WartaKita.org – Badai El Nino yang terjadi belakangan ini berdampak luas terhadap pola cuaca, ekosistem, perekonomian, pertanian, kesehatan, dan sebagainya.
Salah satu dampak El Nino yang sangat dirasakan masyarakat adalah kekeringan atau kemarau yang berkepanjangan, yang menyebabkan ketersediaan air untuk kebutuhan hidup menjadi berkurang.
Kemarau yang panjang ini ternyata juga berdampak terhadap debit air Embung Krikilan yang berada di Dukuh Kayu Apak, Desa Krikilan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Memang, airnya masih ada, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Kepala Desa Krikilan Eko Sri Purwanto, Rabu (4/10/2023), menjelaskan, Embung Krikilan ini mulai dibangun sejak tahun 1980-an dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Klaten. Embung Krikilan dibangun saat Kepala Desa Krikilan dijabat oleh Soegito. Embung ini merupakan tanah Desa Krikilan yang tidak produktif. Luasan embung sekitar 1,5 hektar.
“Fungsi dari Embung Krikilan ini untuk mengairi areal pertanian di sekitarnya. Ada sekitar dua hektar areal tanah tegalan (ladang) yang dialiri. Sebagian tanah tegalan ini adalah tanah bengkok perangkat desa dan sebagian lagi milik warga,” katanya.
Eko Sri Purwanto menyatakan, karena kondisi embung yang sudah semakin rusak dan ditumbuhi tanaman liar, serta adanya program pembuatan embung, maka Pemerintah Desa (Pemdes) Krikilan mempunyai ide untuk mengajukan anggaran ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk merehab embung tersebut pada tahun 2018.
“Pembangunan Embung Krikilan ini dikerjakan oleh rekanan yang memenangkan lelang yang dilakukan Pemprov Jawa Tengah. Kalau nggak salah, nilai bantuannya sekitar Rp2 miliar. Tetapi (anggaran) itu juga untuk Embung Mranggen (Kecamatan Jatinom). Istilahnya, desa hanya terima jadi. Ya sudah seperti itu. Jadi lebih enak. Yang penting sesuai kegiatan,” ujarnya.
Kepala Desa Krikilan mengatakan, seiring berjalannya waktu, apalagi dengan banyaknya destinasi wisata, maka embung ini juga difungsikan sebagai ikon desa. Embung tersebut kemudian digunakan untuk tempat wisata yang diberi nama Embung Krikilan.
“Embung Krikilan ini kemudian dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Makmur” bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Krikilan,” terangnya.
Embung Krikilan ini mengairi sekitar dua hektar areal pertanian berupa tanah tegalan. Ada puluhan petani yang menggantungkan “harapan”-nya pada embung ini. Tanah tegalan ini ditanami jagung, kedelai, ketela, pisang, cabe, terong, dan sebagainya.
Karena kemarau yang panjang dan kekeringan yang lumayan ekstrim, maka debit air di embung yang panjang dan lebarnya sekitar 200 meter ini sangat berkurang. Meski begitu, di embung itu tetap masih ada airnya, walaupun sedikit. Padahal kalau musim hujan, kedalaman air bisa mencapai sekitar 4 meter, dan penuh.
Kades Krikilan menerangkan, sumber air embung ini sebagian besar adalah dari air tadah hujan. Selain itu, di bagian pojok barat agak selatan dari embung ini juga ada umbul (sumber air)-nya, meski kecil.
“Embung Krikilan ini menampung air hujan dari Gunung Gede dan Gunung Sambi Lencir. Ketika tidak ada embung, air hujan langsung mengalir ke sungai. Airnya langsung hilang, tidak bisa tertampung. Jadi, salah satu fungsi dari embung ini untuk resapan air,” tandasnya.
Menurut Eko, Embung Krikilan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Keberadaan embung penting bagi masyarakat Krikilan.
“Selain sebagai ikon wisata, dan untuk pengairan, kalau tidak embung, maka tanamannya ya kering sekali. Dengan adanya embung, paling tidak bisa membantu kehidupan masyarakat di musim kemarau. Petani bisa panen dua kali setahun,” ucapnya.

Ia menambahkan, Pemdes Krikilan telah melakukan antisipasi untuk menyiasati ketika embung itu kering. Pemdes telah membuat sumur bor, meski baru satu titik. Dan rencananya, sumur bor itu akan ditambah lagi.
“Kedalamannya (sumur bor) 30 meter. Sumur itu bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten. Rencananya, kita akan buat sumur yang lebih dalam lagi, agar air lebih baik dan semakin bersih,” terangnya.
Kades mengatakan, setelah adanya program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), Desa Krikilan sekarang tidak lagi kekurangan air bersih.
Pamsimas ini mulai ada di Krikilan pada tahun 2008. Layanan Pamsimas ini bisa mencapai sekitar 150 kepala keluarga yang tersebar di lima dukuh.
“Alhamdulillah, kita mendapatkan sumber air Pamsimas dari sungai di bawah tanah. Soalnya waktu dibor, itu langsung keluar air. Sekitar tiga meteran. Selama ini alhamdulillah, kualitas airnya masih baik. Tetapi kalau kemarau seperti ini, ya juga agak berkurang. Kita nggak tau, apakah yang menggunakan air itu over, atau bagaimana. Tetapi airnya itu ya cukuplah,” ungkapnya.
Agar warga tidak mengalami kekurangan air, maka Kades Eko berpesan kepada masyarakatnya untuk menanam pohon dan menghemat air .
“Karena ini semakin ke sananya, saya kira dengan pemanasan global akan mengganggu sekali. Karena semuanya sudah beralih fungsi. Air menjadi berkurang, dan suhunya semakin panas. Maka, masyarakat harus sadar untuk menanam pohon, dan terutama menghemat air,” pesannya
Untuk diketahui, Desa Krikilan sudah mendapat Surat Keputusan (SK) Desa Wisata dari Bupati Klaten pada tahun 2022.
“Maka sekarang, lingkungan di sekitar Embung Krikilan semakin kita tata. Selalu dibersihkan, karena untuk menunjang tamu wisatawan. Embung ini untuk outbond, camping, rekreasi keluarga, olahraga (senam bersama), dan sebagainya,” jelasnya.
Pemanfaatan Embung Krikilan

Sedang Divisi Event Organizer (EO) Pokdarwis Krikilan, Rahmat Imam Utama mengakui pentingnya keberadaan Embung Krikilan ini. Sebab selain sebagai salah satu sumber air, Embung Krikilan ini juga sebagai identitas desa. Karena Kecamatan Bayat yang terkenal dengan pegunungannya, ternyata yang punya embung hanya Desa Krikilan.
“Maka kita selalu mengajak masyarakat untuk mari menjaga, memajukan, mempertahankan, embung ini. Embung Krikilan ini punya kita. Kalau (embung ini) maju, semua masyarakat juga bisa maju. Masyarakat bisa berjualan, sehingga roda ekonomi dapat berputar, dan warga akan semakin sejahtera,” paparnya.
Rahmat Imam Utama menjelaskan, selama ini, Embung Krikilan ini juga dimanfaatkan untuk wisata. Untuk pengelolaan wisata, mereka lebih fokus di penggunaan lokasi di sekitar area.
“Biasanya, kegiatannya itu berupa event, seperti senam bersama. Kita mengundang instruktur senam dari luar. Selain itu juga ada family camp, ada kemah dari sekolah, event motor, event movil, event komunitas, dan lain-lain. Karena pada dasarnya, marketing kita adalah komunitas. Maka kita mengundang komunitas-komunitas untuk hadir di sini. Untuk berkegiatan di sini. Ya, selain kita dapat efek atau pemasukan, secara tidak langsung kita dipromosikan secara gratis,” ungkapnya.
Rahmat berharap, Embung Krikilan ini Bisa menjadi sarana rekreasi keluarga dan masyarakat. Warga bisa fishing ground, mancing , nongkrong, dan sebagainya.
Untuk kedepannya, ia berkeinginan, areal Embung Krikilan bisa menjadi sarana edukasi. Karena di sini bisa dibuat paket wisata outbond sekalian cooking class.
“Karena di Desa Krikilan ini ada produk khas singkong. Ada getuk, ada tela, terus ada aloe vera, dan lain-lain. Lha, target kita, kita akan adakan cooking class sekalian outbond. Ini edukasi. Misalnya bagaimana proses bikinnya singkong dan aloe vera, baru kita lanjut outbond,” katanya.
Sementara itu Kepala Seksi Operasional, Pelestarian dan Pemanfaatan Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Klaten, Darwito menjelaskan, di Kabupaten Klaten terdapat puluhan embung yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Pengamatan di lapangan, kondisi embung ini beragam. Ada yang debit airnya masih banyak. Dan ada pula yang airnya tinggal sedikit.









