Warta Kita.org – Belakangan ini, penyakit leptospirosis sedang merebak di sejumlah wilayah di Kabupaten Klaten.
Untuk diketahui, Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan, dan seringkali disebut sebagai “penyakit kencing tikus” karena penyebarannya melalui urin hewan, terutama tikus yang terinfeksi.
Berdasarkan data yang ada, leptospirosis memang sedang mewabah di Klaten pada tahun 2025 ini. Hingga akhir Juli terdapat 97 kasus dengan 18 kematian. Kasus ini tersebar di 25 dari 26 kecamatan di Klaten, kecuali Kecamatan Juwiring.
Melihat realita tersebut, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kadarwati terpanggil untuk mengadakan sosialisasi mengenai pencegahan leptospirosis di Gedung Serbaguna Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada Rabu (20/8/2025) siang.
“Saat ini merupakan musim berkembang biaknya tikus, sehingga risiko penularan leptospirosis semakin tinggi. Untuk itu, langkah pencegahan dini perlu dilakukan agar masyarakat tetap waspada terhadap penularan penyakit ini,” katanya.
Dalam sosialisasi ini warga diberikan edukasi mengenai pengertian leptospirosis, sumber penularan, gejala penyakit, hingga langkah pencegahan.
“Saat saya melakukan sidak (inspeksi mendadak), saya menjumpai adanya indikasi potensi penyebaran penyakit leptospirosis. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga dengan menjaga kebersihan, gotong royong, serta upaya nyata untuk mengurangi populasi tikus,” ujar Kadarwati.
Kadarwati menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit berbahaya yang bisa berujung fatal bila penderita tidak segera ditangani. Gejala khas antara lain mata menguning, demam mendadak, hingga kerusakan organ.
“Kalau terlambat terdeteksi, penderita bisa meninggal. Maka, begitu ada gejala, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan darah. Jangan dianggap remeh,” pesannya.
Ibunda dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo ini juga mendorong agar kader kesehatan desa bersama perangkat desa, PKK, serta tokoh masyarakat aktif melakukan sosialisasi berjenjang.
“Gerakan pionir dari desa akan memberikan pemahaman penting bagi warga agar hidup bersih dan waspada. Antisipasi jauh lebih baik daripada menyesal,” tandasnya.
Acara sosialisasi ini turut dihadiri Camat Trucuk Marjono, beserta jajaran Forkopimcam, kepala desa se Kecamatan Trucuk, Kepala Puskesmas Trucuk, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat.
Sementara itu Kepala Desa Wanglu Suyono menyambut baik kegiatan sosialisasi mengenai pencegahan leptospirosis ini.
“Kami siap meneruskan sosialisasi ini kepada warga. Kami juga akan melibatkan kader kesehatan dan masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyakit leptospirosis ini,” ucap Suyono.









