WartaKita.org – Umat Paroki SantoYohanes Rasul Wonogiri tumpah ruah menikmati pentas “Lerok” yang dimainkan oleh umat Lingkungan Roh Kudus Timang bersama para rama di halaman gereja paroki setempat pada Minggu (13/7/2025) malam.
Lerok adalah seni pertunjukan tradisional semacam Ludruk dari Jawa Timur dimana semua pemain adalah kaum laki-laki.
Pertunjukan Lerok ini menandai puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) ke 58 Paroki Wonogiri.
Pentas Lerok ini mengambil cerita panji dengan lakon “Ande-Ande Lumut.”
Para rama ikut serta dalam pementasan ini. Rama A Joko Purwanto, Pr berperan sebagai Ande-Ande Lumut. Sedang Rama H Budi Purwantoro, Pr memainkan peran Yuyu Kangkang.
Dalam cerita ini dikisahkan, Raden Panji Asmara Bangun, putra Adipati Jenggala pergi dari kerajaan untuk mencari istrinya Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana yang pergi berkelana tanpa diketahui rimbanya.
Panji Asmara Bangun menyamar sebagai pemuda di Desa Dadapan dengan nama Ande Ande Lumut. Ia mencari gadis untuk menjadi pendamping hidupnya. Tiga gadis cantik, yaitu Kleting Abang, Kleting Hijau dan Kleting Biru melamarnya. Namun ditolak oleh Ande Ande Lumut karena mereka menyuap Yuyu Kangkang dengan kemolekan tubuhnya.
Akhirnya, datang Kleting Kuning yang buruk rupa tetapi suci hatinya. Ia ikut “ngunggah-unggahi” atau melamar sang jejaka. Ande Ande Lumut justru jatuh hati dan menerima Kleting Kuning, karena dia tahu gadis inilah Galuh Candra Kirana atau Dewi Sekartaji yang dicari-carinya. Mereka bertemu kembali dan hidup bahagia sebagai suami istri di Jenggala.

Umat sangat bersukacita menikmati hiburan Lerok ini. Mereka menonton sambil makan nasi bungkus yang dikumpulkan dari lingkungan-lingkungan. Tercatat, ada 1.575 nasi bungkus terkumpul dari umat.
Dari awal sampai akhir mereka tak beranjak dari tempat duduk melihat tingkah polah para pemain, terutama rama-rama yang lucu dan bikin “ger-geran” di panggung.
Sebelum pentas dimulai, umat diajak merayakan Ekaristi peringatan HUT ke 58 Paroki dengan nuansa Jawa. Semua petugas dan umat memakai baju adat Jawa. Lagu-lagu dan koor menyanyi diiringi dengan gamelan. Suasana khidmat dan mengesan sangat terasa. Lebih-lebih banyak umat sudah lama tidak menikmati Ekaristi bernuansa Jawa.
Rama A Joko Purwanto dalam kotbahnya mengapresiasi perayaan ini dan berterima kasih karena umat bisa menggunakan tradisi Jawa untuk memuliakan Tuhan.
“Gamelan, nyanyian, pakaian dan adat istiadat yang adi luhung ini harus kita lestarikan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Nilai-nilai inkulturasi tidak bertentangan dengan iman. Mari kita lestarikan bersama,” ajak Rama Joko.

Umat Paroki Wonogiri, Waluya juga mengungkapkan hal yang sama.
“Rasanya lebih ”nges”. Kita orang Jawa mengikuti Misa dengan gamelan dan baju yang pantas untuk ke gereja. Bagus rama ide perayaan ini. Umat sangat antusias dan meriah sekali,” katanya.
Sedang Andreas melihat kegembiraan dan antusiasme umat sebagai gambaran kebersamaan dan kedekatan umat yang satu dengan yang lain, juga dengan para rama paroki yang berkarya.
“Kami senang dan bangga, para rama ikut terjun bersama dengan umat, ikut main Lerok menghibur umat yang hadir. Para rama dekat dengan umat,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Panitia HUT ke 58 Paroki Wonogiri, FR Riyanti mengucapkan banyak terima kasih kepada umat yang ikut terlibat dalam berbagai kegiatan HUT tahun ini.
Mulai kegiatan touring ziarah, donor darah, baksos, tebar benih ikan di Waduk Song Putri, jalan sehat di Plaza Bedol Desa, live in liburan ke Seminari Menengah Mertoyudan dan Komunitas Suster CB, pesta umat, dan pentas Lerok.
“Umat Paroki Wonogiri nampak antusias dan hidup dengan adanya macam-macam kegiatan HUT Paroki ini. Semoga keterlibatan kita semakin meningkat untuk pelayanan di Gereja dan masyarakat,” ucapnya dalam penutupan misa.
Dirgahayu Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri. Terus maju membangun kerukunan, gotong royong dan keterlibatan di tengah masyarakat.









