Ikuti Lomba Krenova, Tularno Pusak Tampilkan Pit Kayu “INKU”, Sita Perhatian Juri Dan Pengunjung

Tularno bersama istri saat mempresentasikan karya Pit Kayu “INKU” atau Ini Karyaku di depan para juri Lomba Krenova di Kompleks Agro Techno Park (ATP) Humo Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Rabu (15/3/2023).

WartaKita.org – Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Klaten menggelar Lomba Krenova (Kreativitas dan Inovasi) tahun 2023 di Kompleks Agro Techno Park (ATP) Humo Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Rabu (15/3/2023).

Lomba Krenova ini diikuti oleh para kreator atau pencipta sesuatu perangkat atau barang yang bermanfaat bagi kehidupan manusia maupun benda seni dari seluruh Kabupaten Klaten.

Bacaan Lainnya

Dari sekian peserta Lomba Krenova, salah satunya adalah Tularno alias Pusak (43), warga Dukuh Sambimulyo, Desa Dompyongan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.

Dalam lomba ini, Tularno menampilkan karya Pit Kayu “INKU” atau Ini Karyaku. Di tangan Pusak, dari bahan kayu nangka dan jati bisa disulap menjadi pit kayu yang bernilai artistik dan berharga puluhan juta rupiah.

Sampai saat ini, Tularno telah menghasilkan tiga karya pit kayu.

Ditemui usai presentasi di depan para juri, Tularno mengaku senang dan  bangga dapat mengikuti lomba Krenova tahun ini.

”Ya, saya senang bisa ikut Lomba Krenova ini. Semoga dengan mengikuti Lomba Krenova ini sepeda kayu yang saya buat ini bisa lebih dikenal masyarakat. Syukur-syukur warga masyarakat jadi tertarik dan membeli sepeda kayu produk saya ini,” katanya.

Tularno menjelaskan, untuk pembuatan satu sepeda kayu ini membutuhkan waktu satu setengah sampai dua bulan.

”Yang perlu perhatian esktra itu saat membuat roda, baik roda belakang maupun roda depan. Karena kalau tidak bener bener “senter” nanti jalannya sepeda tidak stabil,” jelasnya.

Tularno bersama istri berfoto bersama Pit Kayu “INKU” atau Ini Karyaku.

Pusak mengatakan, Pit Kayu INKU ini seperti sepeda pada umumnya. Bisa dinaiki. Sedang bahan Pit Kayu INKU ini dari kayu pilihan.

“Kalau nggak dari kayu pilihan, nantinya takut rusak di jalan. Jenis kayunya kombinasi antara (kayu) nangka dan (kayu) jati. Lalu ada tambahan onderdil-onderdil lain, seperti gear dan rantai yang memakai besi,” katanya.

Pusak menyampaikan, karya pit kayu-nya ini bervariasi. Salah satunya adalah sepeda tinggi dengan roda yang besar tersebut. Ketinggian sepeda ini dari tanah sampai setang sekitar 150 cm. Meski begitu, pit kayu ini tetap aman saat dinaikki.

“Pit kayu ini aman kok. Untuk kemana-mana, alhamdulillah aman…,” ujarnya.

Suami dari Sumiyati alias Cicum ini menceritakan, ia mulai membuat pit kayu sejak pertengahan pandemi Covid 19. Jadi, sudah sekitar dua tahun ini. Sampai sekarang, ia sudah menghasilkan tiga karya pit kayu.

“Sementara untuk koleksi. Nanti juga dijual. Sampai sekarang belum pernah dijual. Masih di rumah. Karena harganya belum cocok. Kalau harganya bervariasi, dari Rp5 juta sampai Rp30 juta,” ungkapnya.

Pusak mengungkapkan, ia mulai berinisiatif membuat pit kayu saat pandemi Covid 19. Karena waktu itu banyak temannya yang gowes (bersepeda), dan harga sepedanya lumayan mahal.

“Saya sebenarnya juga mau beli sepeda (yang mahal) itu. Tapi kok eman-eman (sayang pada uangnya). Dan kebetulan, di rumah saya kan ada usaha meubel. Ada banyak kayu. Maka saya berinisiatif untuk membikin sepeda (dari) kayu ini,” paparnya.

Rupanya, pit kayu buatan Tularno ini menyita perhatian para juri dan pengunjung Lomba Krenova. Sejumlah juri bertanya banyak hal dan memberi komentar terkait pit kayu ini. Tularno pun memberi jawaban dengan polos, sebisanya dan apa adanya. Jawaban polos dari Tularno ini membuat suasana ruangan malah jadi gayeng dan tidak sepaneng.

Para pengunjung pun dibuat takjub dengan kreasi Tularno ini. Mereka tak menyangka, dari bahan kayu nangka dan jati bisa dibuat menjadi pit kayu yang bernilai artistik dan berharga puluhan juta rupiah.

Pos terkait