WartaKita.org – Sebuah kabar kurang mengenakan bagi warga Kabupaten Klaten.
Kabupaten Klaten masuk 10 besar stunting di Provinsi Jawa Tengah.
Karena itu, Pemerintah dan masyarakat perlu bekerjasama untuk memerangi stunting yang masih tinggi di Klaten ini.
Pernyataan ini mengemuka pada acara Sosialisasi penguatan pendataan keluarga dan kelompok sasaran Bangga Kencana bersama mitra kerja Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo di Balai Desa Logede, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jumat (15/10/2021).
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Dissos P3AKB Kabupaten Klaten, Nuryanti menyampaikan, dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Klaten termasuk 10 besar stunting.
“Untuk mengurangi angka stunting ini, maka kita perlu melakukan intervensi. Salah satunya melalui pengaktifkan kegiatan di Posyandu,” katanya.
Nuryanti menyatakan, ada banyak hal yang bisa dilakukan dari pengaktifan Posyandu ini.
“Di Posyandu, kesehatan ibu hamil terpantau. Penimbangan bayi juga terpantau. Begitu pula untuk pemberian makanan tambahan untuk bayi. Semuanya ini dalam rangka menciptakan keluarga yang berkualitas untuk mewujukan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.
Sedang Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengatakan, penanggulangan stunting menjadi program prioritas Pemerintah Pusat. Penanggulangan stunting ini menjadi tanggung jawab bersama dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Desa, termasuk Tim Penggerak PKK dan kader Posyandu.
“Untuk memberantas stunting, salah satu caranya dengan kearifan lokal. Diantaranya dengan pemanfaatan informasi bagaimana cara memasak yang sederhana, tetapi tidak sampai kehilangan gizi pada makanan itu. Cara yang sederhana dan mudah. Ini bisa kita gunakan untuk perang melawan stunting,” tandasnya.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah ini menjelaskan, stunting harus diperangi. Karena stunting atau gizi buruk ini bisa mengancam masa depan anak-anak. Sehingga kecerdasan anak-anak mengalami gangguan, dan pertumbuhan secara fisik mereka juga terhambat. Padahal, anak-anak ini adalah masa depan bangsa.
“Untuk itu, anak-anak ini harus kita selamatkan. Stunting harus kita perangi. Kalau memungkinkan dengan cara edukasi. Pemerintah juga bisa melakukan intervensi dengan penambahan makanan-makanan tambahan. Cara “instan” ini menjadi salah satu cara yang bisa kita yakini untuk memerangi gizi buruk atau stunting ini,” terangnya.
Rahmad Handoyo menandaskan, meski Kabupaten Klaten menjadi salah satu dari 10 besar stunting di Jawa Tengah, namun dirinya percaya, pemerintah dan masyarakat Klaten akan bisa mengatasinya.
“Dengan guyub rukun, dan pemahaman akan stunting itu adalah gizi buruk yang harus diperangi, ini menjadi modal dasar kita. Bahwa Klaten bisa keluar dari 10 besar. Kita turunkan lagi tingkat stunting kita. Kita berantas. Dengan adanya keinginan masyarakat untuk memberantas stunting, kita optimis bisa keluar dari gizi buruk ini,” harapnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Advokasi Komunikasi Informasi dan Edukasi BKKBN Perwakilan Jawa Tengah, Farida Sumarni mengemukakan, untuk mempercepat penurunan angka stunting diperlukan intervensi ke keluarga-keluarga yang berisiko stunting. Seperti kepada remaja-remaja yang memasuki usia nikah.
“Mereka perlu diedukasi terhadap asupan nutrisi atau gizi baik yang seimbang. Sehingga ketika dia hamil atau menjadi ibu, bisa mempersiapkan anak-anak yang dilahirkan menjadi anak-anak yang benar-benar sehat dan berkualitas,” paparnya.
Farida Sumarni menambahkan, sebenarnya sumber atau potensi makanan di Klaten ini sudah bagus. Karena masih banyak warga yang mempunyai kebun, beternak, dan lainnya. Tingkat kesejahteraan masyarakat juga sudah bagus.
“Hanya perlu eduksi mengenai asupan gizi yang dibutuhkan, yaitu sesuai dengan pertumbuhan dan kecukupan gizi yang memadai,” pesannya.
Kegiatan ini dihadiri Anggota DPRD Klaten Gigit Sugito, jajaran DisosP3AKB Kabupaten Klaten, Muspika Karangnongko, Kepala SMP dan SMA, kepala desa, dan undangan lainnya.









