Pemdes Kalitengah Berkomitmen Cegah Dan Tangani Stunting, Ini Yang Akan Dilakukan….

Pemerintah Desa Kalitengah menggelar Rembug Stunting tahun 2024 di GOR Desa Kalitengah pada Rabu (7/8/2024) pagi.

WartaKita.org – Pemerintah Desa (Pemdes) Kalitengah, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten menggelar Rembug Stunting tahun 2024 di GOR Desa Kalitengah pada Rabu (7/8/2024) pagi.

Rembug stunting ini dihadiri Kepala Desa dan Perangkat Desa, BPD, Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Dana Desa (DD), Kader Pembangunan Manusia (KPM), Tim Penggerak PKK, Pendamping Desa Kecamatan Wedi, perwakilan dari Puskesmas Wedi, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan undangan lainnya.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa (Kades) Kalitengah Hariyadi dalam sambutan mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan Rembug Stunting ini.

“Di Desa Kalitengah ini masih ada 16 anak yang mengalami stunting. Kita berharap, dengan adanya Rembug Stunting ini, semoga stunting di Kalitengah bisa turun. Berdasarkan pengamatan, balita yang mengalami stunting ini terjadi karena orangtuanya enggan membawa bayinya ke Posyandu secara rutin untuk mengetahui tumbuh kembang dan kondisi anaknya. Ini salah satu penyebabnya,” katanya.

Hariyadi menyatakan, Pemerintah Desa (Pemdes) dan BPD Kalitengah berkomitmen untuk mencegah, menurunkan, dan menangani stunting di desanya.

“Maka, pada kesempatan Rembug Stunting ini, silahkan kita berembug, merencanakan program, dan anggarannya. Kebutuhannya apa, nanti akan dipihaki dari Dana Desa. Dengan demikian, semoga stunting di Kalitengah bisa menurun, dan syukur hilang,” ujarnya.

Sedang Pendamping Desa Kecamatan Wedi, Hari Yuwono menjelaskan, Rembug Stunting ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun. Rembug Stunting ini untuk mengevaluasi sejauh mana upaya pencegahan dan penanganan stunting di desa.

“Data terakhir di Puskesmas Wedi menyebutkan, ada 22 anak di Desa Kalitengah yang mengalami stunting dari sekitar 200 kelahiran bayi, atau 9,6 persen. Angka ini sama dengan angka rata-rata stunting di Kecamatan Wedi,’ paparnya.

Rembug Stunting ini untuk mengevaluasi sejauh mana upaya pencegahan dan penanganan stunting di desa.

Hari Yuwono menyampaikan, dalam Rembug Stunting ini, Kader Pembangunan Manusia (KPM) diberi kesempatan untuk memaparkan program terkait perencanaan, pencegahan dan penanganan stunting. Dari hasil Rembug Stunting ini akan menjadi rekomendasi dan dituangkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).

“Maka, mohon rekomendasi dan perencanaan ini dikawal Pemerintah Desa dan BPD untuk menjadi usulan bidang kesehatan tahun 2025. Saya berharap, Pemdes Kalitengah bisa berkolaborasi dengan Puskesmas Wedi agar anggarannya tidak tumpang tindih,” pesannya.

Sementara itu Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Kalitengah, Setyawati menyampaikan, stunting adalah masalah kurang gizi kronis pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Stunting ini bisa disebabkan oleh pertama, kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan, serta pengetahuan ibu tentang pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) saat anak mulai makan (usia 6 bulan). Kedua, terbatasnya akses pelayanan kesehatan, termasuk layanan kehamilan dan postnatal (setelah melahirkan). Ketiga, kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Dan keempat, masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.

Ada banyak kegiatan yang akan dilakukan untuk pencegahan stunting di Desa Kalitengah pada tahun 2025.

Setyawati mengemukakan, dampak dari stunting ini adalah satu, menurunkan kemampuan perkembangan kognitif otak anak. Dua, kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit. Tiga, tinggi badan lebih pendek dari seusianya. Empat, penyakit jantung. Dan lima, penyakit pembuluh darah.

“Bahkan, ketika sudah dewasa nanti, anak dengan tubuh pendek akan memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja. Dan bagi anak perempuan yang mengalami stunting, ia berisiko untuk mengalami masalah kesehatan dan perkembangan pada keturunannya saat sudah dewasa,” ungkapnya.

Menurut Setyawati, pencegahan stunting ini dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil, memberi ASI (air susu ibu) Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, mendampingi ASI Eksklusif dengan MPASI (makanan pendamping ASI) sehat, terus memantau tumbuh kembang anak, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Setyawati menyatakan, kegiatan yang dilakukan untuk pencegahan stunting di Desa Kalitengah pada tahun 2025 yaitu mengaktifkan Kelas Ibu Hamil, Kelas Balita (MP-ASI), Posyandu Remaja, dan Posyandu Balita, pendataan PKH bagi keluarga rawan stunting, pelatihan atau orientasi kesehatan reproduksi untuk remaja putri (Rematri), parenting orangtua balita risiko stunting, dan pendampingan Catin (calon pengantin).

Untuk diketahui, sampai Juli 2024, jumlah anak atau bayi stunting di Desa Kalitengah ada 31 anak, jumlah ibu hamil 20 orang, jumlah ibu nifas bulan Juli 4 orang, jumlah ibu hamil Resti (risiko tinggi) 6 orang, jumlah balita 0-2 tahun 72  anak, jumlah balita 2-5 tahun 170 anak, jumlah remaja putri (Rematri) 385 orang, dan jumlah Catin (calon pengantin) ada 4 orang.

Pos terkait