WartaKita.org – Ratusan warga menghadiri Sadranan Dukuh Dalangan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang digelar di Masjid Bubrah Dalangan pada Jumat (8/3/2024) sore.
Usai doa bersama, dilanjutkan dengan Udik-Udik Duwit atau uang. Kali ini, ada uang sekitar Rp6 juta yang disebar dan diperebutkan oleh ratusan warga yang hadir.
Sesepuh Dukuh Dalangan, Sabari Broto Suyanto (78) menyampaikan, Sadranan Dalangan ini diawali dengan doa bersama untuk mendoakan arwah leluhur, utamanya yang dimakamkan di makam Dukuh Dalangan. Warga berdoa agar arwah para leluhur mereka diterima Tuhan.
“Kita ingin nguri-uri tradisi dan budaya yang ada di Dukuh Dalangan, yaitu sadranan yang diadakan pada hari Jumat terakhir di bulan Ruwah,” katanya.
Sabari Broto Suyanto menyatakan, dalam Sadranan Dalangan ini diadakan udik-udik duwit atau uang logam dan uang kertas. Dalam udik-udik ini, warga menyebar uang logam dari bangunan Masjid Bubrah dengan cara dilemparkan ke arah kerumunan pengunjung. Pengunjung pun lalu berebut atau rayahan uang logam itu dengan penuh semangat.
“Udik-udik duwit ini adalah suatu tradisi dimana warga mengungkapkan rasa syukurnya dengan memberikan sedekah kepada orang lain yang diwujudkan dengan cara menyebarkan uang logam dan sebagian uang kertas. Untuk tahun ini, total uang yang diudik-udik sekitar Rp6 juta,” ujarnya.
Sabari mengatakan, Sadranan Dalangan dengan udik-udik duwit ini memang menarik perhatian dan menjadi kerinduan bagi banyak orang. Warga yang berdomisili di luar Dalangan dan Kecamatan Wedi, seperti di Jogja, Jakarta, dan sebagainya, selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Dalangan untuk mengikuti sadranan ini.
“Yang ikut udik-udik duwit ini dari berbagai dukuh atau daerah. Mereka ikut bergembira. Ada yang tidak ikut sadranan, tetapi ikut udik-udik. Dan rasanya memang menyenangkan. Bahkan dalam keadaan hujan pun, masyarakat sangat antusias,” tandasnya.

Sabari menjelaskan, tradisi udik-udik duwit ini sudah berlangsung lama.
Menurutnya, tradisi ini sudah ada sejak Mbah Kartorejo (kakek nenek Sabari) Dalangan.
“Kalau dulu, uangnya (yang digunakan untuk udik-udik) masih berwujud sen, benggol. Tetapi kalau sekarang, uang logam. Kalau dulu, setiap hari Jumat ada orang yang udik-udik duwit untuk ngluwari nadar. Tetapi yang paling banyak dan meriah, ya pada sadranan ini,” terangnya.
Sedang Panitia Sadranan Dalangan, Suharno (70) menjelaskan, dalam sadranan ini, warga melakukan udik-udik duwit. Ritual ini untuk shodaqoh.
“Warga yang datang di sadaranan ini nyebarkan uang koin, atau udik-udik duwit. Ini untuk shodaqoh. Sebaiknya kalau udik-udik itu, uangnya jatuh di tanah baru diambil. Bukan dicatok (ditangkap dengan tangan). Tetapi ya ndak apa-apa. Yang penting warga senang, warga bergembira,” paparnya
Suharno mengemukakan, dalam udik-udik duwit ini, biasanya yang disebar adalah uang koin (logam). Sebab kalau uang kertas bisa robek saat direbutkan.
“Udik-udik duwit ini (sifatnya) bebas. Diikuti warga dari mana saja. Dari Dukuh dalangan sini. Tapi dari Karanganyar juga ada, Jogja banyak, Boyolali banyak. Orang asli sini (Dalangan), tetapi sudah bekerja di sana,” ungkapnya.

Sementara itu Daniel Nicolas (17), warga dari Dukuh Kidul, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan yang ikut udik-udik duwit mengaku senang bisa mengikuti tradisi Sadranan Dalangan ini.
“Ini saya ikut berebut uang koin dan kertas. Saya dapat sekitar Rp15 ribu. Susah dapatnya. Karena banyak banget yang ikut berebut. Sampai kita harus basah-basah dan mandi lumpur. Tetapi kita senang. Yang menarik bukan uangnya, tetapi kesenangannya. Saya dapat uang koin Rp100, Rp200, dan Rp500. Ya, kira-kira paling dapat Rp15 ribu. Uangnya buat beli jajan,” tuturnya.
Nicolas berharap, sadranan udik-udik duwit ini bisa diadakan terus.
“Saya sangat senang. Udik-udik duwit ini acara yang ditunggu-tunggu. Saya ikut udik-udik duwit ini sejak dari kelas 6 SD. Harapannya, sadranan udik-udik duwit ini diadakan terus. Untuk nguri-uri Kabudayan Jawi. Wong Jawa, aja lali jawane,” ucap siswa SMK Leonardo Klaten ini.
Tradisi Sadranan di Masjid Bubrah Dalangan tahun 2023 ini berlangsung meriah dan gayeng. Hujan yang turun sebelum dan selama sadranan berlangsung, tidak mengurangi semangat pengunjung untuk terus rayahan uang logam sampai menjelang Maghrib.









