WartaKita.org – Ada banyak cara bisa dilakukan untuk mendukung terwujudnya Klaten sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).
Untuk diketahui, Kabupaten Klaten telah meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) dengan predikat Nindya. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas upaya Pemerintah Daerah dalam memenuhi hak-hak anak dan menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi perkembangan anak. Penghargaan KLA dengan predikat Nindya ini menunjukkan bahwa Klaten telah memenuhi sebagian besar indikator KLA.
Guna mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak ini, maka Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten menginisiasi lahirnya Gereja Ramah Anak (GRA).
Tim Teknis Pengembang Kabupaten Layak Anak (KLA) Klaten, Aye Kusbandono, Minggu (6/7/2025), menyampaikan, pada dasarnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mengakui bahwa komunitas gereja (terlebih Paroki Wedi) telah berupaya untuk memenuhi dan melindungi hak-hak anak dengan berbagai kegiatannya.
Salah satunya adalah Program Kado Berkat (Keluarga Suka Berdoa dan Berbagi Berkat) yang ditelah dilakukan Paroki Wedi. Dan pada tahun 2025 ini, merupakan Kado Berkat #2 dengan tagline “Kado Berkat Luwih Mbalur (Ambyur Mbangun Sedulur)”.
“Program Kado Berkat ini secara tidak langsung mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak. Semoga Paroki Wedi menjadi pionir untuk mewujudkan Gereja Ramah Anak,” katanya.
Ketua Bidang (Kabid) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Paroki Wedi ini menyatakan, rumah ibadah dan lingkungan keagamaan itu ibarat sumur sumber pembersih, air dan ember. Maka harus sering dirawat. Begitu pula iman. Harus sering merefleksi diri agar tidak terjebak pada pengkultusan.
“Forum anak menekankan, usia anak wajib berorganisasi untuk membentuk citra positif sesuai dengan perkembangan psikososialnya,” ujarnya.

Sedang Plt Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3APPKB) Kabupaten Klaten, Atik Noor Rohmah mengatakan, perlu ada upaya-upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.
“Karena anak bisa menjadi pelaku dan sekaligus korban kekerasan. Dan munculnya kasus kekerasan bisa dimulai dari lingkungan terdekat, dan adanya kesepakatan,” terangnya.
Sementara itu Pastor Paroki Wedi Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr mengungkapkan, Program Kado Berkat ini dimaksudkan agar anak dan orang tua bisa melakukan gerakan D2K2 yaitu doa, derma, kurban, dan kesaksian.
“Dalam Kado Berkat yang kedua ini anak-anak diberi celengan, agar menjadi gerakan menabung, dan hasilnya untuk sesama. Sehingga setiap pribadi Katolik bisa menjadi pancaran kasih,” pesan rama.









