WartaKita.org – Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten menggelar rekoleksi yang bertajuk “Keluarga Merawat Iman” di Balai Mandala Gereja Paroki Wedi pada Minggu (29/9/2024).
Rekoleksi yang diinisiasi oleh Bidang Pewartaan, Bidang Paguyuban, dan Bidang Litbang Paroki Wedi ini mengusung tema “Keluarga menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih”.
Kegiatan rekoleksi ini diikuti oleh pasangan suami istri (pasutri) yang usia perkawinannya antara 10 sampai 20 tahun, pasutri yang mempunyai anak usia sekolah SMP atau SMA, serta remaja atau Orang Muda Katolik (OMK) berusia 11 sampai 18 tahun.
Bertindak sebagai narasumber rekoleksi adalah Pastor Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr.
Ketua panitia rekoleksi, Antonius Yunianto dalam sambutan menyampaikan, rekoleksi ini merupakan bagian dari upaya mengejawantahkan fokus pastoral Paroki Wedi tahun 2024 yaitu Keluarga Merawat Iman. Karena itu, panitia mengundang para orang tua, anak, remaja dan OMK untuk mengikuti kegiatan rekoleksi ini.
“Kami berharap, dari rekoleksi ini, keluarga-keluarga di Paroki Wedi menjadi keluarga-keluarga yang sesuai dengan tema rekoleksi kali ini. Untuk menuju ke situ, memang masih perlu diperjuangkan, karena ada banyak tantangan. Tetapi kita yakin, kita bisa mewujudkannya dengan bersandar pada kehendak Tuhan,” katanya.

Sedang narasumber Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr di awal rekoleksi menceritakan, saat mewawancarai anak-anak calon penerima Komuni pertama diperoleh gambaran bahwa hanya 20 persen anak yang mengaku sering diajak orangtuanya untuk berdoa bersama.
“Dan yang lainnya, entah gimana, kita tidak tahu. Padahal, keluarga itu bertanggung jawab dalam merawat iman anak. Karena itu, dalam rekoleksi ini kita ingin mengumpulkan pengalaman-pengalaman iman dari keluarga-keluarga. Kita ingin sharing praktek baik dari keluarga-keluarga dalam upaya merawat iman anak,” ujar rama.
Selanjutnya, Rama Edy memberikan kesempatan kepada peserta untuk men-sharing-kan pengalamannya dalam merawat iman anak.
“Saya selalu mengajak anak-anak untuk mengikuti Misa di gereja setiap hari Minggu. Mengikuti kegiatan misdinar. Mengikuti kegiatan di lingkungan seperti sembahyangan, renungan, doa Rosario, dan sebagainya. Dan juga, mengikutkan anak dalam kegiatan di masyarakat,” ungkap Santo, umat Lingkungan Santo Yusup Ngering.
Rama Edy menyatakan, ada sejumlah tanda dari tumbuh dan meningkatnya iman seseorang.
“Iman itu tumbuh, iman itu meningkat, tandanya ada tiga, yaitu sukacita, doa, dan peduli. Dalam sukacita dapat menumbuhkan iman, harapan. Sedang dalam doa, iman itu dinyatakan. Selanjutnya, iman itu diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu peduli,” terang rama.

Rama Edy menyampaikan, untuk merawat iman, keluarga dapat melakukan langkah-langkah seperti yang diajarkan Bapa Kardinal Ignasius Suharyo, yaitu Necep Sabda, Neges Sabda, dan Ngemban Dhawuh (Sabda).
Necep Sabda atau seeing the reality yaitu mampu mengidentifikasi adanya masalah sosial di lingkungan terdekat, mampu menganalisa sebab akibat dari masalah sosial, dan mampu menempatkan masalah sosial di lingkungannya dalam konteks yang lebih luas.
Sedang Neges Sabda atau speaking the opinion yakni mampu mengemukan pendapat di lingkungan terbatas, mampu mengemukakan pendapat di forum lebih majemuk, dan mampu mengkomunikasikan pendapat di jaringan yang lebih luas.
Sementara itu Ngemban Dhawuh (Sabda) atau starting the deed adalah mampu mengeksekusi inisiatif individual di lingkungan terbatas, mampu mengeksekusi inisiatif dengan melibatkan pihak lain, dan mampu mengeksekusi inisiatif dengan melibatkan lebih banyak orang dalam jaringan.









