Di Gelar Seni Budaya SMA, Liben Tampilkan Perjuangan Che Quevara

Liben berfoto bersama para siswa pengunjung gelar budaya di Kampus Unwidha Klaten, Sabtu (27/4/2019).

WartaKita.org – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMA/MA Kabupaten Klaten mengadakan Gelar Seni Budaya ke 13 tahun 2019 di Kampus Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten, Sabtu-Minggu (27-28/4/2019).

Gelar Budaya ini menampilkan 4 cabang atau materi pagelaran, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater.

Bacaan Lainnya

Seni rupa meliputi seni lukis, seni patung, seni kriya, seni desain, dan fotografi. Seni musik berupa festival band, volk song, karaoke, campursari, dan karawitan. Seni tari meliputi tari tradisional dan tari kreasi baru. Dan seni teater berupa sajian teater bebas.

Gelar Budaya ini mengusung tema “Melalui pagelaran seni kita galang kebersamaan dalam berolahseni demi meningkatkan nilai luhur budaya bangsa”.

Dalam gelar budaya ini, SMA Negeri 3 Klaten menampilkan sejumlah karya seni. Diantaranya berupa pembacaan puisi dan kejurnalisan sketsa yang dilakukan oleh siswa SMAN 3 Klaten, Temanku Lima Benua (Liben). Liben membacakan puisi dan memamerkan sketsa bertema perjuangan Che Quevara pada Sabtu (27/4/2019).

Temanku Lima Benua menyampaikan, pembacaan puisi ini dilakukan untuk memperingati Hari Puisi Nasional yang jatuh pada 28 April. Liben sengaja memilih puisi mengenai perjuangan Che Quevara.

“Rasanya saat ini tidak ada yang tidak mengenal wajah Che Quevara. Foto dan gambarnya bisa ditemui di berbagai produk industri dari sosialis sampai kapitalis, seperti kaos oblong, bak truk, mikrolet, sepatu, dan lainnya. Moto “Hasta La Victoria Siempre” atau mencapai kemenangan selamanya menjadi semangat tersendiri bagi kaum muda,” ucapnya.

Liben menyatakan, Che Quevara adalah penentang kapitalisme yang menjadi korban industri kapitalisme.

“Che Quevara itu simbol perlawanan anak muda sepanjang masa. Dia adalah pejuang, gerilyawan, penulis, politisi, dokter, sekaligus lelaki sejati,” katanya.

Siswa SMAN 3 Klaten ini mengatakan, apa yang dia gambar dan dipamerkan itu hanyalah sebuah kejurnalisan sketsa. Seperti seorang jurnalis secara umum dengan tulisannya.

“Sketsa-sketsa peristiwa aksi penolakan penindasan dan kapitalisme ini untuk menginpirasi banyak orang agar berbuat yang bermanfaat bagi orang banyak. Karena itulah manfaat hidup kita,” tandasnya.

Pos terkait