestarian budaya tingkat Kabupaten Klaten,” harap Purwono.
Setalah didoakan, gunungan tersebut lalu diperebutkan oleh masyarakat yang datang. Dan dalam waktu sekejap, 10 gunungan itu pun habis diperebutkan warga yang hadir. Setelah itu, mereka makan bersama.
Kirab Budaya ini mendapat sambutan antusias dari warga.
Yanti, warga Desa Wiro merasa senang bisa mengikuti acara bersih dusun ini.
“Kegiatan ini sangat bagus, dan perlu terus dilestarikan. Karena kita bisa bersyukur kepada Tuhan. Kita bisa bersilaturahmi. Dan kita bisa bergembira bersama warga lainnya,” ucapnya.









