PENDIDIKAN seharusnya menjadi hal yang utama bagi generasi bangsa.
Dengan pendidikan, manusia mendapatkan bekal ilmu yang berguna untuk dapat dikembangkan dan dijadikan bahan pengajaran guna meningkatkan moralitas kehidupan dan mencerdaskan bangsa.
Untuk diketahui, jenjang pendidikan terbagi menjadi pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran pendidik sangat penting dan menentukan. Selain itu, peran orangtua yang bekerja keras demi menyekolahkan anaknya juga tidak boleh diremehkan.
Namun terkadang, pentingnya pendidikan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Hal ini terbukti dari masih banyaknya siswa yang putus sekolah dan memilih untuk bekerja karena “godaan” uang.
Sampai saat ini, masih nampak “ketimpangan” antara pendidikan di kota dan pendidikan di desa. Dan dampaknya, tingkat pendidikan rata-rata warga di kota dan di desa berbeda.
Mengapa masih ada “ketimpangan” antara pendidikan di kota dan pendidikan di desa?
Hal ini disebabkan oleh pertama, bahan ajar pendidikan yang masih minim dan belum merata ke pelosok negeri. Dan kedua, sarana dan prasarana sekolah yang belum memadai, terutama sekolah di daerah pedalaman.
Sekolah di daerah pedalaman banyak yang masih sulit untuk mendapatkan sarana prasarana seperti meja, kursi, dan bahkan bangunan sekolah. Oleh karena itu, perlu dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar mereka yang tinggal di daerah pedalaman mendapatkan akses pendidikan yang lebih memadai.
Bukan rahasia lagi, pendidikan di Indonesia masih belum merata. Hal ini tentu menjadikan suatu masalah. Banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa pendidikan di Indonesia masih belum merata. Diantaranya karena kemiskinan, sumber daya manusia (SDM) yang dirasa masih kurang dan kualitas guru yang masih rendah.
Untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut, maka Pemerintah melalui Kemendikbud perlu melakukan berbagai upaya seperti menyediakan bantuan pendidikan berupa bantuan subsidi upah (BSU), Kartu Indonesia Pintar, bantuan langsung tunai, dan bantuan lainnya.
Perhatian Pemerintah kepada pendidikan di daerah (desa) juga harus ditingkatkan lagi. Karena realitanya, Pemerintah lebih memberikan perhatian kepada pendidikan di kota. Ini sangat berbeda jauh dengan perhatian yang diberikan Pemerintah di tingkat desa.
Pemerintah juga perlu memperhatikan kesejahteraan guru. Penghasilan guru yang ada di desa dirasakan sangat jauh lebih rendah dibandingkan dengan penghasilan guru di kota. Hal inilah yang menyebabkan banyak guru lebih memilih menjadi guru di kota daripada di desa. Dengan adanya masalah tersebut, maka berdampak pada kualitas guru yang mengajar di kota jauh lebih baik dibandingkan dengan kualitas guru yang mengajar di desa.
Selain masalah kesejahteraan guru, juga terdapat masalah ketimpangan dalam hal bantuan fasilitas pendidikan, dan masih banyak hal yang lainya. Maka tidak heran jika pendidikan di Indonesia masih belum merata, dimana kualitas pendidikan di perkotaaan jauh lebih baik daripada di pedesaan.
Kondisi pendidikan zaman sekarang memang jauh berbeda dengan pendidikan di masa dulu. Pendidikan di masa sekarang, sudah sangat canggih, dan banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan siswa agar dapat belajar dengan simpel dan tidak memakan banyak waktu. Siswa dapat mengakses data-data melalui handphone. Dengan membuka internet, siswa dapat searching di google jika dirasa kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Akan tetapi, beda dengan pendidikan masa dulu, yang hanya berpegang pada buku ajar saja. Hal itu dirasa siswa sebagai suatu beban, karena halaman bukunya yang begitu tebal dan berat untuk di bawa ke sekolah.
Dewasa ini, sebagian sekolah sudah banyak yang menerapkan sistem Kurikulum Merdeka, dimana kurikulum ini membebaskan siswanya agar dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Selain itu, program Kurikulum Merdeka juga memberikan kebebasan kepada siswanya agar dapat bergerak aktif.
Kurikulum Merdeka juga mempunyai keunggulan lebih sederhana dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Fokus Kurikulum Merdeka yaitu pada materi yang esensial serta pengembangan kompetensi siswa.
Model pembelajaran yang diterapkan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka adalah dengan menggunakan model pembelajaran integratif.
Dalam Kurikulum Merdeka ini juga ditegaskan mengenai pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang akan ditanamkan pada siswa tidak hanya berfokus pada penyampaian materi akademiknya saja. Akan tetapi perlu mengembangkan etika sopan santun tentang sikap sebagaimana mestinya seorang siswa yang dididik agar bersikap menghormati pada sesama.
Perlu diketahui bahwa pendidikan karakter adalah hal yang utama untuk membentuk siswa menjadi terampil, unggul dan berkepribadian baik.
Sebagai pendidik, guru harus bisa menanamkan pendidikan karakter pada siswa dengan cara menjadikan dirinya contoh kepada para siwanya. Guru adalah sosok yang menjadi contoh dalam berperilaku. Ini sesuai dengan sebutan guru, yang berarti “digugu dan ditiru”.
Lembaga pendidikan sekarang dituntut untuk dapat melahirkan lulusan yang kompetitif, kreatif, serta berkualitas karena persaingan dan perlombaan antar bangsa begitu intensif dan sengit. Para lulusan diharapkan memiliki keahlian dan kompetensi yang profesional sehingga dapat menghadapi kompetisi tantangan global.
Karenanya, banyak lembaga pendidikan yang sudah berupaya untuk menciptakan lulusan yang memiliki kualitas terbaik dan semangat daya juang yang tinggi di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menghadapi sebuah tantangan dan persaingan yang semakin sulit di masa yang akan datang. Namun perlu diingat, bahwa sebuah kepercayaan diri tidak akan terlepas dari berbagai faktor serta kondisi.
(Serli Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta)









