LIPI Sosialisasikan Jati Platinum, POH Dan Budidaya Lebah Trigona Di Gempol

Pusat Penelitian Biologi LIPI memberikan bibit Jati Platinum kepada Kepala Desa Gempol, Kamis (5/4/2018).

WartaKita.org – Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus melakukan riset dan menghasilkan hasil riset yang dapat dimanfaatkan oleh masyaraka guna mendukung Prioritas Nasional Pengembangan Dunia Usaha dan Pariwisata.

Salah satu upaya tersebut dengan mendiseminasikan hasil-hasi riset agar bisa teraplikasi dan mengangkat perekonomian wilayah setempat.

Karenanya, Pusat Penelitian Biologi LIPI membawa hasil riset ke wilayah Provinsi Jawa Tengah melalui kegiatan Pelatihan dan Diseminasi Produk Hasil Penelitian yang digelar di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (5/4/2018).

Hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi LIPI telah terbukti dapat memperkuat pengembangan potensi daerah terutama untuk memperkuat perekonomian masyarakat. Alih teknologi melalui diseminasi merupakan kegiatan penting untuk menyampaikan hasil-hasil riset yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, kalangan industri, dan pemerintah.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Ir Witjaksono menyampaikan, kegiatan diseminasi merupakan tanggungjawab LIPI kepada ilmu pengetahuan, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Karena itu, LIPI hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi terhadap masalah aktual dan strategis di masyarakat.

“Kegiatan pelatihan dan diseminasi yang diadakan di Desa Gempol ini mengangkat tema Kegiatan Implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) untuk mendukung Dunia Usaha dan Pariwisata serta Pelatihan dan Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pusat Penelitian Biologi LIPI di Kawasan Borobudur,” katanya.

Witjaksono menjelaskan, program tahun 2018 memberikan mandat kepada Pusat Penelitian Biologi LIPI untuk mengambil peran dalam mendukung Prioritas Nasional Pengembagan Dunia Usaha dan Pariwisata. Undang Undang RI No. 10 tahun 2009 mengamanatkan bahwa keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya merupakan modal pembangunan pariwisata untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pembangunan pariwisata adalah kegiatan yang bersifat multidisiplin dengan mempertimbangkan aspek keanekaragaman dan keunikan budaya dan alam.

“Ini menjadi peluang besar bagi Pusat Penelitian Biologi LIPI untuk berperan dalam pengembangan dunia usaha dan pariwisata melalui serangkaian program yang terintegrasi berdasarkan kajian ilmiah tentang keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, serta pemanfaatan potensi bioresources dalam mendukung pembangunan pariwisata yang berkelanjutan,” ujarnya.

Witjaksono menyatakan, pemilihan Klaten sebagai tempat pelatihan dan diseminasi karena Klaten merupakan desa penyangga dan akan menjadi percontohan desa mandiri yang mengembangkan pertanian organik dan tidak tergantung dengan APBD.

Peneliti LIPI mempraktekkan pembuatan pupuk organik hayati (POH).

Pada kegiatan ini, Pusat Penelitian Biologi LIPI menyosialisasikan Jati Platinum LIPI, Pupuk Organik Hayati (POH) LIPI dan Lebah Trigona. POH LIPI merupakan upaya LIPI untuk menciptakan kemandirian daerah dalam peningkatan produksi pangan. Keunggulan POH ini mampu menyuburkan secara alami, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta memelihara kesehatan tanah.

“Selain itu, petani dapat membuat sendiri pupuk ini dengan bahan-bahan yang mudah didapat sehingga biaya pemupukan lebih murah. Proses pembuatan menggunakan mikroba merupakan keunggulan yang tidak dimiliki pupuk organik lain yang ada di pasaran,” terang Witjaksono.

Dalam kegiatan tersebut, Pusat Penelitian Biologi LIPI juga melakukan penanaman Jati Platinum LIPI pada suatu lahan di desa itu. Penanaman Jati Platinum LIPI Ini menjadi salah satu investasi yang mulai banyak dikembangkan oleh masyarakat karena bermanfaat secara ekonomi dan lingkungan.

“Penanaman Jati Platinum LIPI secara agroforestri bermanfaat untuk optimalisasi penggunaan lahan, nutrisi atau hara, peningkatan produktifitas pertanian dan konservasi tanah dan air, penyerapan karbon (mengurangi efek global warming), berkontribusi pada ketahanan atau kedaulatan pangan, menambah ruang hijau serta estetika visual,” paparnya.

Witjaksono menambahkan, biasanya desa memiliki lingkungan hijau yang kaya bunga sumber nektar dan serbuk sari. Di desa biasanya juga banyak tanaman penghasil resin atau getah. Sumber daya desa tersebut merupakan modal dasar dalam ternak lebah propolis (klanceng). Lebah propolis menghasilkan propolis dan madu obat. Lebah ini memiliki tempat hidup yang sama dengan manusia.

“Kurangnya pengetahuan tentang lebah ini menyebabkan lebah tidak diberdayakan, bahkan diganggu atau dibunuh. Keberhasilan ternak lebah ini sangat bergantung terutama pada tanaman dan tumbuhan penghasil pakan dan resin. Dengan beternak lebah propolis maka kesehatan, penghasilan, kualitas lingkungan, dan produksi tanaman pertanian akan meningkat,” ucapnya.

Menurutnya, LIPI sesuai dengan tugasnya berperan dalam peningkatan kemampuan ilmiah masyarakat, serta pemasyarakatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu langkah untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut adalah dengan menyelenggarakan kegiatan pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Hayati, Jati Platinum LIPI, dan tata cara budidaya Lebah Trigona.

Sedang Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Klaten, Srihadi mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada LIPI yang telah melakukan pelatihan dan diseminasi produk hasil penelitian di Desa Gempol.

“Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi warga, dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.

Pos terkait