Meski Tunanetra, Sarno Edy Mbedut Terus Berkarya, Ciptakan 40 Lagu, Rekaman Dengan Biaya Mandiri

Sarno Edy Mbedut bersama Masro'in saat tampil menghibur pengunjung di Jimbung Tebing Gebyok (JTG), Selasa (12/7/2022).

WartaKita.org – Selalu ada kelebihan di balik kekurangan atau kelemahan seseorang.

Seperti yang dialami Sarono (57), warga Dukuh Jiwan RT01 RW 11, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten.

Bacaan Lainnya

Pada tahun 2007, Sarono menderita sakit, sehingga membuatnya tidak bisa melihat atau tunanetra sampai sekarang.

Namun di balik keterbatasan indranya itu, ternyata bapak dua orang anak ini mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mencipta lagu. Bahkan hingga sekarang, Sarno sudah menciptakan sekitar 40 lagu dan membuat album. Karya lagunya itu bisa ditonton di  youtube dengan title atau nama “Sarno Edy Mbedut”.

“Saya sudah membikin sekitar 40-an lagu. Seperti Prahara 1, Prahara 2, Bukit Sidogura, Rawa Jombor Jadi Saksi, JTG (Jimbung Tebing Gebyok) yang baru syuting, Gombal Gambul, dan sebagainya. Saya juga pernah rekaman. Rekaman pertama tahun 2013 di Solo. Lagunya Prahara 1, Penyesalan, Belenggu Cinta, Ijinkanlah, Pengemis Tua, dan lainnya. Ada 10 lagu di album ini. Lagu ini menceritakan tentang peristiwa Bom Bali dan bencana alam di Indonesia,” katanya, Selasa (12/7/2022).

Edy Mbedut menyampaikan, sebelum mengalami kebutaan, ia bejualan pakaian di Terminal Paseban, Bayat bersama istrinya. Mereka berjualan pakaian daster, kaos, dan lain-lain untuk para peziarah yang mengunjungi makam Sunan Pandanaran Bayat.

“Saya membuat lagu itu untuk hiburan, menambah wawasan dan pergaulan dengan teman-teman. Dan kalau bisa, untuk menambah penghasilan. Karena lagu itu adalah karya. Entah kapan dikenal orang, kita tidak tahu,” ujarnya.

Sarno Edy Mbedut bersama Masro’in saat mencipta lagu di rumahnya, Selasa (12/7/2022).

Sarno menjelaskan, dalam proses mencipta lagu, ia memakai gitar. Ia menyanyikan lirik lagunya. Sedang sang istri yang menulis dan merekam memakai handphone (HP).

“Dulu waktu belum punya HP, ya pakai tape recorder kecil. Tetapi sekarang, istri saya yang terlibat. Karena saya tidak bisa menulis. Selama ini, saya ya mengandalkan feeling (perasaan) saja. Sekarang ada feeling, saya lalu ambil gitar, dan istri saya yang menulis lirik lagunya,” ungkapnya.

Sarno menambahkan, setelah mengarang lagu, biasanya, aransemen musiknya itu lalu digarap oleh teman-temannya. Penggarapan aransemen hingga menjadi lagu ini dengan biaya sendiri atau mandiri

“Ya, dengan modal (biaya) saya sendiri. Karena nggak ada produser. Sehingga saya kerja sama istri, dan kalau ada sisa penghasilan sehari-hari ditabung. Kalau sudah cukup (untuk membiayai) satu lagu, dua lagu, baru kita bikin aransemennya,” paparnya.

Suami dari Masro’in ini mengemukakan, biaya untuk aransemen satu lagu, mengisi vokal, dan lainnya yang murah itu sekitar Rp1,5 juta. Semakin bagus aransemennya, maka akan semakin mahal, dan bisa mencapai Rp2 juta.

“Saya pernah membuat album. Kaset dan CD-nya juga ada. Album pertama saya itu title-nya Prahara 1. Di album pertama ini, saya menggandeng tiga penyanyi wanita, yaitu Julia Axelia, Ririn Emyliana, dan Kings Samudra,” tandasnya.

Album Prahara 1 karya Sarno Edy Mbedut.

Edy Mbedut mengatakan, karakter karya laguya itu sangat komplit. Ada dangdut murni, campursari, DJ, rock, rock dangdut, dan sebagainya.

“Saya berharap, kalau bisa, lagu karya saya ini bisa dikenal masyarakat luas. Karena itu, saya akan terus menciptakan lagu selama masih diberi umur panjang. Karena seni itu tidak ada batas usia. Sampai kapanpun, sesuai kemampuan kita,” tegasnya.

Sementara itu Masro’in (50), istri Edy Mbedut, mengaku ada suka dan duka selama mendampingi suaminya dalam menciptakan lagu.

“Misalnya saat meng-aransemen lagu, saya suka nambahi kata-katanya, dan bapak merasa nggak cocok, maka biasanya terus “ribut”. Karena beda pendapat. Tetapi apapun, saya akan terus mendukung, men-support bapak untuk terus berkarya. Saya ingin agar karya lagunya bapak bisa diterima masyarakat,” ucapnya.

Pos terkait