Mengenang Peristiwa Proklamasi, Temanku Lima Benua Gelar Pameran “Sakura Di Katulistiwa” Di Munasprok Jakarta

Temanku Lima Benua saat menggelar pameran bertajuk “Sakura di Katulistiwa” dalam kegiatan Gebyar Kemerdekaan yang diadakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta pada Selasa (9/8/2022).

WartaKita.org – Pegiat seni Sanggar Lima Benua Dukuh Geritan, Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Temanku Lima Benua menggelar pameran bertajuk “Sakura di Katulistiwa” dalam kegiatan Gebyar Kemerdekaan yang diadakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) Jakarta pada Selasa (9/8/2022).

Kegiatan Gebyar Kemerdekaan yang berlangsung dari 9 Agustus sampai 10 September 2022 ini diinisiasi oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek RI.

Bacaan Lainnya

Temanku Lima Benua menjelaskan, pameran “Sakura di Katulistiwa” ini untuk mengenang kembali peristiwa-peristiwa menjelang detik-detik proklamasi, yaitu bagaimana hubungan persahabatan antara pejuang Indonesia dengan Jepang.

“Peristiwa ini digambarkan diatas kanvas berukuran 3 x 9 meter dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti bahan makanan dan empon-empon dengan latar belakang warna hitam ramuan dari tepung arang dengan tepung pati kanji,” katanya.

Benua menyampaikan, di tengah kanvas nampak gambar gunungan yang terdapat tulisan penyerahan, pereboetan, pemindahan, dioesahakan, selenggarakan, yang dicoret dengan warna merah pada tullisan penyerahan, pereboetan dan dioesahakan. Juga ada tugu petir, gunung, bunga, mahkota dan orang-orang.

Sedang di kanvas sebelah kanan tampak gambar peta Indonesia ada Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua. Ada gambar-gambar simbol dari suku adat yang ada di setiap pulau. Juga ada gambar orang dengan kepala menyerupai rumah minang, ada topeng, tameng, dan bunga.

Sementara pada kanvas sebelah kiri ada gambar tugu dengan gambar menyerupai orang dengan rambut panjang, spiker suara, pena, radio dengan angka 15, roket dengan tulisan angka 6, ada little boy yang di bawahnya ada angka 45. Ada topeng dengan tanduk. Tanduk kiri ada angka 6, dan tanduk kanan ada angka 9. Di tengah ada angka 140.000. Dan ada gambar kapal di atas lautan.

Temanku Lima Benua membasuh kaki Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek RI Hilmar Farid.

Mahasiswa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini menerangkan, material lukis menggunakan bahan makanan dan empon-empon merupakan simbol dari masyarakat adat di Indonesia yang kaya akan kearifan lokal dan lokal jenius yang mampu mengikuti jaman dengan kekayaan alam yang dipunyai.

Gambar abstrak yang ditampilkan penuh dengan simbol-simbol bagaimana proses teks proklamasi dirumuskan. Gunungan merupakan pembuka dalam setiap kegiatan adat ritual wayangan masyarakat Nusantara. Maka ada gunung Fuji yang memaknai persamaan antara Indonesia dan Jepang.

Dalam gambar pada kanvas sebelah kiri, ada tanggal 6 dan 9 pada tanduk topeng yang menyimbolkan pada tanggal 6 Agustus 1945 terjadi pengebomam di Hirosima Jepang dengan menggunakan pedang little boy, dan tanggal 9 Agustus 1945 terjadi pengeboman kembali di Nagasaki yang total menimbulkan korban jiwa kurang lebih 140.000 orang.

Dan pada tanggal 15 Agustus 1945 ada berita bahwa Jepang menyerah yang disiarkan di Menteng 31, atau sekarang Museum Juang 45, yang disimbolkan dengan radio, spiker suara dan pena, yang melambangkan para penulis berita diantaranya SK Trimurti.

Benua mengemukakan, tulisan pereboetan, penyerahan, pemindahan, dioesahakan, selenggarakan, merupakan potongan tulisan rumusan teks proklamasi yang mengalami beberapa perubahan, yang di rumuskan di rumah Laksamana Maeda, yang sekarang menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Di bawahnya ada gambar orang-orang dari berbagai suku adat menunggu hasil perumusan, yang juga bisa diartikan masyarakat yang sedang berbahagia karena merdeka.

Di sebelah kanan ada gambar latar belakang pembacaan teks proklamasi, yang menceritakan setelah selesai dirumuskan dan di tandatangani di Jalan Imam Bojol, kemudian di bacakan atau diproklamirkan di depan rumah Soekarno Pegangsaan. Ada tugu petir yang dibangun di masa pemerintahan Soekarno untuk menandai bahwa teks proklamasi dibacakan di tugu tersebut.

“Dengan memproklamasikan kemerdekaan, maka merdekalah Indonesia dengan pulau-pulaunya yang digambarkan dengan peta Indonesia dengan ragam budaya dan masyarakat adat dan kepercayaan,” ujarnya.

Temanku Lima Benua saat performance art bertajuk “Sakura Nusantara” dalam kegiatan Gebyar Kemerdekaan yang diadakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta pada Selasa (9/8/2022).

Sementara itu dalam performance art yang bertajuk “Sakura Nusantara”, Benua berdiri di tengah pulau Kalimantan sebagai Ibu Kota Nusantara (IKN), yang mampu memandang seluruh Nusantara. Cat merah diguyurkan pada tubuh sebelah kanan. Sedang cat putih diguyurkan pada tubuh sebelah kiri. Ini melambangkan tanah tumpah darah Indonesia yang menyatu dalam tubuhnya.

Sambil berjalan, warna-warna diguyurkan pada peta yang dilewati, seperti Swarnadwipa, Jawadwipa, Borneo, Celebes, dan Papua. Tapak-tapak kaki itu bagaikan Sakura di katulistiwa, Sakura di Nusantara.

“Seni (itu) untuk rakyat, untuk masyarakat… Seni bukan milik kaum menengah atas ……..yang ber-estetik semu?! (Kita) Menolak frame berfikir formalis… Seni adalah sesuatu yang tinggi, yang murah, yang serius, (yang) complicated dan eklusif….. Hidup itu tidak boleh meragu!…… (harus) berani…. art speed,” teriaknya.

Untuk diketahui, Benua ini lahir di pedesaan, tepatnya Dukuh Geritan, Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Sejak kecil, ia diasuh oleh almarhumah neneknya yang berumur 91 tahun, yang saat proklamasi, neneknya itu sudah berumur 14 tahun.

Itulah sebabnya sang nenek mengajari menggambar di atas tanah, karena saat neneknya masih kecil, lantai rumahnya masih tanah. Itu menjadi “buku abadi” bagi neneknya.

Saat neneknya mengaji (baca tulis Alquran), ia menulisnya dengan menggunakan batu dan papan sabak. Kalau sekarang, sabaknya sudah LCD. Untuk menghapusnya pun dengan lengan tangan, sehingga tangannya menjadi kotor alias bluduk.

Untuk menghidupi keluarga dan agar selalu bahagia, neneknya berjualan gudangan dan pecel di pasar. Di pasar itu banyak pedagang, banyak kertas bungkus, dan banyak orang berdatangan silih berganti.

Benua berfikir, “Wah… bisa menggambar sepuas-puasnya, modelnyapun banyak, dari pembeli sebagai artis, dan penjual sebagai actor. Pokoknya gayeng…. seru… norak…. dan ndagel total,” pikirnya.

Temanku Lima Benua membasuh kaki Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Hilmar FaridKepala Museum Nasional Sri Hartini, Direktur Perlindungan Kebudayaan Irini Dewi Wanti, Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi Harry, Kepala Galeri Nasional Pustanto, dan Kepala BPNB Jawa Barat.

Pengalaman artistiknya didapatkan sejak masuk ISI Yogyakarta.

“Untuk masuk di ISI harus diuji Pak Mikke dengan teman-temannya,” ucap Benua menirukan kata-kata Pak Mikke.

Padahal menurut Benua, ujian artistik kehidupan itu sebenarnya, saat bayar kos, bayar transport, mengerjakan tugas-tugas, dan sebagainya.

Lukisan Benua bersumber dari keluarga yang sangat besar yaitu “Pasar”. Pergaulan di pasar itulah yang menjadi cerminan dan kepribadian Benua yang senang bergaul dengan banyak orang, dan bergaul dengan fakta dan realitas di pasar. Itu merupakan kebahagiaan dan kepuasan pribadi sebagai manusia dan seniman.

Menurut Benua, gaya seni budaya itu ekspresionisme Neo… Didasarkan realitas suasana hati, subyeknya adalah apa yang dilihat, dirasakan, dan didengar.

“Hidup itu jangan berat-berat…, “relexman”…, tapi juga jangan ragu …, (harus) berani…, dan art speed, jika tidak mau kehilangan momentum,” tandasnya.

Benua menyatakan, gaya seni budaya saat ini garis-garisnya tegas, berani, lalu lalang seperti orang di pasar. Warnanya ramai instagramable, seperti warna-warna dagangan di pasar, dengan cahaya –cahaya terang ataupun tekstur yang tajam berkarakter pasar.

“Memang saat ini selera pasar menjadi salah satu pilihan yang disukai anak gen Z. Pasar menjadi “dikotomi sugestif” di mana penjual dan pembeli ingin menyuarakan sampai terjadi kesetaraan kebutuhan,” ungkapnya.

Ia memaparkan, pasar adalah salah satu bentuk dikotomi sugestif yang mengandung banyak aspek, yaitu aspek pengalaman batin versus pengalaman luar, aspek mistisisme versus sinkretisme, aspek kekayaan versus kemiskinan, aspek transformasi lokal dalam politik versus identitas global, aspek integrasi versus segrugasi, dan aspek lainnya.

“Akhirnya, pasar menjadi sinergi artistik yang artikulatif, baik dari gambar, teks, abstraksi, figurasi, sejarah, puisi dan lain-lain,” ucap Benua.

Pos terkait