WartaKita.org – Saat ini, konsumen sudah sangat terkoneksi dengan segala aplikasi. Identifikasi mengenai dampak digitalisasi menjadi penting dan tidak dapat dikelola dengan pendekatan pemasaran tradisional.
Pembelajaran perilaku konsumen dan perubahan yang terjadi pada mereka perlu didekati dengan pendekatan pemasaran digital yang lebih komprehensif.
Pernyataan ini disampaikan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Fransisca Desiana Pranatasari pada kegiatan Penerapan Strategi Pengentasan Kemiskinan Melalui Penguatan Usaha Ekonomi Produktif Anggota Credit Union (CU) Tyas Manunggal Ganjuran, Kabupaten Bantul, DIY di Bueno Colombo Hotel Jalan Raya Jogja – Solo Km 14 Kalasan, Sleman, DIY pada Selasa (21/12/2021).
Kegiatan ini merupakan Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Ditjen Ditristek Tahun Anggaran 2021.
Pelatihan penguatan usaha ekonomi produktif ini diikuti oleh puluhan peserta dengan beragam usaha.
Fransisca Desiana Pranatasari menyatakan, ada sejumlah strategi yang perku dilakukan dalam pemasaran digital ini. Pertama, membangun persona pembeli. Kedua pemetaan perjalanan pelanggan secara digital (digital customer journey). Ketiga, melibatkan pelanggan melalui media digital yang dimiliki perusahaan. Dan keempat, strategi konten untuk setiap fase saluran pemasaran digital.
“Customer experience dan customer journey tidak dapat dilepaskan walau sudah dalam era pemasaran digital. Pemahaman akan customer experience ini bertujuan untuk satu, mempermudah pelanggan dalam berinteraksi dengan perusahaan. Dua membuat hidup pelanggan lebih mudah. Dan tiga, menghilangkan kecemasan dari pelanggan,” katanya.
Sisca menerangkan, ada sejumlah strategi untuk membangun hubungan baik dengan konsumen di era digital ini. Pertama, membangun kejelasan merek. Kedua, mengelola media sosial. Ketiga, membuat dan kurasi konten. Keempat, personalisasi pengalaman pelanggan. Dan kelima, memanfaatkan komunitas merek.

Sementara itu narasumber kedua yang juga Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Stephanus Eri Kusuma menjelaskan, pelaku usaha perlu menjaga hubungan baik dengan konsumen. Karena berdasarkan hasil studi, lebih dari 20 persen konsumen yang puas terhadap layanan konsumen dan hubungan konsumen akan merekomendasikan produk kepada orang lain atau bahkan membelikan produk tersebut untuk orang lain.
“Selain itu, sekitar 86 persen konsumen rela membayar lebih mahal demi mendapatkan layanan konsumen yang lebih baik dibandingkan bisnis sejenis,” tandasnya.
Eri mengemukakan, ada 7 dimensi layanan konsumen yang perlu diperhatikan pelaku usaha. Satu, (mengenai) waktu dan ketepatan. Dua, kelengkapan. Tiga, kesopanan. Empat, konsistensi. Lima, aksesibilitas dan kenyamanan. Enam, akurasi. Dan tujuh, responsivitas.
Eri menambahkan, pelaku usaha perlu mengadakan kegiatan promosi dalam rangka kegiatan hubungan konsumen. Caranya bisa dengan pertama, membebaskan biaya kirim (free ongkir). Kedua, menawarkan cashback. Ketiga, flash sale. Keempat, beli 1 gratis 1. Kelima, memberikan gift atau produk ekstra. Dan keenam, pengumpulan poin rewards.
“Di samping itu, bisa juga dengan cara membagikan voucher atau kupon promo, memberikan garansi, menggunakan tester, menawarkan harga khusus untuk pembelian grosir, memberikan giveaway, dan lainnya,” terangnya.









