Di Masa Prapaskah, Paroki Jombor Ada Gerakan “Sehari Tanpa Nasi”, Beras Disumbangkan Kepada Yang Membutuhkan

Rama Cosmas Christian Timur, Pr

WartaKita.org – Sebuah gerakan yang baik lagi mulia dilakukan oleh umat Paroki Santa Theresia Jombor, Kabupaten Klaten, Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada setiap masa Prapaskah.

Namanya gerakan “Sehari Tanpa Nasi”. Gerakan ini dilakukan pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Karena pada dua hari tersebut, umat Katolik yang sudah berusia 18 tahun sampai awal usia 60 tahun wajib berpuasa.

Bacaan Lainnya

Dan hebatnya, gerakan“Sehari Tanpa Nasi” ini sudah berlangsung lama.

Vikaris Parokial Santa Theresia Jombor, Rama Cosmas Christian Timur, Pr di sela kegiatan bakti sosial pengobatan gratis di Balai Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Minggu (12/3/2023), menjelaskan, Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini sudah lama dilakukan di Paroki Jombor, yaitu sejak Rama Yohanes Sunaryadi, Pr berkarya di paroki tersebut.

“Jadi setiap hari Rabu Abu dan Jumat Agung, umat Paroki Jombor diandaikan (dianjurkan) untuk tidak makan nasi, dan diganti dengan makanan yang lain. Dan berasnya yang akan dimasak itu lalu dikumpulkan di paroki. Dan setelah semuanya terkumpul, beras itu biasanya akan disumbangkan atau diberikan ke orang-orang yang membutuhkan atau ke seminari,” kata rama.

Rama Cosmas Christian Timur menyampaikan, Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” itu sudah menjadi kebiasaan di Paroki Jombor selama  beberapa tahun terakhir ini. Dan ternyata, greget atau tanggapan umat sangat hebat. Hal itu dibuktikan dengan jumlah beras yang terkumpul.

“Kalau pada Paskah tahun 2022 lalu, dari beras yang terkumpul itu ada yang disumbangkan ke seminari atau ke panti asuhan, atau ke tempat-tempat yang membutuhkan,” ujar rama.

Rama Oot menyatakan, tanggapan umat Paroki Jombor terhadap Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini sangat bagus.

“Bahkan sebelum Rabu Abu kemarin, ada pertanyaan dari umat, tahun ini ada Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” nggak ya? Maka, kita hanya mengingatkan kepada umat, bahwa hari Rabu Abu ini ada Gerakan “Sehari Tanpa Nasi”. Dan ini memang sudah menjadi kebiasaan umat,” tandas rama.

Pastor yang ditahbiskan pada Rabu, 29 Juni 2022 itu mengatakan, Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini tidak “mengganggu” program Aksi Puasa Pembangunan (APP) dari Keuskupan Agung Semarang. Umat tetap memasukkan dana di kotak APP yang telah mereka terima.

“Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini memang sudah menjadi krenteke (niat) umat. Maka setiap Rabu Abu dan Jumat Agung, umat ora maem nasi, berase dikumpulke ning paroki. Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini dengan sendirinya sudah menjadi kebiasaan umat Paroki Jombor,” terang rama.

Pastor kelahiran Kulon Progo ini menambahkan, karena Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini telah berlangsung lama dan sudah menjadi niat bersama. Maka sambutan umat juga luar biasa.

“Kalau pengandaiannya, setiap keluarga rata-rata mengumpulkan beras satu kilo atau setengah kilo ke paroki. Tetapi kenyataannya malah lebih. Umat yang merasa berasnya lebih, maka juga akan memberikan lebih. Dan biasanya, untuk (Gerakan “Sehari Tanpa Nasi”) Rabu Abu, maka pada hari Minggu berikutnya, beras sudah dikumpulkan (di paroki). Begitu pula pada Jumat Agung. Selama ini, yang mengurusi Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” adalah panitia Paskah,” paparnya.

Gerakan “Sehari Tanpa Nasi” ini disambut baik oleh umat Paroki Jombor.

“Program (Gerakan “Sehari Tanpa Nasi”) ini bagus. Di dua hari itu (Rabu Abu dan Jumat Agung), umat memang tidak makan nasi. Dan berasnya dikumpulkan di paroki. Beras dari umat dikumpulkan di lingkungan, lalu diserahkan ke paroki. Gerakan ini sudah berlangsung lama. Sudah sekitar 6 tahun. Ini gerakan yang bagus,” kata Agustinus Paryono, umat Lingkungan Santa Agnes Meger.

Pos terkait