Mie Indigo Bikin Penasaran, Banyak Pembeli Yang Datang Ingin Membuktikan…

Elia Istiana memperlihatkan menu andalan Mie Indigo.

WartaKita.org – Ada banyak cara bisa dilakukan seseorang untuk menarik perhatian atau membuat orang lain penasaran.

Hal ini juga dilakukan oleh Elia Istiana, warga Dukuh Kenteng RT 01 RW 03, Desa Jaten, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Bacaan Lainnya

Dia membuka warung makan di Jalan Solo – Jogja, tepatnya di Dukuh Keron RT 03 RW 01 Sidorejo, Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten utara, Kabupaten Klaten yang dinamai “Mie Indigo”. Kok Mie Indigo?

Elia Istiana menceritakan, pada awalnya, keluarganya memang suka melihat tayangan seputar film “indigo” di TV. Dan kebetulan, mereka mau membuka warung makan, tetapi belum ada namanya.

“Kira-kira mau dikasih nama apa ya? Ndilalah (kebetulan) saat kita lihat TV bareng-bareng, kok ada tayangan film indigo. Dan ternyata tayangannya bagus. Lalu kita sepakat, bagaimana kalau warung makan kita diberi nama indigo. Nama yang lain daripada yang lain,” katanya.

Perawat Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten itu menyatakan, ternyata nama Mie Indigo ini menarik dan membuat orang penasaran. Buktinya, banyak orang yang datang ke warungnya yang berada di depan RSI Klaten itu.

“Indigo dalam pikiran banyak orang, pasti berkonotasi dengan orang yang punya kelebihan. Dari nama itu, orang jadi bertanya-tanya, Mie Indigo itu apa to? Akhirnya, orang-orang pada datang ke sini dan langsung merasakan Mie Indigo. Indigo itu adalah singkatan Ini Digemari Orang,” ujarnya.

Istri Dwi Prabawa ini menjelaskan, ada sejumlah menu andalan yang ditawarkan warung Mie Indigo ini. Ada Mie Indigo Toping Kornet Sapi, Mie Indigo Toping Jamur, dan Mie Indigo Toping Bakso. Selain itu, juga menyediakan dimsum dan aneka minuman seperti es teh atau teh hangat, es jeruk atau jeruk hangat, coffe Espreso Ala, Susu Hijauku, dan Susu Cintaku.

“Paling banyak diminati pembeli adalah Mie Indigo toping kornet sapi dan toping bakso. Ini paling banyak, dan paling cepet habisnya. Sedang untuk toping jamur, kita beli langsung dari petani. Namanya jamur kancing. Kita bekerjasama dengan teman-teman yang membudidayakan,” terangnya.

Elia menerangkan, Mie Indigo menyajikan menu mie dengan tingkat atau level kepedasan mulai dari original sampai ekstra pedas. Dan ini cocok dengan mereka yang penyuka pedas.

“Kita sediakan sampai level 10. Tapi yang paling banyak disukai level 5. Kalau anak-anak banyak  yang minta level 1 atau sedang.

Mie Indigo toping kornet sapi.

Elia menambahkan, dalam sehari, warungnya bisa menghabiskan mie sampai lima kilo, atau sekitar 50-60 porsi. Tetapi kalau pas weekend, bisa lebih dari itu.

“Sebelum ke sini (depan RSI Klaten), kita juga sudah melayani (pembeli) di rumah dulu. Makanya kita sampai di sini siang. Di sini juga nggak kelihatan ada banyak orang yang duduk dan makan. Karena pembeli biasanya datang, pesan, kita layani, dan pulang. Pembeli rata-rata dari sekitar Klaten. Tetapi jga ada yang dari Solo. Mereka mencari sampai di sini,” paparnya.

Dia mengemukakan, perbedaan Mie Indigo dengan mie lainnya terletak di bumbu.

“Bumbu kita alhamdulillah lebih enak dan beda. Karena bapak (suaminya) itu dulu bekerja di hotel. Bapak belajar bagaimana membikin mie yang beda dengan mie lainnya. Bapak belajar membuat resep mie seperti di hotel bintang lima. Kemudian kita aplikasikan makanan kok enak, kok beda dengan yang lain. Terus kita jual,” tandasnya.

Harga per porsi Mie Indigo ini sangat terjangkau pembeli. Harga dari Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, tergantung topingnya.

“Warung kami buka dari jam 11.00 sampai jam 19.00, setiap hari. Dan insya Allah, kalau hari Jumat kita off (libur),” ucapnya.

Pos terkait