Dan Akhirnya Aku Pun Berani ….

Maria Anna Dwi Tjahjarini

SAAT INI, setelah tiga tahun berlalu baru aku berani.

Mungkin ada yang bertanya-tanya: “berani apa?” dan “mengapa harus menunggu tiga tahun?”

Bacaan Lainnya

Selama tiga tahun lebih, akhirnya di minggu kedua bulan Februari 2022 ini, aku baru kembali berani mendengarkan lagu-lagu rohani ber-genre pop. Mengapa demikian?

Hal ini terjadi karena ada peristiwa menyakitkan yang pernah terjadi di baliknya. Sebuah peristiwa menyakitkan yang membuat duniaku runtuh dengan tiba-tiba seakan tak bersisa sama sekali.

Saat itu, pada Sabtu malam, 15 September 2018 sekitar pukul 20.30 WIB peristiwa itu berawal. Sepulang dari pembukaan Doa Senakel di gereja, aku bersama suami mencari lauk untuk makan malam karena anakku di rumah sudah berpesan untuk membelikannya lauk.

Akhirnya kami putuskan untuk membeli mie Jowo yang ada di sebuah warung pinggir sungai. Sungai itu cukup lebar dan dalam serta berbatu-batu meski airnya asat.

Kami duduk di bangku yang disediakan pedagang mie tersebut sambil berbincang-bincang tentang rencana esok hari. Kami berencana akan pergi ke Kota Salatiga karena mendapat kabar ada saudara yang meninggal di sana.

Setelah mie siap dan dan kami bayar, aku pun beranjak dari bangku dan meletakkan mie tersebut di sepeda motor.

Arghhhhhhhhhh……… Tiba-tiba terdengar suara jeritan. Aku pun bingung dan segera berlari menuju sumber suara ….  Dan…. Ya … Tuhan aku tidak percaya …. Suamiku terjatuh ke dalam sungai yang asat dan berbatu-batu itu. Tubuhku seakan tak bertulang, lemas, tak bertenaga. Aku pun tak sanggup mengeluarkan suara.

Dibantu oleh orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, suamiku pun diangkat ke atas dengan kepala yang bersimbah darah. Suasana cukup mencekam bagiku. Dengan segera suamiku dibawa ke rumah sakit.

Setelah melalui proses pemeriksaan yang cukup panjang, dokter mengatakan bahwa suamiku harus segera masuk ke ruang ICU (Intensive Care Unit) karena ia mengalami pendarahan otak. Tetapi saat itu, di rumah sakit tersebut ruang ICU penuh dengan pasien. Pihak rumah sakit mencoba mencarikan rumah sakit yang masih bisa menerima pasien di ruang ICU. Ternyata sama saja.

Akhirnya suamiku dirawat di ruang rawat inap di rumah sakit tersebut sambil menunggu ketersediaan tempat di ruang ICU. Sepanjang malam aku hanya bisa menangis dan meraung melihat keadaannya.

Keesokan harinya, keadaan suamiku semakin drop. Setelah menerima Sakramen Minyak Suci, dokter pun memberitahu bahwa suamiku harus segera dioperasi untuk menghentikan pendarahan di otaknya. Akan tetapi, dokter akan melakukannya jika ada tempat kosong di ruang ICU. Aku semakin tak berdaya. Seluruh kerabat, teman, dan saudara yang hadir pun tak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya operasi bisa dilaksanakan setelah ada kabar bahwa ada tempat kosong di ruang ICU. Operasi berlangsung dari pukul 11.00 sampai menjelang maghrib.

Pasca operasi, keadaan suamiku masih sama. Dia dirawat di ruang ICU selama satu minggu. Setelah itu, meski keadaannya masih sama, dokter memindahkannya ke ruang rawat inap.

Di ruang rawat inap, suamiku mendapat perawatan yang baik dari para perawat rumah sakit. Segala macam peralatan dibawa perawat ke dalam ruangan tersebut meski kondisinya masih sama.

Bila orang bertanya bagaimana keadaannya, aku bingung harus memberikan jawaban. Karena dikatakan sudah sadar, tetapi dia tidak merespon. Dikatakan belum sadar, tetapi dia bisa melek dan kadang-kadang menggerakkan tangan, kaki, atau mulutnya.

Dokter mengatakan bahwa dia dalam kondisi vegetative state, yaitu kondisi penurunan kesadaran yang ditandai dengan keadaan penderita yang terkesan dalam keadaan terbangun, tetapi tidak dapat memberikan respons terhadap orang lain dan lingkungan di sekitarnya.

Beberapa kali dia pun menjalani operasi di bagian kepalanya, tetapi keadaan masih sama. Saudara, kerabat, teman-teman silih berganti datang menjenguk, memanjatkan doa, dan memberi kekuatan padaku.

Untuk merangsang kesadarannya, aku selalu mengajaknya berbicara walaupun itu sama sekali tidak berdampak. Aku pun memutarkan lagu-lagu rohani yang kurekam di sebuah flashdisck. Lagu sebanyak 100-an itu berputar selama 24 jam non stop. Para perawat yang merawat pun kadang ikut bernyanyi memberi dorongan kesadaran suamiku.

Keadaan ini berlangsung selamat tiga bulan. Segala macam upaya telah diusahakan, tetapi keadaan tidak berubah. Setiap pagi aku ikut misa di kapel rumah sakit untuk memohon belas kasih Tuhan. Setiap pagi, suamiku pun menerima berkat dari Romo atau Suster yang bertugas menerimakan komuni.

Akhirnya, suamiku pun menyerah. Pada hari Jumat Pertama, 7 Desember 2018 pukul 13.30 WIB ia meninggalkan kami semua setelah menerima Sakramen Minyak Suci. Aku tak sanggup menerimanya, namun aku harus ikhlas. Aku merasa gamang menatap hidupku selanjutnya. Hanya anakku satu-satunya yang menjadi harapanku.

Itulah alasanku mengapa selama tiga tahun aku tidak berani mendengarkan lagu-lagu rohani. Karena setiap mendengarnya pastilah air mataku akan meluncur turun dengan deras. Terbayang kembali bagaimana almarhum suamiku tergolek tak berdaya di rumah sakit selama tiga bulan.

Kini, pelan-pelan aku sudah mulai berani mendengarkan lagu-lagu rohani itu, walau kadang air mata masih turun tanpa bisa dikendalikan. Hanya satu yang sampai saat ini masih belum bisa kulakukan yaitu melewati tempat kejadian saat suamiku terjatuh.

Semoga Tuhan semakin menguatkanku. Aku harus bangkit. (Maria Anna Dwi Tjahjarini)

Maria Anna Dwi Tjahjarini atau yang akrab dipanggil Bu Anna ini lahir di Semarang. Dia adalah salah seorang pengajar di SMP Maria Mediatrix Semarang. Bersama-sama dengan guru-guru lainnya di SMP Maria Mediatrix dia sudah menghasilkan sebuah antologi puisi yang berjudul “Dalam Dekap Santo Fransiskus Assisi” yang terbit tahun 2020. Selain itu, berkolaborasi dengan guru-guru MGMP Yayasan Marsudirini dia juga sudah menghasilkan buku yang berjudul “Gelora Pembelajar Sejati” yang terbit tahun 2021.

 

 

 

Pos terkait