WartaKita.org – Credit Union (CU) Kridha Rahardja mengadakan Lokakarya optimalisasi aset peliharaan tanaman dan hewan dengan pendekatan ABCD atau Aset Based Community Development di Dukuh Panggil, Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten pada Jumat – Sabtu (14-15/3/2025).
Lokakarya ini diikuti 48 peserta dari Pengurus, Komite, Manajemen, dan perwakilan Komunitas Teritori (Komter). Sedang bertindak sebagai mentor lokakarya adalah Cornelius Widodo Utomo dari Widodo Farm Salatiga.
Di akhir lokakarya, Widodo menyampaikan sejumlah catatan penting terkait “Pertanian Dengan Biaya Sangat Rendah”.
Pertama, mindset (pola pikir) petani atau masyarakat harus diubah, bahwa gulma (tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman) itu adalah mitra petani.
“Gulma itu menjadi mitra petani. Jadi tidak boleh dihilangkan. Tetapi diambil manfaatnya untuk dijadikan pupuk, lalu disistemikkan, dimasukkan ke dalam tanaman yang kita pelihara, dengan bantuan JWA ((JADAM Wet Agent),” katanya.
Kedua, lanjut Widodo, petani harus mencoba melakukan pelapukan daun dari banyak tempat. Pelapukan daun ini untuk membuat bank mikroba. Karena mikroba harus standby (tersedia) di rumah petani.
Ketiga, petani harus mencoba mengembangkan mikroba dengan apa yang dia punyai. Sumber dari mikroba ini adalah buah, sayuran, dan makanan yang manis dan mengandung karbohidrat. Maka, petani diminta untuk memanfaatkan limbah yang ada (di sekitarnya) untuk mengembangkan mikroba.
Dan keempat, petani tidak boleh (pantang untuk) membakar dedaunan. Kalau ada daun (apapun) harus dikumpulkan.
“Kalau niat kita bertani, ya jangan pernah berhenti melakukan sesuatu. Teruslah melakukan riset. Karena riset tidak pernah selesai. Maka petani harus belajar dan terus belajar,” pesannya.

Widodo menyatakan, salah satu prinsip JADAM (Jayonul Damun saraMdul, dalam bahasa Korea) adalah hidup berdampingan dengan rumput liar atau gulma (weed). Tanaman gulma memiliki kelebihan dalam hal ketahanan, kecepatan tumbuh, kecepatan berkembang biak sehingga sering dianggap sebagai pengganggu tanaman utama.
“JADAM mengingatkan kita untuk mencari manfaat dan kemungkinan pemanfaatan rumput liar, daripada menggunakan energi yang tidak perlu untuk membuangnya. Rumput liar melindungi dan mengembalikan nutrisi ke tanah sambil menarik serangga yang bermanfaat,” ungkapnya.
Pada hari kedua lokakarya, pemilik Widodo Farm Salatiga ini mengajari peserta untuk praktek langsung bagaimana membuat media tanam dari sampah organik, media bedengan, media pot, tip pembungaan, pengendalian hama dan penyakit, dan lainnya.
Sedang Ketua Pengurus CU Kridha Rahardja Rama Antonius Sumarwan, SJ dalam sambutan mengucapkan terima kasih kepada peserta dan mentor yang telah mengikuti lokakarya ini.
“Salah satu tujuan dari lokakarya ini adalah untuk menggerakkan komunitas teritori. Kita membayangkan bahwa di teritori ada produk-produk unggulan, seperti produk tanaman maupun hewan piaraan. Harapan kita bersama, ini sungguh-sungguh terjadi, bertolak dari apa yang sudah kita lakukan (lokakarya),” kata rama.

Rama Antonius Sumarwan berharap, para peserta akan melakukan hal yang sama (pelatihan) di teritori masing-masing. Apalagi alat-alat sudah dibagikan kepada peserta.
“Marilah apa yang sudah kita mulai ini sungguh-sungguh kita laksanakan. Masih ada lanjutan dari pelatihan ini, yaitu pelatihan di teritori masing-masing. Proses kita akan berlanjut, dan terus-menerus. Kita fokus dulu untuk satu tahun ini. Dan moga-moga dalam beberapa waktu kedepan, produk-produk dari teritori itu sudah kelihatan,” harap rama.
Lokakarya optimalisasi aset peliharaan tanaman dan hewan ini disambut baik oleh para peserta.
Peserta lokakarya, Fransiscus Otok Kristianto mengatakan, lokakarya ini sangat bagus dan menarik. Apalagi lokakarya ini berhubungan langsung dengan kegiatan mereka sehari-hari, yaitu bidang pertanian dan peternakan.
“Saya mendapatkan banyak ilmu. Yang selama ini banyak orang yang tidak tahu dalam proses pembuatan pupuk yang sebenarnya, kita bisa membuat dari apa yang ada di sekitar kita, dengan biaya nol rupiah, bisa dibilang begitu. Karena semua sudah tersedia di alam. Tetapi karena sebagian masyarakat sudah disediakan pupuk serba kimiawi, maka mereka lebih memilih pupuk yang serba kimiawi itu. Tetapi mudah-mudahan, dengan kegiatan ini, proses pembuatan pupuk dan pembuatan pestisida itu, kita bisa lebih meningkatkan hasil pertanian dan peternakan kita, dengan biaya yang sangat rendah,” ungkap anggota Komunitas Teritori Mardi Gemi ini.









