Warta Kita.org – Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengajak masyarakat Klaten untuk membiasakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar agar terbebas dari berbagai penyakit, terutama leptospirosis.
Hal tersebut disampaikan Bupati Klaten menyusul semakin meningkatkan kasus Leptospirosis di Kabupaten Klaten yang kini tercatat mencapai 99 kasus dengan jumlah kematian 19 orang.
“Pola hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan, baik di rumah dan lingkungan sekitar itu yang utama. Kedua, bagaimana cara kita membasmi atau mengurangi hama tikus di sekitar kita. Untuk itu kepada warga masyarakat Klaten, saya mengimbau untuk terus menjaga kebersihan lingkungan agar terbebas dari berbagai penyakit,” kata Bupati saat menghadiri jalan sehat dan lomba tumpeng di Kecamatan Kebonarum beberapa waktu lalu.
Mengingat korban virus leptospirosis tidak hanya di rumah, melainkan juga di persawahan, maka Bupati juga meminta agar petani yang akan menggarap sawah untuk memperhatikan dirinya. Apakah mempunyai luka di badan yang sekiranya bisa terkena kotoran tikus saat di bekerja sawah.
“Dan bagi petani atau kelompok tani, tentunya kegiatan gropyokan tikus bisa ditingkatkan. Karena selain menjadi hama padi yang merusak tanaman dan berakibat gagal panen, ternyata kotoran tikus di sawah juga membahayakan petani penggarap yang kebetulan punya luka, namun nekad pergi ke sawah,” ujar Bupati.
Sedang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten dr Anggit Budiarto MMR menjelaskan, saat ini kasus leptospirosis di Klaten meningkat dibandingkan tahun 2024 lalu. Hingga 30 Juli 2025, tercatat ada 99 kasus yang tersebar di 25 kecamatan, kecuali Kecamatan Juwiring.
Anggit menjelaskan, pada tahun lalu, total ada 37 kasus. Sehingga kondisi sampai Juli 2025 ini sudah jauh melampaui kasus kumulatif 2024. Kasus terbanyak ada di Puskesmas Pembantu Wedi dengan 14 kasus.
“Persentase (penderita) sebagian besar laki-laki sejumlah 74 orang atau 76,29 persen dan perempuan 25 orang atau 23,71 persen. Sebagian penderita beraktivitas di sawah yang pekerjaannya sebagai petani atau buruh tani,” paparnya.
Ia menambahkan, dalam menangani kasus ini, langkah-langkah yang dilakukan yakni memberi penyuluhan kepada warga dan petani, melakukan peningkatan kapasitas bagi TPMD (Tempat Praktik Mandiri Dokter) serta klinik karena banyaknya kasus leptospirosis.









