Diterjang Hujan, Petani Tembakau Di Klaten Merugi, Minta DBHCHT Dialokasikan Untuk Asuransi Kerugian

Juwandi (55), petani yang sekaligus pengusaha tembakau di Desa Karangpakel saat menjemur tembakau hasil panenannya.

WartaKita.org – Hujan yang mulai turun belakangan ini berdampak signifikan bagi petani tembakau di Kabupaten Klaten.

Seperti yang dialami Juwandi (55), petani yang sekaligus pengusaha tembakau di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk ini.

Bacaan Lainnya

Ditemui di rumahnya pada Selasa (5/11/2024) siang, Juwandi menyampaikan, para petani tembakau di Klaten dan daerah lainnya mengalami kerugian dampak dari turunnya hujan belakangan ini.

“Pada tahun 2024 ini, para petani tembakau mengalamai kerugian yang tidak sedikit. Ini karena alam kurang yang bersahabat. Dimana pada awal bulan September yang seharusnya kemarau panjang, ternyata malah turun hujan. Lha mulai turun hujan itu mengakibatkan kualitas tembakau menjadi kurang bagus. Apalagi frekuensi hujan akhir-akhir ini. Lima hari ini hujannya luar biasa. Tembakau yang masih di lahan atau di sawah, kualitasnya menjadi low (rendah), atau kualitasnya kurang memuaskan,” katanya.

Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah ini menjelaskan, kerugian akibat turunnya hujan ini ternyata tidak hanya dialami oleh petani tembakau di Klaten saja.

“Kerugian (akibat turunnya hujan) ini dialami menyeluruh oleh para petani tembakau. Tak hanya teman-teman petani tembakau di Klaten, yang lahan tembakaunya tidak seberapa. Masih banyak teman-teman petani tembakau di (Kabupaten) Bojonegoro, Tuban, Mojokerto (Jawa Timur) juga mengalaminya. Apalagi lahan tembakau yang dikelolanya luas-luas,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Rukun Sata Desa Karangpakel ini menyatakan, petani tembakau merugi karena tembakau yang diolah atau dimasak itu tidak memenuhi target, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

“Dalam hal ini, petani tembakau bisa balik modal saja, ya alhamdulillah. Ya, kemungkinan besar bisa balik modal. Tapi ya hanya gotong royong. Ya seperti itulah, hanya kembali modal,” ungkapnya.

Petani tembakau di daerah Pedan saat memanen tembakaunya di lahan yang tergenang air karena hujan yang turun belakangan ini.

Juwandi mengatakan, iklim yang kurang bersahabat kali ini memang berpengaruh besar terhadap hasil panen (produksi) tembakau di Indonesia.

“Bahkan, pemain ekspor (tembakau) tidak ada pembelian di Klaten. Karena mengingat awal September sudah memasuki musim hujan. Lha disitulah penyebabnya,” tandasnya.

Karena itu Juwandi berharap, Pemerintah dapat mengambil sikap atau bertindak cepat untuk tanggap darurat “menyelamatkan” petani tembakau agar tidak semakin merugi,

“Kami berharap, Pemerintah bisa mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk membayar atau sebagai asuransi atas kerugian yang dialami petani tembakau karena fenomena alam ini. Biar petani tembakau tidak terus merugi. Agar petani tembakau tetap bisa berkontribusi besar terhadap cukai maupun devisa negara. Karena ini bukan human error, tetapi fenomena alam,” paparnya.

Juwandi pun menyambut baik terkait wacana Pemerintah yang akan menghapus utang pelaku UMKM di sektor pertanian, perkebunan, nelayan dan sebagainya.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menyikapi terkait penghapusan utang dari pelaku UMKM. Ini adalah upaya untuk mengentaskan kemiskinan, atau mengurangi kemiskinan. Kami sangat setuju dengan kebijakan Pemerintah ini,” tandasnya.

Ia menambahkan, untuk menanam tembakau, petani butuh modal yang tidak sedikit. Untuk per patok saja, modalnya bisa mencapai Rp8 juta. Maka, petani tembakau butuh bantuan dana untuk menanam tembakau di musim berikutnya

“Seumpama pada tahun depan petani kapok menanam tembakau karena tidak ada suntikan  atau talangan dana, atau kemudahan, ya mohon maaf, untuk kebutuhan tembakau pasti akan mengalami defisit atau berkurang,” ucapnya.

Pos terkait