WartaKita.org – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kabupaten Klaten atau eks Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan menyalurkan bantuan air bersih ke dua kecamatan pada Selasa (24/10/2023) dan Rabu (25/10/2023).
Dalam kegiatan yang bertajuk “UPK Peduli Dan Berbagi” ini, Asosiasi UPK Klaten menyalurkan bantuan air bersih ke Dukuh Santren, Desa Dukuh, Kecamatan Bayat pada Selasa (24/10/2023). Selanjutnya, mereka menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Kendalsari dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang pada Rabu (25/10/2023).
Ketua Asosiasi UPK Kabupaten Klaten Rudiyanto menyampaikan, dalam rangka ikut membantu meringankan beban masyarakat yang kekurangan air bersih akibat kemarau yang berkepanjangan, maka Asosiasi UPK memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kita bekerjasama dengan relawan, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan UPK yang menjadi sasaran untuk memberikan bantuan air bersih. Di tahun 2023 ini, kita memberikan bantuan air bersih di Kecamatan Bayat dan Kemalang. Sampai saat ini, kita sudah memberikan bantuan air bersih sekitar 32 tangki air bersih di Bayat dan Kemalang. Semoga bantuan air bersih ini bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ketua UPK Kecamatan Klaten Utara ini menyatakan, bakti sosial membantu air bersih ini menunjukkan bahwa UPK sampai sekarang masih eksis dan berkembang.
“Jadi kalau misalnya ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa dana UPK hilang, itu sangat tidak benar. Walaupun kami juga menghargai dan mengapresiasi teman-teman yang sudah menjadi Bumdesma, PT, atau lembaga yang lain. Itu kami juga menghargai kepada mereka,” ujarnya.
Rudiyanto mengatakan, dalam batkti sosial ini pihaknya menggandeng para relawan setempat.
“Kita ngikut relawan, tunjukannya ke mana. Karena relawan yang paling tahu (situasi dan kondisi masyarakat). Kita minta info dari teman-teman relawan yang langsung dekat dengan masyarakat,” terangnya.
Ia menambahkan, sumber dana bakti sosial ini dari iuran teman-teman UPK.
“Nah, harapannya untuk tahun-tahun kedepan, teman-teman bisa menganggarkan dari biaya sosial, sebagian untuk tanggap bencana (tanggap darurat). Karena di kabupaten lain sudah ada yang menganggarkan untuk anggaran tanggap bencana. Kalau ada seperti ini (bencana dan sebagainya), kita bisa bermanfaat bagi masyarakat. Dan kita tidak memandang itu dari UPK mana, dari golongan mana, agamanya apa. Karena ini sifatnya kemanusiaan. Tidak memandang peh Bumdesma, atau bukan Bumdesma. Jadi semua warga yang membutuhkan, kita bantu semampu kita,” tandasnya.
Rudiyanto mengemukakan, setiap ada kejadian bencana seperti kekeringan, gempa bumi, atau musibah lainnya, Asosiasi UPK Klaten selalu hadir dan membantu.
“Asosiasi UPK Klaten selalu memberikan bantuan. Termasuk bantuan di Lombok, di Jawa Barat, dan seterusnya. Kita selalu ada kepedulian. Walaupun kurang terekspos, dibanding lembaga lain. Sekali lagi, UPK ini masih ada, dan terus berkembang. Walaupun teman-teman punya pilihan-pilihan kelembagaan lain, dan itu tetap kami hargai. Yang penting, mari kita bergerak bersama untuk kepentingan masyarakat, dan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya.

Bakti sosial penyaluran air bersih yang dilakukan Asosiasi UPK Klaten ini disambut baik warga Dukuh Santren, Desa Dukuh.
“Saya merasa senang dan berterima kasih sudah mendapat bantuan air bersih dari Asosiasi UPK Klaten. Semoga bantuan air bersih ini bermanfaat bagi warga dan menjadi amal barokah bagi bapak, ibu UPK,” kata Sulastri, warga Dukuh Santren.
Sulastri menerangkan, kekurangan air bersih ini mulai terasa pada 26 September lalu.
“Tetapi ya alhamdulillah, selau ada bantuan (air bersih) dari pihak lain. Setiap hari ada bantuan. Sehingga warga bisa mengambil air di sini,” ucapnya.
Sementara itu Relawan KSB Pandanaran Kecamatan Bayat, Wawan Sanuri menjelaskan, kekeringan atau kekurangan air bersih di daerah Bayat ini dipicu oleh kemarau yang panjang. Karena sudah tujuh bulan ini tidak ada hujan sama sekali. Dan juga karena dampak El Nino yang luar biasa.
“Kekurangan air bersih ini bukan hanya terjadi di wilayah ini saja. Di Kecamatan Bayat, ada 10 desa dari 18 desa yang mengalami kekurangan air bersih. Termasuk Desa Dukuh,” ungkapnya.
Wawan Sanuri mengutarakan, warga Dukuh Santren berisiatif membuat tandon air dari terpal dengan ukuran 6 x 10 meter. Tandon air dari terpal ini bisa awet selama terisi air.
“Tandon air ini bisa menampung 2 tangki, dimana 1 tangki-nya berisi 8000 liter. Jadi sekitar 16.000 liter. Tandon air ini digunakan untuk warga sekitar 80 kepala keluarga (KK),” katanya.
Ia menyatakan, warga membuat tandon air seperti ini agar masyarakat merasa sama-sama membutuhkan.
“Beda kalau (air itu) dimasukkan di sumur. Satu, air akan habis, sia-sia. Dan dua, masyarakat yang akan mengambil air rasanya sungkan. Di sini, warga mengambil air dengan galon, ember, dan tidak dibatasi. Tetapi masyarakat juga tidak egois, tepa-tepa, dan mau berbagi sesuai kebutuhan. Biasanya, air ini untuk konsumsi. Kalau untuk mandi agak dikesampingkan,” ucapnya.









