WartaKita.org – Acara Sadranan yang diadakan warga Dukuh Dalangan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pada Jumat (28/2/2025) sore ini sungguh unik dan berbeda dari sadranan yang diadakan di tempat lain.
Dalam sadranan ini diadakan udik-udik duwit (menebarkan uang logam) yang kemudian diperebutkan oleh pengunjung yang hadir. Udik-udik duwit ini sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima warga dan berbagi sedekah kepada sesama.
Sadranan yang digelar di areal Masjid Bubrah atau Masjid Mbah Bolu Dalangan ini dihadiri ratusan warga.
Sesepuh Dukuh Dalangan, Sabari Broto Suyanto (81) menyampaikan, Sadranan Dalangan ini diawali dengan doa bersama untuk mendoakan arwah leluhur, utamanya yang dimakamkan di makam Dukuh Dalangan. Warga berdoa agar arwah para leluhur mereka diterima Tuhan.
“Kita ingin nguri-uri tradisi dan budaya yang ada di Dukuh Dalangan ini, yaitu sadranan yang diadakan pada hari Jumat terakhir di bulan Ruwah,” katanya.
Sabari Broto Suyanto menjelaskan, dalam sadranan ini diadakan udik-udik duwit berupa uang logam dan uang kertas. Dalam udik-udik ini, warga menebar uang logam dari bangunan Masjid Bubrah dengan cara dilemparkan ke arah kerumunan pengunjung. Pengunjung pun lalu berebut atau rayahan uang logam itu dengan penuh semangat.
“Udik-udik duwit ini adalah suatu tradisi dimana warga mengungkapkan rasa syukurnya dengan memberikan sedekah kepada orang lain yang diwujudkan dengan cara menebarkan uang logam dan sebagian uang kertas,” ujarnya.
Sabari mengatakan, Sadranan Dalangan dengan udik-udik duwit ini menarik perhatian dan menjadi kerinduan bagi banyak orang. Warga yang berdomisili di luar Dalangan seperti di Jogja, Jakarta, dan sebagainya pun selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung guna mengikuti sadranan ini.
“Yang ikut udik-udik duwit ini dari berbagai dukuh atau daerah. Mereka ikut bergembira. Ada yang tidak ikut sadranan, tetapi ikut udik-udik. Dan rasanya memang menyenangkan. Bahkan dalam keadaan hujan pun, masyarakat sangat antusias,” tandasnya.
Sabari menjelaskan, tradisi udik-udik duwit ini sudah berlangsung lama. Menurutnya, tradisi ini sudah ada sejak Mbah Kartorejo (kakek nenek Sabari) Dalangan.
“Kalau dulu, uangnya (yang digunakan untuk udik-udik) masih berwujud sen, benggol dari tembaga itu. Tetapi kalau sekarang, uangnya logam. Kalau dulu, setiap hari Jumat ada orang yang udik-udik duwit untuk ngluwari nadar. Tetapi yang paling banyak dan meriah, ya pada sadranan ini,” terangnya.

Sedang Panitia Sadranan Dalangan, Imam Murtanto (63) menjelaskan, dalam sadranan ini juga diadakan udik-udik duwit. Ritual ini untuk shodaqoh.
“Untuk tahun ini, uang yang diudik-udik bisa mencapai sekitar Rp15 juta. Sedang orang yang ngudik-udik duwit lebih dari 50 orang. Rata-rata, setiap orang menebarkan uang Rp500 ribu. Bahkan ada yang sampai Rp1 juta,” ungkapnya.
Imam Murtanto mengemukakan, dalam udik-udik duwit ini, biasanya yang disebar adalah uang koin atau uang logam. Sebab kalau uang kertas bisa robek saat diperebutkan.
“Udik-udik duwit ini sifatnya bebas. Warga dari manapun boleh ikut. Maka, ada warga dari Jakarta, Jogja, Solo, Klaten, dan sebagainya yang ikut udik-udik duwit,” tandasnya.
Sementara itu salah satu warga yang ngudik-udik duwit, Chosy mengaku, setiap tahun ia ikut kegiatan sadranan ini. Tahun ini, ia menebar uang logam sekitar Rp1 juta. Terdiri dari uang logam Rp500, Rp200 dan Rp1.000.
“Saya ikut sadranan ini dari dulu, sejak kecil. Ini untuk nguri-uri tradisi dan budaya kita. Sejak kecil, saya sudah ikut udik-udik duwit. Dan sekarang, giliran saya ikut ngudik-udik duwit. Ini sebagai wujud syukur atas nikmat Allah,” kata warga Dukuh Kauman, Desa Kalitengah ini.
Terkait, Kamila Manday, warga dari Dukuh Klumutan yang ikut udik-udik duwit mengaku senang bisa mengikuti tradisi Sadranan Dalangan ini.
“Ini saya ikut berebut uang logam. Senang rasanya bisa ikut rebutan uang bareng yang lain. Sampai sekarang saya sudah dapat sekitar Rp80 ribu. Uang ini mau saya pakai buat jajan,” kata mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.
Tradisi Sadranan di Masjid Bubrah Dalangan tahun 2026 ini berlangsung meriah dan gayeng. Pengunjung antusias berebut uang logam sampai menjelang Maghrib.









