WartaKita.org – Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek atau stunting.
Pernyataan ini disampaikan Dokter Rumah Sakit Cakra Husada (RSCH) Klaten, Dokter Prasanita Wyati pada penyuluhan kesehatan tentang stunting yang diadakan di Balai Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten pada Selasa (25/6/2019).
Penyuluhan kesehatan ini merupakan kerjasama antara Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten dengan RSCH Klaten.
Dokter Prasanita Wyati menjelaskan, stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya (atau yang seusia).
Berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen. Sedang pemantauan Status Gizi Tahun 2016 mencapai 27,5 persen. Padahal batasan World Health Organization (WHO) dibawah 20 persen.
“Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Atau lebih dari 1/3 anak berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginyaberada di bawah rata-rata,” katanya.
Prasanita Wyati menyatakan, penyebab stunting adalah kekurangan gizi yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir. Tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.
Faktor p;enyebab stunting ini diantaranya, pertama, faktor gizi yang buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak. Kedua, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Ketiga, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal Care, dan pembelajaran dini yang berkualitas. Keemp;at, masih kurangnya akses kepada makanan bergizi. Dan kelima,kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
Dokter Nita mengungkapkan, ada dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting.
Pada jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
Dan dalam jangka panjang, akibat buruk yang dapat ditimbulkan dari stunting adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi akan munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua.









