Dari Pandemi Menuju Endemi

Januari Ayu Fridayani

KEBIJAKAN pelonggaran pemakaian masker yang dicetuskan Presiden Joko Widodo pada 17 Mei 2022 semakin menegaskan bahwa Indonesia telah bersiap untuk mengubah status pandemi Covid-19 menjadi endemi.

Sebelum muncul kebijakan ini, kelonggaran kebijakan terkait pandemi Covid-19 masyarakat juga telah terlihat dari diperbolehkannya mudik pada musim Lebaran dan penumpang pesawat tidak perlu lagi menunjukkan hasil tes antigen maupun PCR.

Bacaan Lainnya

Tentu saja, pro dan kontra tetap menyertai kebijakan pelonggaran tersebut.

Lalu pertanyaanya: Sudahkah Indonesia siap menjadikan Covid-19 sebagai endemi?

Atau dengan  kata lain, bahwa keadaan atau kemunculan Covid-19 (sudah) dianggap konstan. Atau penyakit tersebut dianggap biasa ada di dalam suatu populasi atau area geografis tertentu, seperti malaria dan demam berdarah.

Covid-19 bukan lagi menjadi pandemi, dimana wabah penyakit berjangkit secara bersamaan dan meliputi daerah geografis yang luas, menyebar hampir di seluruh negara atau benua, seperti penyakit Covid-19 yang menjangkiti dunia selama lebih dari dua tahun ini.

Tulisan ini tidak akan mengajak pembaca untuk memperdebatkan pro kontra berkaitan dengan pandemi yang berubah menjadi endemi. Namun akan lebih menyoroti dampak yang ditimbulkan pandemi dalam arti positif yang sebaiknya masih terus diadaptasi pada masa endemi Covid-19.

Apa sajakah dampak positif pandemi tersebut?

Tulisan ini akan menyoroti empat hal, yaitu kebiasaan hidup sehat, kebiasaan meeting online, Webinar, dan penggunaan QRIS untuk transaksi.

Saat ini, di tempat-tempat umum sudah dapat dipastikan tersedianya tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. Hand sanitizer juga telah menjadi kebutuhan pokok manusia. Sebaiknya, kebiasaan ini tetap dilestarikan. Tidak ada salahnya bagi warga untuk tetap mencuci tangan sesering mungkin dan menggunakan hand sanitizer juga sesering mungkin.

Meskipun penggunaan masker sudah tidak wajib, sebaiknya kebiasaan cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer tetap dijaga. Tempat-tempat cuci tangan yang sudah ada dan tersedia di ruang public, tidak perlu dihilangkan. Justru sebaliknya, semakin dijaga kebersihan dan penggunaannya.

Kebiasaan selanjutnya yang masih dapat diadaptasi yaitu pertemuan secara daring dengan menggunakan berbagai media dan aplikasi online. Hal ini dapat meningkatkan keefektifan dan keefisienan dalam suatu organisasi. Karena untuk memutuskan sesuatu dalam rapat, tidak perlu menunggu jam dan waktu tertentu. Jika memang mendesak, dapat dilakukan secara virtual.Tentu saja ini tidak akan menggantikan makna perjumpaan yang sering dirindukan di masa pandemi.

Kebiasaan meeting online tidak perlu dilakukan secara terus menerus. Namun dapat digunakan sebagai alternatif jika memang dibutuhkan. Pandemi telah memberikan pembelajaran, termasuk pertemuan secara virtual yang tadinya dirasa kaku dan tidak mungkin, menjadi hal yang biasa.

Tidak jauh berbeda dari kebiasaan meeting online, Webinar juga merupakan suatu fenomena baru yang cukup populer pada saat pandemi. Seminar-seminar yang tadinya dilaksanakan di gedung-gedung lengkap dengan pembicara (yang biasanya dari luar kota, atau bahkan luar negeri) dan juga coffee break plus lunch, pada saat pandemi cukup melalui layar di laptop.

Sama halnya dengan meeting online, di saat endemi, Webinar tidak harus dilakukan secara terus-menerus. Maka kini mulai bermunculan seminar yang dilakukan secara hybrid, dimana pembicara yang berasal dari jauh dapat ditayangkan secara live melalui aplikasi tertentu.

Hal ini tentunya lebih menghemat biaya dan waktu dari pembicara. Selain itu, peserta dari tempat yang jauh juga tetap dapat mengikuti dengan biaya yang lebih terjangkau, tanpa mengurangi esensi dari materi yang diperoleh. Tentu, yang tidak dapat tergantikan adalah makna perjumpaan dan pengalaman bepergian.

Dampak positif yang lahir dari pandemi yang disoroti dalam tulisan ini adalah penggunaan Qris atau Quick Response Code Indonesian Standard. QRIS adalah standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya (www.bi.go.id).

Di saat pandemi, sudah banyak outlet-outlet yang menggunakan QRIS ini. Tentunya, selain meminimalisir kontak dengan bersentuhan tangan maupun memegang uang, hal ini juga sangat mendukung Gerakan Cashless yang didorong oleh Kementerian Keuangan RI.

Cashless Generation dipandang lebih memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan uang tunai. Dengan metode cashless baik untuk penerimaan pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), uang akan secara langsung masuk ke kas negara. Dengan demikian, penggunaan cashless memiliki kontribusi dalam upaya mengurangi fraud pada Lembaga penerimaan negara (www.kemenkeu.go.id).

Itulah empat hal yang dapat tetap diadopsi sebagai buah dari pengalaman kita bersama hidup bersama pandemi Covid-19. Masih banyak hal lain yang dapat dipetik dari pandemi Covid-19, baik secara personal maupun bersama kelompok. Namun, ada fenomena yang tidak dapat tergantikan, yaitu perjumpaan secara langsung dan kehidupan yang tidak dihiasi kecemasan dan ketakutan.

Kita berharap, semoga pandemi Covid-19 ini akan segera berubah menjadi endemi. Dengan berbekal pengalaman yang diberikan oleh Covid-19, kita diajak untuk semakin bijaksana dalam menyikapi berbagai hal dalam setiap aspek kehidupan.

Januari Ayu Fridayani, Dosen Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

 

Pos terkait