WartaKita.org – Ada sebuah ungkapan: proses tak akan mengkhianati hasil.
Hal itu juga dialami oleh Andreas Susanto (38), warga Dukuh Tunggul RT 03 RW 04, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Berkat kesetiaan dan ketekunannya dalam berkarya, kini, kelir wayang kulit kreasi Andreas diminati oleh banyak dalang di seantero Indonesia. Dan bahkan, sudah merambah ke manca negara.
Saat dikunjungi wartakita.org di rumahnya pada Senin (29/11/2021), Andreas Susanto menceritakan, awalnya, dia tidak mencintai seni. Dan bahkan paling benci dengan seni karawitan. Padahal, dia terlahir dari seniman karawitan.
Ayahnya, Saimin Medi Saputra (56) adalah pengrawit (penabuh gamelan) yang lumayan dikenal di Kabupaten Klaten, hingga saat ini.
Namun ada istilah Jawa, gething bakal nyanding. Dan itulah yang dirasakan oleh suami dari Jarwani itu.
Pada sekitar tahun 2008, dia ngenger (tinggal dan bekerja) di rumah Ir Sumarsono Noto Wijoyo, seorang seniman karawitan (dan juga dalang) yang tinggal di Padukuhan Sorogedug, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY.
Di situ, dia disuruh oleh Sumarsono untuk bekerja ngelap-ngelapi (membersihkan) gamelan. Karena bekerja dengan baik, maka dia lalu digemateni (dicintai) oleh si tuan rumah. Dia diberitahu bagaimana cara bekerja yang baik. Bahkan, dia juga dibelikan HP (handphone) agar bisa mengikuti trend (perkembangan zaman).
Ternyata, Sumarsono selalu “mengamati” Andreas saat bekerja. Sumarsono melihat, sepertinya, Andreas tidak cocok untuk bekerja keras dengan menggunakan tenaganya. Tetapi dia lebih pas untuk berjualan.
“Akhirnya, saya dibelikan wayang lima, dan diminta untuk menjualkannya. Setelah laku, saya dibelikan wayang lagi, dan disuruh menjualkannya lagi. Saya dididik beliau. Setelah itu, kehidupan saya di-support Pak Sumarsono. Bahkan, saya sampai dibelikan motor. Prinsip Pak Sumarsono, kalau (saya) jadi, ya jadi, kalau ora, ya ora,” katanya.
Setelah sekitar satu tahun ikut Keluarga Sumarsono, Andreas memutuskan untuk tinggal di rumah (di Jarum). Dan selama itu, Sumarsono masih men-support dia agar bisa hidup mandiri.

Ternyata, rencana Tuhan memang selalu indah pada waktunya.
Suatu hari, dia dipeseni kelir wayang oleh seorang dalang dari Jogja. Waktu itu, dia memang belum kenal. Dan ternyata, yang pesan kelir wayang itu adalah dalang kondang, Ki Seno Nugroho (almarhum).
“Saat itu, Pak Seno bilang: Mas, aku gawekna kelir (wayang), ukurane 8 meter, motife Modhang. Mengko yen cocok, aku gawekna papat,” ceritanya.
Pada saat itu, pesanan kelir tersebut menjadi “tantangan” tersendiri bagi Andreas.
“Aku piye ya? Isoh apa ora ya? Tetapi saya yakin, pokoke mengko rak ya isoh. Setelah itu, saya bikin kelir. Ternyata cocok. Dan saya langsung (bawa) ke Jogja. Kelir itu dipasang, dan ternyata pas sekali. Ukurannya 8 meter x 180 cm,” ujarnya.
Karena cocok, Ki Seno Nugroho langsung pesan empat kelir. Dalam hati dia bertanya: lha (kelire) iki arep dinggo apa?
Setelah itu, Andreas jadi tahu kalau yang memesan kelir wayang tersebut adalah dalang kondang, Ki Seno Nugroho.
Selanjutnya, nama Ki Seno Nugroho pun melejit, setelah youtube-nya sering diunggah di media sosial.
Andreas pun terus mengikuti youtube-nya Ki Seno Nugroho. Ternyata, para costumer (pelanggan) itu pengin kelir seperti kelirnya Ki Seno Nugroho.
“Pak Seno itu berjasa besar bagi saya. Beliau yang mempromosikan saya kepada teman-teman dalang lainnya. Beliau itu luar biasa. Beliau terus men-support saya. Pak Seno itu pesen lagi, pesen lagi, sampai 21 kelir. Itu rekor tersendiri bagi saya. Bahkan, sampai saat mau meninggalnya,” tandasnya.
Setelah kelir wayang karya Andreas ini mulai dikenal, maka para dalang lainnya pun lalu memesannya. Seperti Ki Sigit (dari) Rembang, Ki Purbo Asmoro, Ki Dwijo Kangko, Ki Cahyo Kuntadi (Yoyok), Ki Warseno Slenk, Ki (Mas) Bayu (putra Ki Anom Suroto), (alm) Ki Tomo Pandoyo, Ki Gandung Sunarno, Ki Mulyono Purwo Wijoyo (Kantor Pajak), Ki Kusni, Ki Kasim, Ki Gangsar, Ki Tantut Sutanto, Ki Catur Benyek Kuncoro, Ki Geter, dan sebagainya.
“Hampir semua dalang di Klaten, Boyolali, Solo, dan Jogja pernah saya buatkan kelir. Bahkan Kraton Pura Pakualaman juga,” paparnya.

Ayah dua anak itu menjelaskan, sampai saat ini, dia melayani pesanan kelir wayang, eblek (penyekat wayang didalam kotak), gawangan ukir, dan gamelan dari besi.
Menurutnya, yang membedakan kelir karyanya dengan kelir karya orang lain adalah mengenai motif dan kecepatan membuatnya.
“Banyak orang yang pesan kelir pada saya bilang: empat hari jadi nggak? Saya jawab: Jadi. Nah, sebagai konsekuensinya, ya harus jadi. Ini yang saya maksud mengenai kecepatan waktu. Kalau motif yang jadi andalan saya, ya seperti Modhang, Cingih-Cingih, Lengkuk-Lengkuk (seperti mit), dan sebagainya. Ini pengembangan model kreasi baru, dan sekarang jadi trend. Kalau dulu, kelir itu cuma Lung-Lung begini,” jelasnya.
Andreas mengemukakan, usaha membuat kelir wayang ini punya prospek yang baik. Karena setiap dalang tidak cukup hanya mempunyai satu kelir. Sebab para dalang juga harus memenuhi permintaan penanggap.
“Misalnya, (orang) Partai Demokrat mau nanggap wayang, maka pasti pilih kelir warna biru. (orang) PDIP mau wayangan, pasti pilih warna merah. Bahkan, ada dalang yang sudah punya kelir (panjang) tujuh meter, tetapi ketika ditanggap di lapangan, kelirnya jadi kurang besar. Maka, lalu minta dibuatkan kelir 12 meter. Jadi kebutuhan kelir itu akan terus ada,” terangnya.
Dia menerangkan, pernah membuat kelir dengan panjang 15 meter dan lebar 2 meter.
Bahkan, Andreas pernah membuat kelir pesanan Presiden Joko Widodo untuk Gedung Agung (Istana Presiden di Yogyakarta). Ukuran lebarnya 4 meter, panjangnya 7 meter. Kelir itu untuk pajangan di istana.
“Jadi, luar biasa berkat dari Tuhan itu. Para dalang memberikan kepercayaan, memesan kelir wayang kepada saya,” ucapnya.
Andreas menyampaikan, kelir wayang itu dibuat dari bahan kain khusus, yaitu Oxford dan beludru. Kain itu dijahit dan disambung. Yang penting, tekuk-tekukan kain tidak pating njleketut (terlihat lusuh). Tetapi terlihat rapi, rata, dan kencang.
Sedang gawangan kelir berupa kayu ukir. Dia pernah membuat kelir mlengkung. Dan itu untuk pertama kalinya.
“Proses pembuatan kelir tergantung ukuran dan permintaan. Kalau kelir yang besar diberi ukiran naga, itu bisa dua bulan. kita kerjakan setiap hari. Karena saya ingin selalu tepat waktu. Selama ini, kebanyakan costumer pesan lewat online,” katanya.

Dia menambahkan, selama sekitar dua tahun ini, usahanya sempat vakum karena pandemi corona. Sebab, dalang tidak boleh pentas. Dan sekarang, usahanya sudah mulai menggeliat.
“Puji Tuhan, sudah sekitar tiga bulan ini usaha saya mulai hidup lagi. Meski sebelumnya juga ada pesanan sedikit-sedikit. Dan sekarang mulai menggeliat,” ujarnya bahagia.
Andreas mengatakan, karya kelir wayangnya sudah dikirim ke mana-mana. Selain ke seantero Indonesia, juga sudah dikirim ke luar negeri, seperti Malaysia dan Inggris.
“Banyak mahasiswa Jurusan Pedalangan yang kuliah di Jogja atau Solo yang suka, terus membeli. Ya kelir, ya wayang, ya tas wayang. Jadi, kelir saya sudah sampai ke luar negeri. Tetapi dulu, sebelum pandemi corona,” ungkapnya.
Orangtua dari Kalef Tegar Pratama dan Kheisa Mahardika ini menyatakan, harga kelirnya kadang relatif, atau mengikuti pemesan.
“Maunya (pesan) yang gimana? Yang sederhana? Kategori pelajar? Hanya untuk belajar? Cuma untuk dipajang di kos-kosan? Kita bisa buatkan. Dan harganya terjangkau. Kalau yang sederhana, kecil harganya sekitar Rp1,5 juta. Kalau yang untuk pentas wayang yang besar, yang bagus, harganya bisa sampai Rp70 juta,” terangnya.
Andreas menyatakan, saat pandemi Covid-19, usahanya sempat akan kolaps. Tetapi sekarang mulai bangkit lagi seiring dengan semakin banyaknya pesanan kelir, dan sebagainya.
“Tetapi apapun yang terjadi, saya tetap mensyukurinya. Saya itu dari nol. Dulu, saya masih ikut orangtua, nggak punya rumah. Tetapi sekarang, saya sudah bisa beli tanah, mendirikan rumah, membangun tempat untuk bekerja, dan sebagainya. Puji Tuhan. Berkat Tuhan selalu mengalir. Apalagi kalau mengingat masa dulu,” katanya penuh syukur.
Kini, Andreas mempunyai enam orang tenga kerja. Mereka berkreasi dan berproduksi setiap hari.
Sementara itu Pegiat Seni di Klaten, Jimbling Supriyadi mengapresiasi apa yang telah dilakukan Andreas sampai saat ini.
“Dari apa yang menjadi kreasi dan karya Andreas Susanto terlihat bahwa skill yang dia punyai dan kembangkan itu ndhewekki. Karena tidak semua orang tertarik untuk membuat kelir. Walaupun toh ada yang bisa membuat kelir, tetapi tidak semua orang itu tertarik dengan profesi tersebut. Ini yang patut untuk diapresiasi,” ujarnya.
Jimbling Supriyadi pun memberikan support kepada Andreas agar potensi tersebut tidak berhenti di situ saja.
“Kedepan harus bisa dikembangkan ke kreasi-kreasi yang lain. Seperti kelir mini sebagai cinderamata. Karena Klaten berencana dan bertekad menjadi kota dalang. Semoga peluang-peluang ini bisa diambil, demi kemajuan dan suksesnya usaha dia,” harapnya.









