WartaKita.org – Pemerintah Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk di Gedung Serbaguna Graha Tirta Mandala Kalikotes pada Senin (18/11/2024) malam.
Pagelaran wayang kulit yang dimainkan Dalang Ki Warseno Slenk ini mengusung lakon “Wisanggeni Gugat”.
Kepala Desa (Kades) Kalikotes Ponidi menyampaikan, pagelaran wayang kulit ini diadakan untuk memperingati Hari Wayang Nasional (HWN) yang jatuh pada 7 November.
“Meski ini agak terlambat, karena penjadwalan dari kru Dalang Ki Warseno Slenk. Ini kita dipinjami tempat. Kita ketempatan saja. Dan alhamdulillah, ini bagian dari pelestarian budaya, sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat, khususnya di Desa Kalikotes,” katanya.
Kades Ponidi mengatakan, pagelaran wayang kulit ini juga menjadi bagian dari upaya untuk nguri-uri kabudayan Jawa.
“Khususnya wayang yang sudah mendapat pengakuan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Wayang telah menjadi salah satu kebudayaan tradisional yang berkembang, yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Ponidi mengatakan, Pemdes Kalikotes merasa perlu untuk melestarikan wayang. Karena wayang bisa menjadi media edukasi bagi masyarakat.
“Ini sungguh luar biasa. Karena kondisi saat ini dengan kemajuan teknologi, pengaruh yang luar biasa, ada satu kekhasan, satu wilayah, di satu negara, sehingga ini menjadi bagian yang menghadirkan satu titik yang menonjol, atau hal-hal yang terkait dengan budaya. Dalam wayang ini, ada satu nilai yang ditanamkan oleh para leluhur waktu itu, yakni Kanjeng Sunan Kalijaga, yang memberikan wayang sebagai media edukasi. Wayang sebagai media untuk dakwah. Wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan, yang memberikan contoh perilaku, dari sifat-sifat wayang yang ditampilkan itu,” jelasnya.
Karena itu, imbuh Ponidi, masyarakat juga perlu melestarikan wayang. Apalagi wayang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
“Anak bangsa, seluruh komponen bangsa itu harus melestarikan (wayang) ini. Sebab wayang ini menjadi satu bagian dari hanjayeng bawana (memperindah keindahan dunia). Karena (wayang) ini sudah diakui oleh kancah internasional, yaitu UNESCO. Maka, ini adalah bagian dari kekayaan bangsa yang harus dilestarikan, yang harus terus dikembangkan oleh para generasi muda,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pagelaran wayang kulit ini mengusung lakon “Wisanggeni Gugat”.
“Wisanggeni itu adalah satu sosok seorang bayi yang kehadirannya tidak dikehendaki oleh beberapa penguasa. Sehingga Wisanggeni ini gugat ke kahyangan. Wisanggeni mencari bapaknya. Lakon ini memberikan pesan kepada kita: siapa pun, sesungguhnya harus bisa menjadi panutan, sehingga tatanan kehidupan itu akan lebih baik. Maka, para pemegang kekuasaan itu tidak boleh semena-mena terhadap siapapun. Karena sebagai bagian dari anak yang lahir di bumi ini, tentu ada bagian yang memberikan pengaruh, yang memberikan kebaikan,” ucap Ponidi.









