Pembangunan Kawasan Desapolitan Perlu Inovasi Dan Kolaborasi

Webinar “Pusat Inovasi Desa Untuk Mendukung Sustainibilitas Desapolitan” yang diadakan oleh Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi UGM Yogyakarta pada Jumat (10/9/2021) pagi.

WartaKita.org – Untuk mewujudkan pembangunan smart village di kawasan desapolitan, setiap desa yang terlibat perlu berinovasi dan berkolaborasi. Mereka perlu mengoptimalkan potensi desa yang dimilikinya dan saling bekerjasama untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Rangkuman atau kesimpulan ini mengemuka pada webinar “Pusat Inovasi Desa Untuk Mendukung Sustainibilitas Desapolitan” yang diadakan pada Jumat (10/9/2021) pagi.

Bacaan Lainnya

Webinar ini diselenggarakan oleh Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Webinar yang diadakan dalam rangka Dies Natalis ke 58 Fakultas Geografi UGM Yogyakarta ini menampilkan empat narasumber.

Mereka adalah Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten Sri Winata, Kepala Desa (Kades) Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten Agung Widodo, Direktur Perencanaan Pembangunan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi RI Dewi Yuliani, dan Ketua Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi Universitas UGM Yogyakarta Prof Suratman.

Sedang bertindak sebagai moderator adalah Sekretaris Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi UGM Yogyakarta Dr Jaka Marwasta.

Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dr Andri Kurniawan dalam sambutan berharap, kegiatan webinar ini dapat memberi manfaat kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.

“Dalam membangun dan mengembangkan desa, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Nah, webinar ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dan dukungan kami kepada desa,” katanya.

Sedang Bupati Klaten yang diwakili Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes) Kabupaten Klaten Jaka Purwanto mengapresiasi dan menyambut baik diadakannya webinar yang mengusung tema Desapolitan ini.

“Pemerintah Kabupaten Klaten mengucapkan selamat atas Dies Natalis ke 58 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Semoga civitas akademika UGM selalu memiliki semangat yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Narasumber Direktur BUMDes “Seguro” Jimbung Sri Winata dalam paparan menyampaikan, visi desapolitan adalah mewujudkan pembangunan smart village di kawasan desapolitan desa wisata inovatif berbasis BUMDes di Kabupaten Klaten.

Sedang misi desapolitan yaitu pertama, mengembangkan masyarakat desa cerdas, inovatif, kreatif berbasis digital ekonomi wilayah. Kedua, mengembangkan manajemen kolaboratif BUMDes di kawasan strategis desapolitan desa wisata inovatif. Dan ketiga, mengembangkan sociopreneurship program wisata desa inovatif berkelas dunia.

Selama ini, ketiga desa yang termasuk kawasan desapolitan tersebut yaitu Desa Jomboran, Desa Krakitan (Kecamatan Bayat), dan Desa Jimbung telah mempunyai BUMDes dan sudah mengembangkan potensi wisata yang ada di desanya.

Desa Jomboran misalnya, mempunyai Kafe Kopi Sawah dengan sekitar 60 ribu pengunjung dalam satu tahun. Desa Krakitan mempunyai Photorium Bukit Patrum, Bukit Sidoguro, Taman Nyi Rakit, dan Rowo Jombor dengan 50 ribu pengunjung. Dan Desa Jimbung dengan Taman Bulusan dan Alun-Alun Jimbung dengan 30 ribu pengunjung. Belum lagi, Tradisi Syawalan dengan acara Sebar Ketupat yang mampu menghadirkan sekitar 50 ribu pengunjung.

“Saat ini kita sedang membangun ASTP atau Agriculture Science Tekno Park di kawasan Alun-Alun Jimbung. Insya Allah, pada bulan Desember nanti, ASTP siap di-launching. Kita berharap, dengan berkembangnya BUMDes dan semakin dikenalnya potensi wisata yang ada, desapolitan bisa menjadi desa yang mandiri,” harapnya.

Kepala Desa Jomboran Agung Widodo saat menjadi narasumber Webinar “Pusat Inovasi Desa Untuk Mendukung Sustainibilitas Desapolitan”, Jumat (10/9/2021) pagi.

Sedang Kepala Desa Jomboran Agung Widodo menyatakan, asas pembangunan desapolitan yaitu asas gotong royong, asas kawasan desa, dan asas kemakmuran bersama.

“Untuk mewujudkan visi dan misi desapolitan, maka diperlukan gerakan pentahelix atau gotong royong dari banyak pihak. Seperti dari kalangan university (academics), professional (association), investmen (partners), industry (business), dan community (government),” terangnya.

Kades Agung Widodo mengatakan, di periode awal menjadi kepala desa, Pemerintah Desa memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih, jamban, listrik, dan rehab rumah tidak layak huni (RTLH).

“Kita sudah berhasil melakukan penyambungan air PDAM untuk 401 rumah, pembuatan jamban 150 unit, pemasangan listrik untuk 25 rumah, dan rehab rumah tidak layak huni. Dan sampai saat ini, untuk RTLH masih kita anggarkan,” paparnya.

Kades Jomboran mengemukakan, setelah kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, maka Pemerintah Desa mulai memprioritaskan dana desa untuk pembangunan ekonomi desa. Caranya dengan melalui pendirian BUMDes dan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Pada tahun 2017 kita mendirikan BUMDes “Bodronoyo” Jomboran. Pendirian BUMDes ini untuk pertama, optimalisasi aset desa untuk kemanfaatan dan kesejahteraan masyarakat. Kedua, meningkatkan perekonomian desa dengan pendapatan asli desa. Dan ketiga, membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran,” jelasnya.

Sekretaris Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Klaten ini mengutarakan, pada tahun 2019, Pemdes Jomboran mulai memprioritaskan dana desa untuk pemberdayaan UMKM.

Pemberdayaan UMKM ini bertujuan untuk satu, menumbuhkan potensi ekonomi masyarakat. Dua, meningklatkan kualitas produk UMKM. Tiga, membuka peluang dan jaringan pasar UMKM. Dan empat, mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Sebelum menerima bantuan UMKM, warga diminta untuk membentuk kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5 orang. Mereka kemudian wajib untuk membuat proposal. Sedang seleksi untuk menentukan layak atau tidaknya suatu kelompok UMKM untuk menerima bantuan dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemerintah Kecamatan, akademisi, dan sebagainya.

“Anggaran bantuan untuk UMKM ini kita tambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2019 kita berikan bantuan sebesar Rp35 juta untuk 16 kelompok UMKM. Tahun 2020 sejumlah Rp90 juta. Dan tahun 2021 ini dianggarkan Rp140 juta,” ungkapnya.

Sekretaris Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Kabupaten Klaten ini mengungkapkan, dalam membangun desa dan menyejahterakan masyarakat, kepala desa tidak bisa melakukannya sendiri. Kepala desa tidak mungkin one man show.

“Harus ada gerakan pentahelix atau gotong royong dari leader, akademisi, tim thank, civil society, dan didukung finansial atau dana. Maka, kami melibatkan para akademisi dari UNS Surakarta, UGM Yogyakarta, Politeknik Keuangan Negara STAN Jakarta, Unwidha Klaten, dan STIKES Muhammadiyah Klaten. Kami juga menyiapkan tim thank, yang kami beri nama Tim Super yang beranggotakan 7 orang di luar struktur Pemdes. Kami juga menggandeng masyarakat. Intinya, dalam membangun desa tidak cukup dengan uang saja. Atau mbangun desa ora cukup nganggo duwit,” paparnya.

Suasana Kafe Kopi Sawah Desa Jomboran pada malam hari.

Sementara itu Direktur Perencanaan Pembangunan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi RI Dewi Yuliani menjelaskan, untuk membangun kemandirian, desa perlu berinovasi dan berkolaborasi. Salah satunya dengan melalui desapolitan ini.

“Pengembangan desa wisata menjadi cara ampuh dalam pemulihan ekonomi masyarakat (akibat pandemi Covid 19). Karena industri wisata berkontribusi kepada pelaku usaha dan masyarakat. Maka, masyarakat harus cerdas dan kreatif,” tandasnya.

Dewi Yuliani menandaskan, dalam membangun kawasan desapolitan, harus ada potensi yang dikembangkan dan keunggulan yang  ditampilkan, sehingga masing-masing desa memperoleh keuntungan dan memiliki daya saing.

“Prinsip dari desapolitan itu adalah kebersamaan dan kegotongroyongan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan. Kawasan desapolitan terbentuk karena ada kerjasama. Kerjasama yang bukan dipaksakan. Tetapi karena kesadaran dan kebutuhan bersama,” tegasnya.

Sedang Ketua Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi Universitas UGM Yogyakarta Prof Suratman mengatakan, untuk membangun kawasan desapolitan harus dimulai dari akar rumput. Selain itu, harus ada inovator, kreator, motivator, dan sociopreneurship.

“Untuk itu, mari berinovasi bersama kami. Karenanya, saya minta para kepala desa untuk merenung. Merenungkan apa yang harus dilakukan untuk masyarakat. Agar kepala desa bisa melahirkan inovator, kreator, motivator, dan sociopreneurship,” pesannya.

Prof Suratman menambahkan, untuk membangun Indonesia diperlukan role model lebih dulu. Diantaranya dengan menggabungkan science dengan riset. Sehingga terbentuklah Pusat Inovasi Desa.

“Kita ingin, Pusat Inovasi Desa ini menjadi kampusnya orang desa se Indonesia dan bahkan dunia,” harapnya.

Pos terkait