Ingin Jadi Pemimpin Yang Handal? Sikapi Perubahan Secara Bijak, Jangan Overthinking…

Direktur ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta Suster M Paula Suwarni OSF saat memberikan sambutan pada acara diskusi dan bedah buku yang diadakan ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta pada Jumat (27/10/2023).

WartaKita.org – Akademi Sekretari dan Manajemen (ASM) Marsudirini Santa Maria Yogyakarta mengadakan bedah buku untuk salah satu kegiatan pada mata kuliah Kepemimpinan di Lantai 2 kampus setempat, Jumat (27/10/2023).

Acara ini dihadiri oleh Direktur ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta dan civitas akademika, yaitu dosen dan mahasiswa semester 3 dan 5 Program Studi Administrasi Perkantoran, Manajemem, dan Hubungan Masyarakat.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan kali ini buku yang dibedah adalah Who Moved Cheese? dan Filosofi Teras.

Direktur ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta Suster M Paula Suwarni OSF mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini agar dapat berkembang dan menjadi pemimpin generasi muda yang handal.

“Kepemimpinan harus dimulai dari diri sendiri secara fokus dan yakin. Maka, pimpinlah dirimu sendiri, kendalikan dirimu sendiri, baru kita bisa memimpin orang lain,” kata suster.

Pada sesi pertama dipandu oleh Fajar sebagai moderator serta Daniel dan Anne sebagai pematik dengan buku yang dibedah adalah Who Moved My Cheese?.

Buku Who Moved My Cheese? Ini mengajarkan kepada pembaca untuk menyikapi perubahan yang ada dan belajar untuk keluar dari zona nyaman.

“Who Moved My Cheese? adalah sebuah perumpamaan sederhana yang mengungkap kebenaran sejati tentang perubahan. Dengan cara yang sangat menyenangkan dan memberikan pencerahan, berkisah tentang empat tokoh yang hidup dalam sebuah “Labirin” dan mencari “Cheese” untuk bertahan hidup dan membuat mereka bahagia,” ujar Fajar saat mengakhiri sesi pertama.

Suasana diskusi dan bedah buku yang diadakan ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta pada Jumat (27/10/2023).

Sedang pada sesi kedua dilaksanakan bincang buku Filosofi Teras yang dipandu oleh Dimas sebagai moderator serta Odit dan Wulan sebagai pemantik.

Dalam buku Filosofi Teras ini disampaikan tentang bagaimana menyikapi overthinking dalam diri.

“Untuk menyikapi overthinking dalam diri kita adalah dengan cara kita harus berefleksi dalam diri kita sendiri. Kita punya waktu 24 jam dalam sehari untuk merefleksikannya,” ucap Odit.

Sementara pada sesi terakhir kegiatan bedah buku ini dilakukan pembahasan keterkaitan antara kedua buku dengan moderator Antonius Kris serta Nunis dan Apri sebagai pemantik.

Nunis mengatakan, keterkaitan dari dua buku ini adalah tentang kepemimpinan. Namun bukan sebagai pemimpin perusahaan atau organisasi, tetapi sebagai pemimpin dalam diri kita masing – masing,” tandasnya.

Pada penghujung acara ini, Dosen Ig Triyana menjelaskan, melalui dua buku ini pembaca bisa belajar bahwa perubahan itu tidak bisa dihindari.

“Jadi kita harus tau bagaimana cara menyikapinya. Dalam menyikapi perubahan ini, kita harus semakin aktif mengendalikan semangat dan motivasi dalam diri kita,” terangnya.

Acara bedah buku ini diakhiri dengan bersama-sama menyanyikan lagu Laskar Pelangi.

Pos terkait