Milikilah Adab, Perhatikan Etika 

Teruslah berbuat baik kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun Anda berada.

SEKOLAH merupakan tempat seseorang untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Harapan orangtua ketika memasukkan anaknya ke sekolah supaya ia menjadi seorang yang terdidik.

Namun, apakah para pelajar sekarang seperti yang diharapkan oleh orangtuanya?

Kesantunan atau etika dalam berkomunikasi saat ini sepertinya mulai ditinggalkan oleh generasi milenial. Mereka cenderung lebih suka menggunakan kata-kata gaul dalam berkomunikasi sehari-hari.

Kasus yang terjadi di lingkungan sekolah pun tak jauh berbeda. Kesantunan berbahasa ketika berkomunikasi dengan warga sekolah sudah mulai memudar. Jangankan sesama teman, dengan guru saja mereka tidak memperhatikan etika berkomunikasi. Apalagi dengan guru yang mereka anggap sudah akrab. Etika yang seharusnya diterapkan malah tidak diperhatikan.

Ada banyak faktor yang memengaruhi hilangnya kesantunan dalam berkomunikasi. Diantaranya kurangnya perhatian dari orang tua, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi.

Pengajaran kesantunan berkomunikasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Anak-anak harus dilatih tentang bagaimana caranya bertutur dengan baik dan benar, bagaimana caranya bersikap ketika berkomunikasi dengan seseorang, dan sebagainya.

Mereka sebaiknya memperhatikan siapa orang yang mereka ajak berkomunikasi. Banyak pula dijumpai mengenai moral anak milenial yang jauh dari kata sopan. Entah siapa yang salah?

Indonesia merupakan negara yang menomorsatukan sopan santun dalam hal apapun, terutama di dalam dunia pendidikan. Seorang yang sudah masuk ke dunia pendidikan wajib menerapkan kesantunan dalam beretika.

Seorang yang dididik harus patuh dan mengikuti aturan yang telah diterapkan. Sebaiknya, seorang pendidik harus memberikan contoh bagaimana cara menerapkan aturan tersebut. Ketika semuanya seimbang, maka komunikasi yang akan dijalankan akan lebih nyaman.

Selain dari cara berkomunikasi, kesantunan dalam berpakaian juga mulai memudar. Kebanyakan dari generasi milenial mudah mengikuti trend-trend fashion. Padahal, tidak semua trend tersebut sesuai syari’at, bahkan hampir mirip dengan budaya barat. Mereka tidak ingin ketinggalan supaya tetap bisa dikatakan sebagai anak gaul.

Tentu, ada akibat dari cara berpakaian ini. Salah satunya adalah pelecehan seksual.

Belakangan ini, kerap terdengar berbagai macam kasus pelecehan seksual yang terjadi di dunia pendidikan. Kasus tersebut sering dijumpai di lingkungan sekolah, kampus, bahkan sampai ke pesantren. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh nafsu seseorang yang sulit dikendalikan.

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa pelecehan terjadi karena pakaian yang dikenakan oleh korban terlalu ketat, sehingga memancing pelaku untuk melakukan pelecehan.

Pelecehan seksual menjadi hal yang sangat tabu untuk dibicarakan di ranah pendidikan. Padahal, pencegahan dari kasus tersebut harus segera dilakukan.

Dunia pendidikan yang seharusnya dapat menciptakan generasi yang berguna bagi bangsa, justru malah dijadikan sebagai perusak generasi. Pelaku dari kasus tersebut tak lain adalah seorang pengajar. Mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi seorang penuntut ilmu, ternyata mencuri kesempatan untuk dapat melampiaskan nafsunya.

Entah bagaimana kasus-kasus tersebut dapat terjadi. Bahkan di dunia yang menurut orang-orang dijadikan sebagai tempat untuk menimba ilmu. Banyak pula lembaga pendidikan yang menutupi kasus ini dari dalam supaya citra lembaga tersebut tetap terjaga. Akan tetapi, ketika hal itu dibiarkan, maka kasus tersebut akan menjadi budaya di lembaga tersebut. Lebih parahnya lagi, apabila seorang yang dididiknya akan meniru perbuatannya.

Kasus pelecehan seksual harus lebih diperhatikan oleh lembaga pendidikan. Karena jika dibiarkan terus-menerus, maka generasi bangsa akan rusak secara perlahan. Mental mereka akan terganggu akibat kasus itu. Dan yang lebih fatal lagi, ketika mereka terlanjur malu dengan perbuatan yang menimpanya, akan mengangap bahwa bunuh diri adalah solusinya.

Fenomena-fenomena pendidikan saat ini terlihat semakin mengerikan. Semakin hari, semakin sulit untuk memercayai lembaga yang ber-notabene mendidik generasi penerus bangsa.

Anak balita misalnya, adalah insan yang belum mengerti apa-apa. Ia akan tumbuh menjadi seseorang sebagaimana keadaan yang mendidiknya. Jika ia menemukan lingkungan yang baik, maka akan menjadi anak yang baik pula. Namun sebaliknya, jika lingkungannya kurang mendukung ke hal-hal yang baik, maka ia akan tumbuh menjadi seorang yang kurang baik pula.

Berdasarkan kasus-kasus tersebut, peran seorang guru sangat dibutuhkan. Guru merupakan orangtua ketika berada di lingkungan sekolah. Guru sebaiknya dapat mengajarkan mengenai kode etik dalam berkomunikasi saat berada di lingkungan pendidikan.

Ketika anak percaya dengan gurunya, ia akan mematuhi arahan dari guru itu. Sehingga peserta didik akan lebih mudah untuk diberitahu hal yang benar dan yang salah.

Guru merupakan suri tauladan bagi peserta didiknya. Guru harus menerapkan etika-etika yang ada supaya peserta didik dapat menirunya. Peserta didik akan dengan mudah menyalahkan seorang guru ketika guru tersebut melenceng dari etika. Saat mereka mendengar guru melakukan suatu tindakan yang kurang baik, mereka akan menirunya karena menganggap guru adalah seorang yang harus dicontoh.

Adapun peran orangtua juga sangat penting. Saat di rumah, orangtua adalah guru dari anak-anaknya. Orangtua mengemban amanah yang besar.

Mereka bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Mereka dituntut supaya anak-anaknya menjadi seorang yang berperilaku baik. Orangtua yang berhasil mendidik anak-anaknya, anak tersebut akan memiliki perilaku yang baik.

Menjadi seorang yang beretika juga tidak akan merugikan siapapun. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Seorang yang berilmu belum tentu beradab, seorang yang beradab pasti berilmu”.

Pepatah tersebut berarti setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki seseorang, ketika ia tidak memiliki adab, maka ilmunya akan sia-sia. Namun, seseorang yang beradab akan dianggap bahwa ia memiliki banyak ilmu. Hal tersebut dikarenakan seorang yang beradab akan menghargai antar sesama. Ia tahu kalau saling menghargai itu sangat penting.

Maka dari itu, sebagai seorang yang terdidik seharusnya dapat menyadari bahwa adab itu sangat penting. Seorang yang beradab secara tidak langsung akan dihormati oleh siapapun, baik orang yang lebih muda maupun orang yang lebih tua darinya. Seorang yang mengedepankan adab dalam hal apapun, akan dipandang sebagai seorang yang berwibawa, bijak, dan rendah hati.

Oleh karena itu, mari tetap memerhatikan etika dalam segala hal. Ketika seorang mematuhi aturan yang ada, hidupnya akan tenteram karena terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ia tidak akan memiliki musuh, mungkin bisa jadi malah memiliki banyak teman dan disukai banyak orang. Saat ia membutuhkan bantuan pun, pasti akan ada seorang yang membantunya, siapapun itu.

 

(Athina Prabawa, Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)

Pos terkait