Rayakan Pergantian Tahun Dan Lestarikan Seni Budaya, Formatasindo Gelar Parade Gamelan 10

Kelompok Karawitan dari Formatasindo tampil membuka Parade Gamelan 10 di Pendopo Omah Gasebu Desa Solodiran, Jumat (31/12/2021) malam.

WartaKita.org – Ibarat pepatah: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau.

Itulah yang dilakukan Forum Mahasiswa Pecinta Seni dan Seniman se Indonesia (Formatasindo).

Bacaan Lainnya

Formatasindo menggelar Parade Gamelan (Pargam) 10 di Pendopo Omah Gasebu (Gelar Seni Budaya) Dukuh Tegal Coro Canan, Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten pada Jumat (31/12/2021) malam.

Ketua panitia Parade Gamelan 10, Raka Adiyasa Pratama Saputra menjelaskan, Parade Gamelan ini digelar rutin setiap akhir tahun untuk merayakan pergantian tahun. Pargam diadakan sejak tahun 2011.

Awalnya, Pargam diadakan di Balai Budaya Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Tetapi kemudian diadakan di Pendopo Omah Gasebu Desa Solodiran ini.

“Tahun 2021 ini merupakan Pargam yang ke 10. Karena pada tahun 2020 kita sempat vakum karena pandemi Covid-19, yang tidak memperbolehkan masyarakat untuk berkumpul,” katanya.

Ki Sukisno membuka Parade Gamelan 10 dengan membunyikan goprak.

Raka Adiyasa Pratama Saputra menyampaikan, Parade Gamelan ini diadakan untuk merayakan pergantian tahun, melestarikan seni dan budaya utamanya karawitan, dan untuk memperingati Hari Gamelan 15 Desember.

“Karena UNESCO telah menetapkan Gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 15 Desember 2021 lalu,” ujarnya.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu menyatakan, ada 13 kelompok karawitan yang mengikuti Pargam 10 tahun ini.

“Peserta berasal dari Sanggar Ganesa, Omah Gasebu, Omah Gondhol, Kamasetra UNY, Kalimasada UIN Sunan Kalijaga, UKJGS UGM, Hima Jawa UNY, BKKT UNS, KJ UNDIP, UIN Saizu Purwokwerto, UPN Veteran Yogyakarta, UAD, dan STIPRAM,” paparnya.

Kelompok Karawitan Sanggar Omah Gasebu saat tampil di Parade Gamelan 10 di Pendopo Omah Gasebu Desa Solodiran, Jumat (31/12/2021) malam.

Sedang Pembina Formatasindo, Ki Sukisno mengatakan, Parade Gamelan 10 tahun ini mengusung tema “Ndhudhah Bothekan Mangsa Kependhem”. Tema ini bermakna  mencoba menggali sebuah potensi yang sudah lama terpendam untuk terus menjaga eksistensi gamelan Jawa. Apalagi  belum lama ini gamelan ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

“Harapan kedepannya, agar gamelan ini terus dilestarikan ke kancah yang lebih luas. Sehingga kebudayaan ini tidak akan hilang tergerus oleh arus globalisasi saat ini,” harapnya.

Dosen Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengaku gembira dengan semangat anak-anak muda yang terlibat dalam Parade Gamelan 10 ini. Baik sebagai panitia maupun peserta.

“Saya gembira melihat anak-anak muda ini. Paling tidak, mereka sudah mencintai gamelan. Ini adalah proses regenerasi. Apalagi ada banyak UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Gamelan yang mengikuti Parade Gamelan ini. Ini sungguh menggembirakan,” tandasnya.

Ki Sukisno menambahkan, Parade Gamelan 10 ini “berkolaborasi” dengan goprak, yaitu alat musik petani untuk mengusir burung atau nggusah manuk.

“Ini adalah simbol bahwa kesenian bisa berkolaborasi dengan ekonomi. Dengan goprak, petani bisa bermusik dan berkesenian, bisa nggusah manuk, sehingga mereka bisa panen, bisa mendapatkan rejeki, dan akhirnya bisa menggerakkan ekonomi,” terangnya.

Ketua panitia Parade Gamelan 10, Raka Adiyasa Pratama Saputra saat menyampaikan sambutan.

Sementara itu Seniman Klaten, Supriyadi “Jimbling” mengapresiasi Parade Gamelan 10 ini.

“Saya mengapresiasi Parade Gamelan 10 ini. Dan saya kagum dengan semangat mereka dalam melestarikan seni budaya, utamanya karawitan. Mereka tulus dan mau berkorban. Mereka mau urunan, demi cintanya pada gamelan dan seni karawitan. Sungguh luar biasa mereka,” ucapnya.

Pada Parade Gamelan 10 ini, panitia memilih tagline: Gamelanku, Gamelanmu, Gamelan Kita Bersama, Gamelan Indonesia, Gamelan Dunia….

Dalam kesempatan itu, juga ditampilkan Gendhing Mars Parade Gamelan dan Mars Formatasindo karangan dari Ki Sukisno.

Pos terkait