JUDUL
Teruslah Bodoh Jangan Pintar
PENGARANG
Tere Liye
PENERBIT
PT Sabak Grip Nusantara
EDISI
Cetakan ke-4, Maret 2024
HAL
371 halaman; 20 cm
ISBN
9786238882205
KEHIDUPAN yang diselimuti oleh penderitaan memang sangat mengerikan. Terlebih, penderitaan itu berasal dari seorang yang memiliki kuasa atas yang tertindas. Memang benar, awalnya mereka bersikap manis seperti malaikat. Namun lambat laun, niat busuknya akan terbongkar secara tidak sengaja.
Apakah rakyat jelata memang pantas ditindas? Apa mereka tak memikirkan dampak ke depannya atas semua perbuatan yang semena-mena? Rakyat kecil yang seharusnya memiliki hak, penguasa merampas dan merasa tak berdosa.
Padahal, rakyat kecil juga butuh hidup yang damai. Mereka sudah memberikan ruang supaya mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Akan tetapi, hal itu justru memberikan petaka bagi para rakyat kecil.
Semua rakyat kecil juga butuh seseorang yang bisa melindungi mereka. Sebagai contoh kasus dalam novel yang berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye.
Kasus tersebut berawal saat sang penguasa mulai mendirikan tambang-tambang di berbagai daerah. Tambang tersebut memiliki dampak yang negatif bagi masyarakat di daerah yang didirikan tambang tersebut. Masyarakat juga tidak pernah setuju kalau sang penguasa ini mendirikan tambang-tambang di daerahnya, meskipun dengan iming-iming membuka lapangan perkerjaan di daerah tersebut.
Sang penguasa dikecam oleh seruan masyarakat sekitar. Karena, dampak yang ditimbulkan dari tambang-tambang yang ada di daerah sekitar sangat merugikan. Dampak negatif dari tambang-tambang itu yakni terbentuknya bekas galian-galian yang besar dan sangat dalam, anak-anak kekurangan gizi baik, sumur-sumur warga sekitar menjadi kering, lahan-lahan warga sekitar yang dekat dengan kawasan sang penguasa harus mempunyai izin dulu untuk memasukinya.
Salah satu warga yang terkena dampak adalah seorang ibu yang berusia sekitar 30 tahunan. Si Iiu ini awalnya merantau di kota besar, hingga lambat laun dia kembali ke kampung halamanya.
Dulunya kampung ini damai, hingga suatu saat Sang Penguasa datang ke pulaunya ingin mendirikan tambang di pulau tersebut. Konon, pulau tersebut ada emas di gunungnya. Itulah mengapa sang penguasa ingin mendirikan tambang di sana.
Si ibu tersebut dan para warga setempat bersikeras menolak kampung halamanya didirikan tambang. Karena menurut mereka, pulai ini milik para leluhur terdahulu dan sekarang diwariskan kepada warga-warga setempat yang tinggal di daerah tersebut.
Hingga suatu saat, para pemerintah dari kalangan pusat tidak lagi menghiraukan para penduduk yang ada di pulau tersebut. Mereka bergegas mendirikan tambang tersebut apapun risikonya. Para tentara-tentara diturunkan di pulau tersebut untuk menghentikan amukan masa dari warga setempat.
Dari kejadian tersebut, warga dibantu para aktivis menggugat sang penguasa ke pengadilan. Ibu tersebut mendukung untuk menggugat sang penguasa dan bersedia menjadi saksi. Persidangan berlangsung selama beberapa hari.
Pada saat sidang berlangsung, tergugat menghadirkan pengacara yang sangat pandai dan licik. Dia sangat ahli dalam persidangan. Dan, pengacara yang dihadirkan adalah seorang yang tidak pernah terkalahkan dalam persidangan.
Sedangkan, penggugat juga tidak kalah berkelasnya menghadirkan pengacara dan para saksi yang pernah terlibat langsung dalam kasus-kasus sang penguasa.
Salah satu kelompok aktivis juga sangat pandai merancang strategi pada saat persidangan berlangsung. Meskipun demikian, pengacara tergugugat tidak mau kalah. Dia selalu meng-counter saksi-saksi yang dihadirkan oleh penguggat.
Pengarang menyajikan novel ini dengan bahasa yang lugas dan tidak berbelit. Alur cerita yang ditulis sangat menarik dan membuat penasaran bagi pembaca. Konflik yang dihadirkan cukup kompleks membahas kejadian yang mungkin terjadi di kehidupan.
Akhir dari cerita ini plot twist sehingga membuat daya tarik untuk membaca bab selanjutnya. Sayangnya, dalam novel ini tidak menghadirkan majas-majas karena termasuk karya sastra. Selain itu, novel ini menyajikan karakter tokoh yang kurang kuat sehingga pembaca tidak dapat menentukan sifat dari beberapa tokoh.
Dalam novel karya Tere Liye, terutama Teruslah Bodoh Jangan Pintar, tidak seindah karyanya yang lain, seperti novel Bumi. Novel Bumi menyajikan nuansa atau suasana fantasi yang sangat keren. Terlebih, dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar lebih sulit untuk dipahami jika yang membaca masih kanak-kanak atau kurang dari 18 tahun.
Berbeda dengan novel Bumi yang mungkin bagi saya cukup mudah dipahami karena novel tersebut menyajikan unsur-unsur hiburan, fantasi, dan imajinasi dalam berfikir.
Meskipun demikian, novel-novel karya Tere Liye tidak pernah gagal untuk membuat jatuh cinta para pembacanya. Tere Liye selalu menyuguhkan cerita-cerita yang menarik dengan alur yang sukar ditebak. Hal itu membuat pembacanya merasa penasaran dan semakin terlarut ke dalam ceritanya.

Ahmad Jauhar Badruz Zaman
236151105/TBI 3C









