Cegah Leptospirosis Dan Stunting Di Klaten, Kadarwati Gandeng Bidan Desa Adakan Sosialisasi Kesehatan Di Jatipuro

Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan, Kadarwati mengadakan sosialisasi kesehatan di Balai Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada Senin (13/7/2025) sore.

Warta Kita.org – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan Kadarwati menggandeng Bidan Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Harisyanti mengadakan sosialisasi kesehatan di balai desa setempat pada Senin (13/7/2025) sore.

Kegiatan yang mengusung tema “Peningkatan kualitas pelaksanaan tugas Bapemperda (Badan Pembentukan Peraturan Daerah) mencegah berkembangnya leptospirosis” ini dihadiri Pemerintah Desa, BPD, Ketua RW, Ketua RT, Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, Pengurus Ranting PDIP Desa Jatipuro, dan lainnya.

Bacaan Lainnya

Sosialisasi kesehatan yang fokus utamanya pada pencegahan leptospirosis dan stunting ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan cerdas.

Kadarwati dalam paparan menyampaikan, pencegahan penyakit dan peningkatan gizi masyarakat sejak dini adalah kunci keberhasilan dalam pembangunan kesehatan.

“Kami ingin agar Kabupaten Klaten menjadi contoh daerah lain yang berhasil menurunkan angka penyakit menular dan kasus stunting melalui edukasi serta tindakan nyata di lapangan,” katanya.

Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah ini menyatakan, salah satu penyakit yang menjadi perhatian serius belakangan ini adalah leptospirosis, infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan umumnya ditularkan melalui tikus.

“Karena itu saya mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersihan di lingkungannya. Dan terutama di rumahnya. Karena area yang kotor menjadi sumber perkembangbiakan tikus,” ujarnya.

Selain itu, pada sosialisasi kesehatan ini juga menyoroti pentingnya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi optimal selama 1000 hari pertama kehidupan. Langkah ini dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Asupan gizi yang tepat pada periode emas ini sangat menentukan kecerdasan, pertumbuhan, dan masa depan anak,” tandas Kadarwati.

Sedang Bidan Desa Jatipuro Harisyanti menjelaskan, penularan penyakit leptospirosis ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi urine tikus.

“Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran leptospirosis,” ungkapnya.

Harisyanti menerangkan, gejala leptospirosis ini meliputi demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot (terutama betis), mata merah, dan penyakit kuning.

“Penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih parah dan berisiko menyebabkan gagal ginjal, gagal hati, perdarahan, meningitis, atau sesak napas. Maka, penanganan penyakit leptospirosis harus dilakukan sesegera mungkin dan di rumah sakit,” paparnya.

Ia mengatakan, sinergi antara wakil rakyat (DPRD) dan tenaga kesehatan (bidan desa) ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan keluarga serta kebersihan lingkungan.

“Upaya tersebut menjadi langkah konkret dalam menekan angka penyakit menular dan stunting di Kabupaten Klaten. Dengan kolaborasi berkelanjutan,diharapkan masyarakat Klaten dapat menikmati kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera,” harapnya.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Jatipuro Tulus Nugroho menyambut baik kegiatan sosialisasi kesehatan yang diinisiasi Kadarwati ini.

“Secara pribadi dan mewakili Pemerintah Desa Jatipuro kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Kadarwati yang selalu peduli dengan masyarakat di desa ini. Termasuk kegiatan sosialisasi kesehatan pada sore ini. Apalagi belum lama ini, ada satu warga desa kami yang meninggal karena terpapar leptospirosis,” ucap Kades.

Pos terkait