DALAM beberapa tahun terakhir, istilah healing telah menjadi sangat umum di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan pengguna media sosial.
Frasa ini dulunya merujuk pada upaya untuk memulihkan diri secara emosional, mental, dan psikologis, yang bersifat mendalam dan sangat pribadi. Proses ini biasanya memerlukan waktu yang lama, kontemplasi, suasana tenang, dan keberanian untuk menghadapi luka batin dengan kejujuran. Namun, saat ini istilah tersebut telah mengalami perubahan arti akibat cara penggunaannya di ruang digital.
Istilah healing lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan luar seperti liburan ke pantai, bersantai di kafe yang menarik, berkemah di pegunungan, atau sekadar menikmati pemandangan yang indah. Banyak orang memakai istilah ini sebagai indikator bahwa mereka merawat kesehatan mental mereka, sedangkan apa yang mereka tunjukkan lebih berkaitan dengan kebutuhan untuk menampilkan citra diri kepada orang lain. Dengan kata lain, healing telah berubah menjadi identitas visual, bukannya proses yang benar-benar menyentuh aspek terdalam dari diri seseorang.
Perubahan arti ini terjadi karena platform media sosial lebih menyoroti penampilan seseorang dibandingkan dengan kehidupannya yang sebenarnya. Dalam budaya visual yang didominasi oleh Instagram atau TikTok, gambar memiliki dampak signifikan dalam membentuk cara pandang masyarakat.
Ketika seseorang membagikan foto matahari terbenam dengan keterangan “healing dulu biar waras”, yang ingin disampaikan tidak hanya berkaitan dengan rasa tenang, tetapi juga tentang citra diri. Unggahan ini secara simbolis menggambarkan bahwa individu tersebut adalah sosok yang peduli terhadap kesehatan mental, memiliki waktu luang, akses ke lokasi yang indah, serta mengendalikan hidupnya. Dengan cara ini, healing menjadi simbol sosial yang menggambarkan seseorang sebagai individu yang dewasa dan seimbang. Namun, dalam banyak situasi, istilah ini hanya merupakan lapisan dari kerentanan yang sebenarnya belum pernah dihadapi.
Bahasa yang digunakan di platform sosial selalu berhubungan dengan penciptaan identitas. Pilihan kosakata, cara bercerita, dan istilah-istilah terbaru yang diadopsi seseorang merupakan cara untuk mengungkapkan posisi mereka di dalam kelompok sosial tertentu.
Individu yang sering menggunakan kata healing cenderung ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas modern yang peduli terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan. Namun, faktanya, banyak di antara mereka tidak benar-benar menjalani proses refleksi, terapi, atau kontemplasi yang diperlukan untuk pemulihan. Mereka hanya mengekspresikannya melalui foto, video, atau caption yang tampak menyentuh. Identitas yang terbangun ini sangat rapuh karena lebih bergantung pada penerimaan publik ketimbang pada kondisi batin yang benar-benar stabil. Di sinilah bahasa berubah menjadi alat untuk memamerkan kebahagiaan, bukan untuk membangun kebahagiaan itu sendiri.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini lewat budaya pengakuan. Setiap kali sebuah postingan mendapatkan like, komentar positif, atau dukungan dari pengikut, itu berfungsi sebagai bentuk pengesahan sosial yang secara signifikan berdampak pada rasa percaya diri individu. Proses penyembuhan emosional yang seharusnya terjadi dalam kesunyian malah menjadi panggung untuk konsumsi publik.
Orang tidak hanya ingin pulih, tetapi juga ingin terlihat sedang dalam proses pemulihan. Mereka merasa perlu mengekspresikan bahwa mereka kuat, mampu beradaptasi, dan bisa bangkit meski sebenarnya masih menyimpan kekacauan di dalam diri mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa penyembuhan yang tidak autentik bukan hanya sekadar tindakan individu, melainkan juga merupakan sebuah konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh pandangan dan penilaian orang lain.
Paradoks terbesar dari fenomena ini adalah kenyataan bahwa masyarakat modern semakin menyadari arti penting menjaga kesehatan mental, namun pemahamannya justru sangat dangkal. Banyak individu yang berpikir bahwa penyembuhan sebanding dengan liburan, berbelanja, atau sekadar mengambil waktu istirahat dari aktivitas sehari-hari.
Sebenarnya, proses pemulihan kesehatan mental membutuhkan perjalanan batin yang sering kali menyakitkan berhadapan dengan trauma, membuka kembali luka lama, menerima kondisi diri, atau bahkan mengandalkan bantuan ahli. Namun, karena media sosial menggambarkan penyembuhan sebagai aktivitas yang menyenangkan, orang cenderung hanya memahami pemulihan dalam taraf yang dangkal. Akibatnya, muncul pula perlombaan untuk mempertahankan citra bahagia, bukannya usaha untuk benar-benar merasakan kebahagiaan.
Situasi ini memberikan pengaruh tambahan pada cara individu memandang diri mereka sendiri. Ketika identitas dibentuk dari penampilan luar, maka integritas diri menjadi mudah tergoyahkan. Sedikit tekanan, kegagalan, atau penolakan dapat langsung mengacaukan stabilitas emosi karena dasar kepercayaan diri tidak berasal dari dalam hati.
Mereka yang terlalu terfokus pada citra penyembuhan yang dangkal cenderung menunda atau menghindari konfrontasi dengan luka-luka pribadi. Mereka lebih memilih untuk menunjukkan keceriaan yang tidak asli karena takut terlihat lemah. Identitas seperti ini rentan untuk hancur ketika perhatian publik berkurang atau ketika realitas emosional tidak bisa lagi disembunyikan.
Akhirnya, penggunaan kata penyembuhan dalam platform media sosial menunjukkan situasi di mana orang lebih fokus pada penampilan daripada kesehatan mental. Kita berada di era di mana penampilan tenang lebih dianggap penting dibandingkan dengan merasakan ketenangan sejati. Proses pemulihan berubah menjadi lambang sosial yang telah dimodernisasi dan dirancang untuk memperoleh perhatian. Identitas yang muncul dari kata-kata indah dan gambar menarik pada dasarnya rapuh, karena tidak berlandaskan pada kejujuran dalam diri.
Di tengah semua ini, penting untuk menyadari bahwa pemulihan yang sejati tidak membutuhkan pengamat. Ia berkembang dari keheningan, dari keberanian untuk menghadapi luka, dan dari kejujuran untuk menerima diri sendiri apa adanya tanpa perlu menunjukkan sesuatu kepada siapapun.

(Qonita Khumairoh, Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)









