WartaKita.org – Jajaran Sat Reskrim Polres Klaten berhasil mengungkap kasus pemalsuan uang yang dilakukan oleh seorang residivis.
Dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Klaten, Selasa (14/1/2025), Kapolres Klaten AKBP Warsono menyampaikan kronologi lengkap terkait pengungkapan kasus ini.
Kapolres Klaten menyampaikan, pelaku berinisial MH (47), warga Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo ditangkap saat mencoba membelanjakan uang palsu di Pasar Ngebuk, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 12 Januari 2025, sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku memberikan uang palsu pecahan Rp50.000 kepada pedagang ikan asin. Kemudian, pedagang tersebut langsung menyadari bahwa uang tersebut tidak asli.
Pedagang yang berinisial S itu segera berteriak, dan memancing perhatian warga sekitar. Pelaku sempat mencoba melarikan diri, namun berhasil diamankan oleh saksi lainnya, DS di pinggir jalan dekat pasar. Pelaku kemudian diserahkan kepada petugas Polsek Cawas yang segera datang ke lokasi.
Dari hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa pelaku menggunakan printer warna Epson untuk mencetak uang palsu. Metode yang digunakan yaitu menempelkan uang asli pada kertas HVS yang kemudian dicetak dengan printer. Pelaku membuat uang palsu pecahan Rp50.000 dan Rp100.000.
Sedang Kasat Reskrim Polres Klaten AKP Yulianus Dica Ariseno menjelaskan, pelaku memulai aksinya dengan membeli uang palsu secara online dan belajar secara mandiri.
“Jadi pelaku ini dulu pernah membeli uang palsu secara online melalui Facebook. Ia kemudian belajar secara mandiri menggunakan printer Epson miliknya. Untuk di wilayah Klaten sendiri, pelaku baru satu kali mencetak uang palsu,” ungkap AKP Yulianus.
“Pelaku memproduksi uang palsu senilai Rp500 ribu, di mana Rp300 ribu diantaranya telah digunakan untuk transaksi di Pasar Ngebuk, Kecamatan Cawas. Pecahan uang yang dibuat mencakup Rp20.000, Rp10.000, dan beberapa pecahan Rp100.000,” tambahnya.
Barang bukti yang diamankan meliputi satu lembar uang palsu pecahan Rp50.000, satu lembar uang palsu pecahan Rp100.000, satu unit sepeda motor Yamaha Jupiter, dan satu buah printer warna hitam Epson L3110. Selain itu, ditemukan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan uang palsu, seperti kertas, pita, dan alat pemotong.
“Pelaku adalah residivis yang sebelumnya terlibat dalam kasus serupa dan baru saja keluar dari Lapas Jogja pada Januari 2024,” tandas AKBP Warsono.
Penjelasan dari Bank Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Solo, Anang Dwi memberikan edukasi kepada masyarakat terkait ciri-ciri uang asli.
Ia memperkenalkan metode 3D: Dilihat, Diraba, dan Diterawang, yang dapat membantu masyarakat membedakan uang asli dan palsu.
“Jika dilihat, uang asli memiliki warna yang jelas, benang pengaman yang berubah warna saat terkena cahaya, dan motif batik kawung yang sangat kecil,” jelas Anang.
Anang menambahkan, metode ini cukup mudah dilakukan masyarakat untuk mengenali uang asli. Salah satu langkah penting adalah meraba permukaan uang yang memiliki teknik cetak khusus.
“Saat diraba, uang asli terasa kasar karena dicetak menggunakan teknik intaglio dengan plat baja. Beberapa bagian seperti gambar pahlawan, lambang Garuda, dan garis-garis pada sisi uang juga terasa menonjol,” uangnya.
“Jika diterawang, uang asli memiliki watermark berupa gambar pahlawan dan logo Bank Indonesia yang terlihat presisi. Sedangkan uang palsu seringkali memiliki cetakan yang kabur dan tidak simetris,” terangnya.
Bank Indonesia juga mengimbau masyarakat untuk merawat uang dengan baik melalui prinsip 5J: Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan distapler, Jangan diremas, dan Jangan dibasahi.
Ancaman Hukum
Pelaku dijerat Pasal 36 ayat (1, 2, 3) jo Pasal 26 ayat (1, 2, 3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Ancaman hukumannya adalah pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp50 miliar.
Polres Klaten juga bekerja sama dengan Bank Indonesia dalam mengedukasi masyarakat terkait ciri-ciri uang asli dan langkah pencegahan peredaran uang palsu.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih teliti saat menerima uang, terutama di pasar tradisional. Jika menemukan uang yang mencurigakan, segera laporkan kepada pihak berwenang,” pesan AKBP Warsono.









