WartaKita.org – Presidium Daerah Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Kabupaten Klaten akan mengadakan sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Klaten tahun 2020 se Rayon Klaten di Gedung Eko Kapti Jalan Bali nomor 23 Pandanrejo, Klaten pada Minggu (1/11/2020) sore.
Sosialisasi ini diadakan sebagai bagian dari mempersiapkan umat untuk menyambut Pilkada Klaten 2020.
Menurut rencana, dalam sosialisasi ini akan mengundang sejumlah narasumber, yaitu Moderator Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS) Rama Raymondus Sugihartanto, Pr, pengurus FMKI Jawa Tengah, dan tiga pasangan calon peserta Pilkada Kabupaten Klaten tahun 2020.
Ketua Panitia sosialisasi Pilkada Albertus Magnus Sunarso menjelaskan, sosialisasi Pilkada ini mempunyai dua tujuan, yakni konsolidasi komitmen dan konsolidasi partisipasi.
Konsolidasi komitmen adalah memantapkan komitmen bersama, baik pemula, dewasa, Imam, biarawan atau biarawati dalam menggemakan seruan moral untuk berdemokrasi yang baik (civic education dan voter education).
“Dalam konsolidasi komitmen ini kita perlu mewaspadai dan menghindari politisasi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), politik uang, Golput, dan takut terpapar virus Corona,” katanya.
Sedang konsolidasi partisipasi, imbuh AM Sunarso, yaitu menggerakkan umat untuk tetap berpartisipasi menggunakan hak pilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS), menjadi pengawas Pemilu, dan menjadi Penyelenggara Pilkada walau di tengah pandemi Covid-19, serta untuk tidak takut datang di TPS guna memberikan hak suara dengan menerapkan protokol kesehatan.
“Umat Katolik (yang) diam sudah tidak jamannya lagi. Karena panggilan Gereja dalam hidup berbangsa yaitu Menjadi Gereja Yang Relevan dan Signifikan. Dan ini sesuai dengan Nota Pastoral KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) tahun 2018,” ujarnya.
AM Sunarso menyampaikan, Pilkada kali ini memiliki arti yang penting dan strategis. Karena pertama, kesempatan untuk ikut melahirkan para kepala daerah yang baik. Kedua, partisipasi politik orang Katolik baik sebagai pemilih, penyelenggara, pengawas, serta kandidat kepala daerah untuk keselamatan dan kebaikan bersama. Ketiga, partisipasi warga Gereja dalam berpolitik menjadi “suara hati” bagi dunia.
“Keempat, warga Gereja justru dapat memperjuangkan nilai-nilai keadilan, perdamaian dan kerukunan, serta menjauhkan politik yang kental dengan politik identitas, diskriminatif, sektarian, dan eksklusif. Dan kelima, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda perekat dan pemersatu dengan memperjuangkan perwujudan nilai-nilai Pancasila sebagai spirit dasar dan pedoman etis-moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.









