WartaKita.org – Indonesia mencatat “sejarah” baru. Setelah 79 tahun merdeka, Indonesia kini mempunyai Kementerian Kebudayaan. Karenanya, Indonesia kini juga memiliki Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Kebudayaan.
DWP Kementerian Kebudayaan ini dipimpin oleh Katharine Grace Fadli Zon sebagai Ketua Umum dan Yukie Otta Bambang Wibawarta, sebagai Ketua Pelaksana Harian. Mereka dibantu tiga Ketua Bidang, yaitu Bidang Pendidikan, Bidang Ekonomi, dan Bidang Sosial Budaya.
Di pertemuan pertamanya, DWP Kementerian Kebudayaan mencoba merumuskan strategi baru untuk pendekatan terhadap pengurus baru dan anggota baru. Visi utama DWP yakni sebagai mitra strategis Aparatur Sipil Negara (ASN) atau suami. sehingga program utamanya adalah mendorong dan mendukung program-program Kementerian Kebudayaan.
Dalam melaksanakan program kegiatan, DWP Kementerian Kebudayaan mempunyai ciri yang unik, yaitu nilai-nilai tradisi Nusantara, dan prestisius dalam merancang program-programnya.
Salah satu program yang telah dilaksanakan DWP Kementerian Kebudayaan adalah Bazar Ramadan dengan tema “Merajut Keberkahan Menyulam Kebudayaan”.
Bazar Ramadan ini menampilkan stand mungil untuk UKM. Salah satu pengisi stand tersebut adalah Temanku Lima Benua atau yang akrab disapa Liben. Ia tampil dengan konsep “Kecil Bergerak”, unik dan bernilai tradisi. Meskipun hanya berukuran 2 x 2 meter, namun ruangan tersebut ditata secara maksimal. Stand ini menampilkan barang dan interior custom dari limbah yang ada di lingkungan sekitar dengan fokus utama sketsa wajah dengan pensil arang.
Elemen-elemen interior stand Liben juga tidak kalah unik. Misalnya, meja dari triplek bekas lantakan cat, kursi lipat dari limbah jok mobil Mercedes, frame atau figura dari kayu jati pendam, dan bloking gambar di atas kertas dari bungkus kertas AO, serta lantai dengan karpet goni bekas. Stand ini ingin menyampaikan pesan cinta lingkungan untuk menghambat climate change (perubahan iklim), satu point dari sejuta point Environmental Art (karya seni lingkungan).

Ketua Umum DWP Kementerian Kebudayaan, Katharine Grace, seorang ibu dengan dua anak, yaitu Shafa Sabila Fadli dan Zara Sahdina Fadli, yang juga menjabat sebagai Sekretaris di PT Bank Permata Tbk berempati kepada Temanku Lima Benua sebagai UKM DWP Kementerian Kebudayaan, yang sekaligus pegawai kontrak Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kebudayaan.
Katharine Grace memberi tempat untuk memamerkan karyanya pada program kegiatan DWP Bazar Ramadhan.
Dalam Bazar Ramadhan ini Liben merasa, yang belum ia ketahui itu banyak, dan pengetahuannya itu masih sedikit. Salah satunya adalah “Tauhid”, yang berasal dari kata bahasa Arab wahhada, yang berarti menjadikan satu.
Dalam konteks culture Nusantara ada pemegang spriritual. Misalnya Semar dan Werkudoro, yang mempunyai pakaian warna hitam dan putih. Jika hitam ya hitam, dan jika putih ya putih. Hitam mempunyai makna dan melambangkan tanah yang subur, dan putih melambangkan air yang digunakan untuk melumerkan injet (kapur putih).
Dan faktanya, gambar atau sketsa Temanku Lima Benua menggunakan material arang dan injet. Itulah yang membuat karyanya “keren” sebagaimana yang dikatakan Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI sewaktu mengunjungi stand pameran Liben.

Jika dilihat, karya Temanku Lima Benua tampak biasa saja di mata awam, bahkan cenderung liar. Namun ketika diperhatikan dengan seksama, terasa ada sesuatu yang lebih dalam, ada simbol-simbol yang bermakna didalamnya.
Injet dan arang material yang digunakan tidak menunjukan teknik yang murahan, tetapi terasa mahal dan membawa mistik yang mendalam. Itulah seninya Temanku Lima Benua.
Liben mempunyai sentuhan ekspresif pada tekstur sketsanya yang dituangkan di atas kertas bekas. Setiap guratan dan goresannya mampu bercerita tentang sebuah perjalanan. Bukan hanya sekadar benda berupa kertas, arang dan injet, namun sesuatu yang memiliki jiwa. Menyatunya antara goresan dan emosi, dimana ekspresi dan goresan bertemu dalam balutan estetis yang terlihat seperti cerita masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketika kita melihat, berarti kita membangunkan sesuatu (sejarah) dari apa yang tertuang di dalam karya.

Untuk kedepannya, Temanku Lima Benua mempunyai gagasan sederhana. Sejak kecil, neneknya memasak dengan bermacam-macam kayu yang ada di sekitar. Dan ia sudah mengidentifikasikan lebih dari 300 jenis kayu yang menjadi arang dari rumah dan desa di sekitarnya. Dari arang itu ia kembangkan. Selain untuk menggambar, membuat sketsa, juga untuk cat, make up, dan lainnya. Dan itulah kekayaan cultural. Dan sekarang, beberapa tetangganya sudah mendadi vendor cleportir arang.









