Menjamu Delegasi G20 Di Magelang, Temanku Lima Benua Gelar Performance Art Dan Exhibition “Culture For Sustainable Living”  

Temanku Lima Benua saat persiapan sebelum menggelar performance art dan exhibition di Balkondes Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Minggu (11/9/2022) malam.

WartaKita.org – Pegiat seni dari Sanggar Lima Benua Dukuh Geritan, Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Temanku Lima Benua akan menggelar performance art (pertunjukan seni) dan exhibition (pameran) di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Ngargogondo The Gade Village, Jalan Malangan, Karang Bawang, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (11/9/2022).

Performance art dan exhibition bertajuk “Culture for sustainable living” (kebudayaan untuk kehidupan berkelanjutan) ini dimaksudkan untuk menjamu para Delegasi G20 dalam kegiatan “Culture Ministers Meeting”  (CMC) G20 di Candi Borobudur pada 11 hingga 14 September 2022.

Bacaan Lainnya

Temanku Lima Benua menyampaikan, culture for sustainable living ini menggabungkan secara makro antara Psikologi Jawa dan Teori Barat.

Dulu nenek moyang kita kalau menyapu, sampahnya lalu dipendam atau dibakar. Tetapi jaman sekarang, sampah itu dikumpulkan di sanitary landfill (tempat pembuangan sampah akhir). Ini Teori Barat.

Dulu, kalau mau petik mangga, ya ditunggu sampai matang. Tetapi sekarang, kalau mau makan mangga, ya membeli dari hasil tebasan. Ini karena model kapitalis.

Dulu, orang harus tanam pohon jati, atau pelihara hutan dulu. Ketika membutuhkan kayu, ya menebang pohon secukupnya, sak butuhe. Kalau sekarang, orang harus menebang ratusan pohon secara bersamaan. Sebab kalau tidak begitu, ya tidak untung.

Nah, culture for sustainable living itu adalah gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan yang bertujuan meminimalisir kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia dalam setiap aspek kesehariannya,” katanya.

Perempuan yang akrab disapai Benua ini mengatakan, konsep culture for sustainable living ini sejalan dengan Psikologi Jawa yang diajarkan oleh Ki Ageng Suryomentaraman, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Raja Kesultanan Yogyakarta, yaitu Kawruh Jiwa.

Kawruh Jiwa adalah kesediaan manusia untuk melepaskan segala atribut keangkuhan, bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan masyarakat dapat hidup damai dan sejahtera.

Konsep culture for sustainable living ini sebenarnya sederhana. Kalau kita melihat hutan, bayangkan seperti kulkas. Maka, ambillah yang ada di hutan itu sak butuhe, sak cukupe wae. Aja kok jupuk kabeh. Kalau kita mau nurahi anak karo putune, ya njupuk sabutuhe. Ora sah kemrangga. Dadi wong sak cukupe wae. Enough (secukupnya) dan necessary (seperlunya). Maka semuanya akan merasa senang.

“Ternyata, ajaran Kawruh Jiwa ini sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang juga ada dan berkembang di Kalimantan, Papua, Sumatera, Sulawesi, Jawa, dan sebagainya. Hal ini sudah menjadi local wisdom (kearifan lokal),” ujarnya.

Seorang pekerja melakukan persipan performance art dan exhibition bertajuk “Cultural sustainabel living”.

Mahasiswa Jurusan Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memaparkan, dalam performance art dan exhibition itu, konsep culture for sustainable living tersebut ditulis, digambar, serta ditunjukkan dalam gambar-gambar. Konsep culture for sustainable living ini dikembangkan dalam tiga bab kuratorial.

Bab pertama mengenai masa lalu. Masa lalu itu tergambarkan pada peta dunia dan peta Indonesia yang eye cathing atau menarik perhatian.

Sedang bab kedua mengenai masa kini. Masa kini itu tergambar dalam pertemanan. Ini sesuai dengan tema G20 yaitu “Recover Together, Recover Stronger“. Melalui tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

Performance art dan exhibition yang mengusung tema culture for sustainable living ini menjadi relevan karena ada ratusan delegasi atau perwakilan dari 20 negara yang hadir di Balkondes Ngargogondo ini.

Event ini menjadi sesuatu yang positif untuk membangun citra Indonesia dan menjadi ajang diplomasi budaya. Karena itu, kita memilih tema-tema yang inklusif, dan kalimat-kalimat yang populer di masa kini,”ungkapnya.

Sementara bab ketiga mengenai masa depan. Kalau mau lihat masa depan, maka lihatlah masa lalu. Kalau mau menghidupi masa depan, ya lihatlah masa lalu. Kalau nggak lihat sejarah, kita nggak bisa meramalkan masa depan. Kalau kita nggak bisa mengelola sampah, merawat hutan, maka kita tidak akan bisa mewariskan masa depan yang baik.

Menurut Benua, masa depan yang sebaiknya diwariskan ke anak cucu adalah udara yang bersih, air yang bersih dan jernih, tanah yang subur, dan sebagainya. Itu akan terjadi kalau kita punya hutan. Karena fungsi hutan adalah menahan air.

“Dengan adanya hutan, pasti akan ada sungai, ada manusia, dan ada kebudayaan. Kalau di situ ada kebudayaan, pasti akan ada fauna. Inilah yang dinamakan culture for sustainable living. Jadi sebenarnya sangat sederhana,” tandasnya.

Dalam performance art dan exhibition ini, para pengunjung juga akan diajak melukis suasana Gunung Menoreh. Sedang gambar pulau-pulau di Indonesia itu diletakan di belakang pemandangan Gunung Menoreh.

Performance art dan exhibition ini digelar bersamaan dengan acara gala dinner yang dihadiri para delegasi dari G20 dan uandangan lainnya.

Pos terkait